Industri Animasi RI Mulai Dilirik Pasar Ekspor

NERACA

Batam - Industri animasi yang masuk ke dalam Industri kreatif saat ini sudah sangat berkembang pesat, dan menyumbangkan 7% ke Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Bahkan, saat ini industri animasi mulai dilirik dan dipesan pasar luar negeri.

“Pesanan mengalir karena kemampuan para animator nasional bisa diandalkan. Untuk animasi, sejumlah studio kita sudah mulai menerima pesanan dari Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa,” ungkap Menteri Perindustrian MS Hidayat, saat melakukan kunjungan kerja di Batam, akhir pekan lalu.

Lebih jauh lagi Hidayat memaparkan industri film animasi di Hollywood AS mengakui kemampuan animator Indonesia. Lantaran itu, pengguna produk animasi di Tanah Air harusnya lebih berpihak pada karya-karya anak bangsa. Sehingga industri kreatif, khususnya animasi film, lebih berkembang dan dikenal luas di dalam negeri. "Dari aspek kemampuan sumber daya manusia, para animator Indonesia lebih unggul dibanding Malaysia," katanya.

Di tempat yang sama, CEO Infinite Studios PT Kinema Systrans Multimedia, Mike Wiluan mengharapkan bantuan dari pemerintah di bidang edukasi, training sumberdaya manusia dan edukasi.

Dia juga berharap adanya memberikan insentif fiskal sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan industri tersebut.Pasalnya insentif tax holiday yang diterbitkan dinilai belum mampu menjangkau industri animasi dan industri kreatif lainnya.

Hal itu disebabkan persyaratan untuk memperoleh insentif itu dinilai terlalu memberatkan dan rumit, terutama persyaratan investasi sebesar Rp1 triliun. "Investasi industri kreatif, contohnya animasi, tidak begitu besar. Yang paling dibutuhkan adalah kreativitas. Oleh karena itu, investasi sebesar itu tidak akan bisa dipenuhi pelaku industri," katanya.

Oleh karena itu, menurut Mike, pihaknya meminta pemerintah memberikan kelonggaran kepada pelaku industri yang ingin memperoleh insentif. Dia menegaskan saat ini industri kreatif belum menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, Indonesia memiliki sejumlah potensi untuk menjadikan industri kreatif sebagai pendongkrak ekonomi bangsa, mulai dari sumber daya manusia dan keberadaan perguruan tinggi.

Pertumbuhan Industri Animasi

Menurut dia, industri kreatif terdiri dari berbagai bidang, seperti animasi, film, game, dan industri kreatif lainnya. Kondisi tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dia mencontohkan Malaysia memberikan insentif tax holiday 5-10 tahun, kemudahan pengadaan peralatan, dan subsidi biaya produksi.

Pasalnya, kata dia, tidak mungkin apabila Kinema sendiri yang mendorong pertumbuhan industri animasi. Saat ini, kata dia, ada 50-100 studio serupa di Indonesia. Dia mengklaim Kinema mempunyai studio terbesar di Asia Tenggara.

“Industri kami teknologi tinggi. Indonesia punya kemampuan sangat luar biasa. Berbagai film animasi yang kita tonton saat ini dikerjakan di Batam, seperti Garfield. Industri kreatif butuh dukungan untuk menciptakan kreatifitas pelaku. Ini tantangan yang harus kita hadapi bagaimana kembangkan SDM untuk lebih maju lagi,” jelasnya.

Namun, tegasnya, saat ini masih sulit untuk mengangkat lokal konten untuk diangkat ke kancah internasional karena sejumlah faktor terutama pendanaan. Dia menuturkan, pihaknya akan berupaya untuk melakukan pendekatan dengan lembaga penyiaran Indonesia agar bisa menemukan sebuah solusi. “Kita harapkan bisa bantu bangun karakter nasional,” ucapnya.

Dia menyebutkan, biaya produksi untuk satu episode selama 30 menit di Kanada US$300.000, Korea Selatan US$150.000, China US$85.000, sedangkan di Indonesia antara US$65.000-US$85.000. Kunjungan kerja Menperin tidak sampai disitu saja,setelah mengunjungi Infinite Studios PT Kinema Systrans Multimedia,Menperin mengunjungi PT Citra Tubindo Engineering yang bergerak di sektor pembuat kilang minyak lepas pantai.

Menurut Dirut PT Citra Tubindo Engineering, Chris Wiluan mengungkapkan Industri penunjang non migas diharapkan terus merangsek pasar yang bisa digarap. Setelah menyelesaikan order Total Indonesia senilai US$ 62,3 juta, Conoco Philiph US$ 24,7 juta dan Chevron US$ 16,2 juta kini CTBN akan menyelesaikan garapan proyek dari Exxon Mobil, Cepu berupa kontak pengeboran rig senilai US$ 100 juta lebih. “Kami akan menyelesaikan proyek rig Exxon Mobil di Cepu ini pada 2012 ini,” ungkapnya.

Lebih jauh Chris mengungkapkan banyak order yang masuk ke Citra Tubindo karena kemampuan yang dimiliki perseroan saat ini sangat memadai. “Dalam hal kapasitas terpasang, Citra Tubindo tidak diragukan lagi. Perseroan bisa melakukan lebih dari yang ada,” urainya.

Krisis Amerika dan Eropa ternyata tidak berdampak pada kinerja perseroan. Pasalnya, ekspor selama ini tidak ada yang dilakukan dengan negara-negar di AS dan Eropa. "Pasar ekspsor kami di Asia dan saat ini masuk ke negara-negara Arab," imbuhnya.

Chris Wiluan, juga mengatakan,memproyeksikan pendapatan hingga akhir tahun mencapai US$ 250 juta. Kenaikan pendapatan terutama ditopang estimasi pertumbuhan penjualan pasar domestik sebesar 65% menjadi US$ 180 juta di 2011. Untuk pasar ekspor diprediksi turun 33% menjadi US$ 70 juta.

Tidak terbuai dengan apa yan telah dicapai, Citra Tubindo terus memanfaatkan setiap peluang yang ada. Untuk memperkuat pasar, perseroan telah mendirikan anak usaha di Australia yakni Citra Tubindo Australia Pty. Ltd.Secara resmi, seluruh saham anak perusahaan di Australia ini dimiliki oleh Citra Tubindo (International) Ptd. Ltd., anak usaha Citra Tubindo yang berkedudukan di Singapura. Anak perusahaan ini akan bekerja di bidang perdagangan pipa baja untuk perusahaan minyak gas bumi di Australia.

Related posts