Debar Jantung Yang Tidak Beraturan

Gejala Fibrilasi Atrium

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Debar jantung yang tidak beraturan dan seringkali berdegup kencang tanpa alasan tertentu, bisa jadi pertanda gejala Fibrilasi Atrium. Risiko terjadinya stroke pada penderita fibrilasi atrium setiap tahunnya terus bertambah.

Spesialis penyakit dalam dan jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, MPH, SpJP(K), FIHA, Kamis (05/07) mengatakan, Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang tidak beraturan dan faktor risiko kematian pada penderita stroke.

Ia mengatakan di Indonesia, “stroke merupakan penyebab kematian tertinggi untk kategori penyakit tidak menular dan saat ini penderita meningkat tajam,” tuturnya.

Menurut dia, satu dari tiga pasien fibrilasi atrium akan mengalami serangan stroke setidaknya sekali dalam hidupnya jika tidak diobati, namun masih banyak pasien fibrilasi atrium yang belum mendapatkan penanganan yang efektif dan optimal untuk mencegahnya.

“Padahal jumlah penderita fibrilasi atrium terus meningkat dan diperkirakan akan bertambah 2,5 kali lipat pada tahun 2050," tuturnya.

Fibrilasi atrium bertanggung jawab atas sekitar 15%-20% dari keseluruhan insiden stroke dan risiko terjadinya stroke pada pasien fibrilasi atrium setiap tahunnya bertambah 3%-4%. Meski secara global hipertensi menyadi penyebab terbesar kejadian stroke mencapai 40%.

Menurut dia, risiko terjadinya stroke pada penderita Fibrilasi Atrium lebih tinggi dibandingkan dengan risiko stroke pada penderita hipertensi. Penderita Fibrilasi Atrium memiliki risiko lima kali lipat, sedangkan risiko stroke pada penderita hipertensi mencapai tiga kali lipat.

Dia mengatakan, saat terjadi stroke pasien Fibrilasi Atrium akan mengalami serangan yang lebih parah dengan prognosis pasca stroke yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita Fibrilasi Atrium.

Hal ini dikerenakan stroke yang menyerang pasien Fibralasi Atrium umumnya adalah stroke kardioeboli, yaitu stroke yang disebabkan oleh penyumbatan di dalam jantung, yang kemudian pecah dan terjebak dalam pembuluh arteri besar di otak.

“Penyumbatan pembuluh arteri besar di otak mengakibatkan stroke dan kerusakan yang lebih parah jika dibandingkan dengan penyumbatan arteri kecil pada jenis stroke lainya,” tuturnya.

Pada saat ini pasien terdiagnosa dengan Fibrilasi Atrium, pada umumnya mereka mendapatkan terapi anti koagulasi generasi lama yang terbukti efektif untuk mengurangi risiko stroke.

“Sayangnya seringkali kepatuhan pengobatan jangka panjang menjadi kurang optimal karena antikoagulan tradisional membutuhkan kontrol darah dan penyesuaian dosis terus menerus, pasien harus menjalani diet khusus, serta adanya kekhawatiran terjadinya interaksi obat,” tuturnya.

Untuk itu, antikoagulan yang baru harus dapat melengkapi kekurangan dari produk-produk yang sudah tersedia sebelumnya, dan berdasarkan hasil penelitian, Rivaroxaban memenuhi persyaratan ini, tuturnya.

Pasien Fibrilasi Atrium telah menunggu selama lebih dari 50 tahun untuk mendapatkan pilihan pengobatan baru berupa antikoagulan generasi terkini dengan berbagai keunggulan yang tidak dimiliki terapi standar sebelumnya.

Dia setuju bahwa Rivaroxaban untuk pencegahan stroke terkait Fibrilasi Atrium menawarkan perlindungan yang praktis dan lebih banyak lagi pasien di Indonesia. Selain efektif dan lebih aman, obat ini cukup diminum satu kali sehari dan tidak perlu dimonitor terus menerus, sehingga kepatuhan berobat dapat terjaga dan risiko stroke dapat dicegah secara maksimal.