Penyaluran KUR Sumut Capai Rp1,8 Triliun

Senin, 09/07/2012

NERACA

Medan---Penyaluran kredit usaha rakyat atau KUR di Sumatera Utara pada Mei 2012 meningkat 4,71 % menjadi Rp1,80 triliun dengan debitur 266.153 orang. "Pada bulan April 2012, penyaluran KUR masih Rp1,72 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 266.153 orang, sedangkan pada bulan Mei jumlah penyaluran dan debitur masing-masing naik 4,71 % dan 2,57 %," kata Peneliti Ekonomi Madya Senior Bank Indonesia (BI) Medan, Mikael Budisatrio mengutip Antara, di Medan, Minggu.

Secara nasional, realisasi penyaluran KUR itu hingga Mei 2012 juga naik 3,46 % dibandingkan April atau mencapai Rp33,85 triliun dengan perincian Rp29,11 triliun dari enam bank pelaksana dan Rp4,73 triliun dari bank pembangunan daerah (BPD) seluruh Indonesia.

Menurut Mikael, realisasi penyaluran KUR di Sumut terus naik sejak awal tahun. Pada bulan Maret, misalnya, penyaluran masih Rp1,70 triliun, naik lagi pada bulan April Rp1,72 triliun dan pada bulan Mei sudah Rp1,80 triliun.

Bank Indonesia memang terus mengingatkan perbankan untuk memperbanyak penyaluran KUR sesuai dengan program pemerintah meski tetap mewanti-wanti juga untuk berhati-hati guna menghindari risiko kredit macet.

Mikael mengakui, hingga mendekati semester I 2012, belum ada kebijakan pemerintah untuk memberi sanksi kepada perbankan kalau tidak menyalurkan KUR sesuai dengan plafonnya.

Akan tetapi, lanjut Mikael, masing-masing bank yang ditunjuk jadi pelaksana dipastikan berupaya menunjukkan kinerja yang baik dan dipercaya dengan menyalurkan KUR itu kepada debitur yang kapabel.

Pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga, mengatakan bahwa perbankan harus proaktif menyalurkan KUR karena selain program pemerintah juga bisa mendorong perekonomian nasional di tengah dampak krisisi global yang masih dirasakan. "Kalau dewasa ini belum ada sanksi, sudah seharusnya Pemerintah memikirkan perlunya ada peringatan kepada bank yang tidak menyalurkan kredit sesuai dengan plafon," tambahnya

Alasan pemberian sanksi itu mengingat UKM sudah terbukti mampu membantu perekonomian nasional dengan tetap bisa bertumbuh pada saat krisis moneter 1997/1998 dan global yang berlangsung hingga dewasa ini sehingga sudah sewajarnya mendapat perhatian penuh. **cahyo