Islam Moderat Respon Masalah Ekonomi dan Sosial

Senin, 09/07/2012

Islam Moderat Respon Masalah Ekonomi dan Sosial

Jakarta--Konflik-konflik bernuansa agama, baik di internal umat Islam maupun non muslim terjadi hampir diberbagai daerah. Karena umat Islam harus lebih banyak menerapkan konsep dan pemahaman Islam yang moderat, yang menghargai bukan saja aliran lain di dalam Islam, tetapi juga umat beragama lain. Awal konflik bisa saja dari gejolak sosial ekonomi. Namun merembet ke masalah sektarian.“Jadi jika pemahaman Islam yang moderat atau lebih sering disebut moderasi Islam, gesekan maupun konflik tidak akan terjadi. Karena itu, konsep Islam yang moderat harus lebih kokoh menghujam di bumi Indonesia,” ujar Dr. Zainul Majdi, Sabtu (7/7), disela pertemuan yang disebut “Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam” yang diadakan alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Zainul yang kini menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu lebih lanjut mengatakan, kokohnya pemahaman moderasi Islam akan berimbas pada prilaku umat yang menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. “Inilah yang dibutuhkan umat saat ini di tengah perubahan perubahan sosial yang dahsyat,” tambahnya.

Selaku alumni dan panitia Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam, Zainul menyatakan, hasil penelitian alumni Al Azhar yang tersebar diseluruh tanah air, menemukan fakta bahwa masalah terkait pemahaman dan implementasi Islam yang kurang moderat, menyebabkan munculnya benih-benih konflik. Karena itu, alumni Al Azhar menegaskan perlunya pemahaman dan implementasi lebih jauh mengenai moderasi Islam.

Lebih lanjut Zainul mengatakan, forum ini menjadi ajang silaturahim para alumni Al Azhar dan sharing tentang berbagai persoalan menyangkut pemahaman agama dan sumbangsih para alumni bagi kemajuan umat dan bangsa.

Menjawab pertanyaan langkah yang harus dilakukan ulama dan tokoh masyarakat untuk meredakan ketengangan dan menyelesaikan konflik bernuansa agama, gubernur termuda ini menyarankan para ulama dan tokoh masyarakat untuk lebih nyaring menyuarakan pentingnya moderasi Islam dan mengeliminir paham-paham kebebasan tanpa batas, klaim paling benar dan fitnah serta menyalahkan pihak lain.

Dua Tantangan Islam

Acara Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam diikuti 350 tokoh alumni Al-Azhar dari berbagai daerah di Indonesia dan utusan dari Universitas Al-Azhar Mesir itu dibuka Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali. Dalam pidatonya, Menag menekankan pentingnya pemahaman dan implementasi moderasi Islam.

Dalam kaitan itu, dia mengungkapkan dua tantangan besar Islam Indonesia, yakni kecenderungan kelompok yang makin ekstrim, yang menganggap dirinya paling benar dan seringkali menyalahkan pihak lain. Kedua, kecenderungan umat Islam yang makin longgar dan makin tunduk pada budaya barat, sehingga nilai-nilai Islam terkubur. “Dalam konteks inilah pentingnya pembahasan sekaligus pemahaman dan praktik moderasi Islam agar posisi umat Islam tetap berada di tengah atau moderat,” kata Suryadharma Ali. **cahyo