Siapkan Rp270 Miliar, Toba Bara Genjot Produksi 7,6 Juta Ton

Ekspansi Empat Tambang Baru

Senin, 09/07/2012

NERACA

Jakarta - Perusahaan tambang batu bara, PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA), menargetkan produksi batu bara perseroan hingga 7,6 juta ton sampai akhir tahun ini. Angka tersebut meningkat 45,59% dari produksi perseroan tahun lalu, yang tercatat sebanyak 5,22 juta ton.

Direktur Utama TOBA, Justarina Naiborhu menuturkan, untuk mencapai target itu, perseroan bakal menggenjot produksi tiga anak usahanya, yakni PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Indomining, dan PT Trinesa Mineral Utama. Saat ini, hampir seluruh produksi batu bara TOBA diekspor ke negara-negara Asia Timur seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.

"Sekitar 90% batu bara kami diekspor ke negara Asia Timur dan sisanya ke dalam negeri," kata Justarina di Jakarta, (Jumat 6/7) pekan lalu. Selain itu, perseroan juga menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp270 miliar pada 2012. Sebesar Rp135 miliar akan digunakan untuk eksplorasi dan meningkatkan produksi perseroan.

Kemudian, belanja modal juga akan digunakan untuk pembebasan lahan serta pengeboran di daerah-daerah di Kalimantan Timur, yang memang basis utama kegiatan eksplorasi dan eksploitasi batu bara perseroan.

Sementara itu, Direktur Keuangan TOBA, Pandu Sjahrir menambahkan, perseroan berencana mengakuisisi 3-4 lahan tambang, dari total 10 tambang batu bara di Kalimantan Timur. Namun sayang, dirinya masih enggan menyebutkan nama lahan tambang tersebut.

Dia menegaskan, salah satu syarat akuisisi lahan tambang perseroan adalah harus dekat dengan lahan tambang perseroan yang lama di Kalimantan Timur. Selain itu lahan tambang tersebut harus sesuai dengan kapasitas infrastruktur perseroan sebesar 15 juta ton.

Kemudian, jumlah cadangan batu baranya 10-20 juta ton (full mining) dan harus JORC (joint ore reserves committee). JORC adalah alat untuk membantu geologist untuk menyampaikan risiko yang dihadapi dalam proyek tambang kepada pembuat keputusan finansial yang tidak mengerti geologi.

Pandu melanjutkan, jika perkiraan sumber daya berdasarkan data yang lemah atau tidak cukup maka risikonya tinggi. Data yang dapat dipercaya dan banyak akan menghasilkan risiko yang kecil dan perhitungan sumber daya yang akurat.

Pasalnya, perseroan juga menginginkan lahan tambang yang aka diakuisisi memiliki kalori sebesar 5.200-5.800 kkal per kg. Menurut Pandu, untuk melakukan akuisisi tambang ini perseroan membutuhkan dana pihak ketiga atau pinjaman. Hal ini mengingat untuk mengakuisisi lahan 20 juta ton saja dibutuhkan dana sekitar US$80 juta.

Incaran Singapura

Direktur PT Mandiri Sekuritas, Iman Rachman mengatakan bahwa Baring Private Equity Asia Pte Ltd menjadi anchor investor atau menjadi pembeli terbesar perdana saham TOBA. Perusahaan investasi asal Singapura ini menempatkan dananya sebesar US$5 miliar atau Rp50 triliun.

Iman juga menjelaskan, keberadaan Baring di perseroan cukup baik untuk menarik investor lainnya. Menurut dia, investasi di TOBA ini sekaligus menjadi investasi terbesar Baring di Indonesia. Memang, selama masa penawaran, untuk nasabah pooling telah terjadi oversubscribed sebanyak 13,5 kali atau 1.500%.

Sebelumnya, TOBA juga melakukan revisi terhadap jumlah saham yang dilepas ke publik dari sebelumnya 15% atau sekitar 317,9 juta saham menjadi 10,5% atau 210,68 juta saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Alhasil, harga IPO yang diperoleh hanya Rp400,29 miliar.

Adapun rencana penggunaan dana IPO, sekitar 26,1% untuk membayar fasilitas pinjaman ke BNP Paribas, 52,5% untuk membiayai belanja modal terkait kegiatan pertambangan, infrastruktur, dan pengembangan fasilitas penunjang di area konsesi perseroan di anak perusahaan.

Selain itu, sekitar 21,4% untuk membiayai akuisisi konsesi pertambangan dan atau membiayai modal kerja dan atau mendanai kegiatan eksplorasi pada area konsesi perseroan. Sepanjang 2011, total produksi batu bara TOBA mencapai 5,22 juta ton atau naik 33% dari tahun sebelumnya yang hanya 3,92 juta ton.

Untuk laba bersih mencapai Rp1,04 triliun atau melonjak 100% dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp518,76 miliar. Harga saham perdana TOBA ditutup naik 11,84% ke level Rp2.125 per saham dari harga saham perdana Rp1.900 per saham pada perdagangan saham Jumat (6/7). Perseroan melepas 210,68 juta saham dengan nilai nominal Rp200 per lembar. [ardi]