Seruan Indonesia untuk Ekonomi Dunia

Senin, 09/07/2012

Oleh : Prof. Firmanzah, PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Dalam KTT G-20 di Los Cabos Meksiko, 17-19 Juni 2012, Presiden SBY bersama dengan Presiden Meksiko dan President Chile menandatangani deklarasi Financial-Inclusion. Deklarasi ini merupakan pernyataan dan komitmen Indonesia terkait dengan perluasan akses pembiayaan terhadap unit usaha mikro, kecil dan menengah. Pernyataan ini menjadi penting di saat dunia sedang mencari solusi atas krisis yang terjadi di Eropa dan pemulihan ekonomi di AS.

Belajar dari sejumlah krisis yang disebabkan oleh mis-management korporasi besar dan persoalan ketimpangan pendapatan, maka keberpihakan kepada micro-financing menjadi strategis. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat perlu melihat arti penting pembiayaan sektor mikro, kecil dan menengah. Sektor inilah yang sebenarnya membuat ekonomi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara berkembang seperti Meksiko, Chile, Brasil, India bahkan China dapat bertahan dari imbas krisis ekonomi dan keuangan global.

Peran sektor mikro, kecil dan menengah tidak hanya untuk menyerap lapangan kerja tetapi juga secara makro dapat menjaga serapan produk yang dihasilkan. Dengan penyerapan tenaga kerja dan unit usaha baru membuat terjaganya daya beli masyarakat. Sehingga tingkat konsumsi di suatu negara akan tetap terjaga. Oleh karena itu, peran dan kontribusi sektor ini perlu menjadi perhatian pemimpin dunia disaat korporasi besar di Eropa dan Amerika Serikat banyak melakukan pengurangan tenaga kerja.

Indonesia sendiri secara aktif mengembangkan sejumlah layanan dan skema pembiayaan untuk usaha mikro, kecil dan menengah. Pada semester I/2012, skema kredit usaha rakyat (KUR) telah tersalurkan Rp 14,43 triliun (48,1%) dari target sebesar Rp 30 triliun di tahun ini. Skema bantuan pembiayaan untuk usaha mikro, kecil dan menengah juga ditopang oleh sejumlah program PKBL BUMN dan CSR perusahaan swasta.

Selain itu juga, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia secara aktif melakukan program pendampingan dan pembekalan baik wirausaha muda dan para pekerja di sektor ini. Indonesia memberikan lesson-learned kepada dunia bagaimana keterkaitan antara usaha besar dengan usaha mikro, kecil dan menengah dapat terjadi.

Diharapkan ke depannya, keberhasilan Indonesia untuk menyeimbangkan kontribusi antara usaha besar dan usaha mikro-kecil-menengah dapat menjadi model pembangunan kedepan. Financial Inclusion yang disuarakan Indonesia dalam forum G-20 merupakan salah satu pilar untuk revitalisasi peran dan kontribusi usaha mikro-kecil-menengah.

Akses pembiayaan kepada sektor ini diyakini dapat memitigasi dampak krisis ekonomi dan keuangan dalam tataran riil di masyarakat. Keluar dari paradigma dikotomis antara besar-mikro dibutuhkan oleh para pemimpin dunia agar komitmen terhadap kewirausahaan dapat terbangun. Karena yang dibutuhkan justru sinergi dan keterkaitan antara kedua jenis usaha tersebut untuk menanggulangi dampak krisis keuangan global.