Sistem Resi Gudang Jaga Harga Komoditas Pasca Panen

Senin, 09/07/2012

NERACA

Cianjur - Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan instrumen integral yang bermanfaat bagi pemberdayaan petani, khususnya dalam menjaga harga komoditi pasca panen, sekaligus menjawab kebutuhan pembiayaan pada masa tanam. Resi Gudang adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan pengelola gudang dengan disertai jaminan keamanan bagi perbankan. Sebab semua data tercatat di pusat registrasi dan diawasi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Mengingat harga komoditas pangan berpengaruh sebesar 60% terhadap tingkat inflasi nasional, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjelaskan, pengembangan SRG di berbagai wilayah bisa mengendalikan ketersediaan dan kelancaran distribusi pangan sehingga tingkat inflasi bisa tetap dijaga. Maka, SRG bisa menjadi instrumen dalam mengendalikan inflasi Indonesia.

"Pemerintah saat ini sedang merancang SRG sebagai salah satu instrumen pengendali inflasi di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, SRG juga bermanfaat bagi petani sebagai upaya mendapatkan harga terbaik dengan menahan penjualan produk pada saat musim panen raya karena harga yang cenderung rendah,” terangnya saat kunjungan kerja ke gudang SRG Warung Kondang di Cianjur, akhir pekan kemarin (6/7).

Solusi Pembiayaan

Nantinya SRG, lanjut Gita, dapat menjadi alternatif solusi pembiayaan sebagai pendanaan dan penjaminan kredit bagi kelompok tani dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sering mendapat kendala pembiayaan karena sebelumnya tidak memiliki aset tetap sebagai agunan.

Dengan SRG tersebut dia juga berharap dapat memberdayakan perekonomian berbasis sektor riil. "Dengan demikian lambat laun petani UKM tidak hanya sebagai petani produsen tetapi petani bisnis yang dapat memprediksi kapan harus menahan atau menjual hasil produksinya dengan harga terbaik dan keuntungan yang optimal,” jelasnya.

Berdasarkan Undang-Undang No. 9/2011 tentang Perubahan Atas UU No. 9/2006 Tentang Resi Gudang, Resi Gudang sebagai dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang dapat diperjualbelikan dan dijadikan agunan sepenuhnya tanpa dipersyaratkan adanya agunan lain sehingga petani UKM dapat memperoleh biaya dengan menjadikan SRG sebagai jaminan. Keberadaan Resi Gudang sendiri dibangun bersumber dari APBN.

Gita berharap jika SRG telah membudaya di sejumlah sentra produksi di Indonesia maka pemerintah dapat memanfaatkannya untuk memantau stok bahan kebutuhan pokok nasional sekaligus menetapkan berbagai kebijakan maupun sarana pengendalian harga.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Erik Satrya Wardhana menjelaskan melalui Resi Gudang, petani dapat menyimpan hasil panennya dan mengambil kembali saat dibutuhkan atau disaat harga membaik. Selama ini, biasanya pasca panen harga komoditas pertanian turun. “Dengan demikian, akses pembiayaan dengan mekanisme mudah, dapat diperoleh petani serta UKM berbasis pada sektor pertanian," terangnya.

Sementara, Kepala Bappebti Syahrul R. Sempurnajaya mengatakan Bappebti telah melakukan upaya strategis untuk mempercepat pelaksanaan SRG. Upaya tersebut antara lain melakukan kerjasama dengan 14 pemerintah di daerah guna membangun gudang flat di 14 kabupaten di 11 provinsi dengan total kapasitas 21 ribu ton.

Gudang SRG

Bappebti telah membangun 41 gudang SRG di 34 kabupaten di 10 provinsi serta mendirikan 11 gudang flat di 11 kabupaten. Kemudian, melengkapi gudang dengan mesin pengering serta kelengkapannya yang berupa alat uji mutu gabah dan komputer. Dijelaskan Direktur Industri Agro PT Pertani Ahmad Mawardi, masing-masing gudang berkapasitas 1000 hingga 3000 ton gabah kering tersebut akan dibangun lagi sebanyak 20 gudang yang tersebar di Indonesia.

Pertani mencatat pada tahun 2012 hingga bulan Juni, sebanyak 166 resi gudang yang dikeluarkannya bernilai Rp35 miliar dengan keseluruhan 8.000 ton gabah kering. Adapun biaya penitipan di gudang penyimpanan dengan menggunakan SRG ini adalah sebesar Rp25 per kg per bulannya. “Beberapa kelompok petani menginginkan biaya tersebut disubsidi oleh Pemerintah, tapi sedang diusahakan biaya tersebut diringankan,” ujar Ahmad.

Menurut dia, para kelompok petani sering tidak mau pusing memikirkan biaya-biaya yang akan ditanggungnya, rata-rata mereka ingin terima beres. Padahal, banyak keuntungan yang didapatkan para petani dengan menyimpan gabah keringnya melalui SRG, terutama menghindari tengkulak. “Sebenarnya, dengan adanya gudang dengan SRG, petani lebih diuntungkan banyak, mereka bisa tunda jual saat harga gabah sedang turun. Begitu harga naik mereka bisa menjualnya dengan kualitas yang baik, karena gudang SRG menjaga kualitas gabah dengan kadar air maksimum di 14%,” terang Ahmad.

Sehingga, kekhawatiran petani menjual teralu cepat karena takut kualitas gabah menurun apabila disimpan terlalu lama, sebab disaat itu harga akan anjlok. Maka, gudang SRG merupakan solusi bagi petani untuk melakukan pengaturan kapan harus menjual gabahnya atau menunda hingga keperluannya terpenuhi.