Kuras APBN, Negara Tak Mampu Biayai JSS

ANGGARAN PROYEK BENGKAK JADI Rp225T

Jumat, 06/07/2012

Jakarta - Rencana pembiayaan pembangunan Megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS) terus membengkak dan bisa menguras APBN. Bahkan Bappenas memperkirakan mencapai Rp225 triliun. Padahal awalnya hanya dianggarkan sekitar Rp100 triliun.Sementara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain mendukung pembangunan megaproyek tersebut.

NERACA

“Melihat nilai dana yang dibutuhkan dalam pembangunan jembatan ini, untuk sampai saat ini tidak ada kemampuan negara dalam membiayai pembangunan tersebut,” kata mantan ketua umum Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) HM Malkan Amien kepada Neraca,Kamis (5/7)

Menurut anggota Komisi V DPR ini, dengan biaya anggaran pembangunan JSS yang mencapai Rp 225 triliun. Maka seharusnya melihat terlebih dahulu kemampuan negara dalam masalah pembiayaan jembatan ini.

Namun demikian, menurut dia, sampai saat ini belum ada keputusan anggaran untuk pembangunan JSS ini dibiayai oleh APBN maupun dari murni swasta. Seharusnya pembahasan anggaran JSS ini diserahkan kepada pengusaha nasional dan bermitra dengan pihak asing. “Anggaran yang dibiayai oleh pengusaha ini harus berpatokan kepada sistem business to business dan tidak ada kepentingan tertentu dibalik pembiayaan jembatan ini,” ujarnya.

Lebih jauh kata Malkan, ide pembangunan JSS merupakan ide bagus. Karena akan mendukung mobilisasi barang dan manusia yang akan terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan JSS ini maka ada waktu yang cepat dalam transaksi perekonomian. “Tapi melihat biaya yang tinggi. Lebih memperbaiki dahulu, jaringan jalan di seluruh Indonesia yang mencapai anggaran Rp 100 triliun. Hal ini saja negara belum mempunyai kemampuan dalam segi anggaran apalagi membangun jembatan ini,” jelasnya.

Malkan mengakui idak begitu mengetahui perkembangannya dalam perencanaan JSS. Alasanya perencanaannya belum masuk ke DPR. Namun demikian proyek JSS ini perlu mendapat dukungan “Kita harus mendukung penuh dalam pembangunan diserahkan kepada pihak swasta dimana pengusaha dalam negeri bersama investor asing bekerjasama dalam berinvestasi,” ungkapnya.

Dukungan AS

secara terpisah, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel menyambut baik ketertarikan invesor Negeri Paman Sam di proyek JSS. "Saya sangat senang dengan adanya investor Amerika yang tertarik ikut serta dalam Jembatan Selat Sunda. Tentu itu mendorong investasi Amerika di Indonesia," ungkap Scot di Menteng, Jakarta, Kamis (5/7).

Tetapi Scot tidak mengetahui, Investor yang tertarik ikut serta dalam pengembangan JSS yang saat ini masih menuju proses feasibility study (FS). "Saya tidak mengetahui lebih jauh siapa investor yang tertarik pada pengembangan proyek JSS tersebut," katanya.

Scot menegaskan bahwa pemeritah AS tidak ambil bagian dalam mega proyek tersebut. Scot menjelaskan, fokus pemerintah AS yaitu sebatas mendukung pengembangan infrastrukur dan bisnis yang dapat menguntungkan kedua negara.

Selain investor AS, ada juga investor dari China, Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang juga tertarik pada pembangunan kawasan strategis dan infrastruktur Selat Sunda (KSISS) atau JSS.

Namun informasi PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS), yang merupakan konsorsium Artha Graha dan Pemda Lampung-Banten, menyebutkan beberapa nama calon investor yang berasal dari AS. Mereka adalah Embassy of USA, US Exim Bank, TY Lin Int., AECOM dan Fugro Mc Leyland.

Sementara itu, Pakar Transportasi UGM, menilai harus ada study kelayakan yang komprehensif dari semua aspek. “Pertama harus studi kelayakan terlebih dulu, mulai geologi, geografis, faktor angin, kontur tanah dan resiko alam lainnya harus dipertimbangkan,” tegasnya kepada Neraca,5/7

Yang kedua, kata Guru Besar UGM ini, adalah jenis jembatan yang akan dibangun. “Apakah itu jembatan gantung, jembatan kabel atau teknologi jembatan lainnya dikombinasikan. Masalahnya, Itu belum keliatan, teknologi jembatan mana yang akan digunakan, makanya diperlukan studi kelayakan terlebih dahulu,” tuturnya.

Saat diberapa anggaran ideal biaya studi kelayakan, Danang memperkirakan dua atau tiga persen. “Biasanya kisaran 2-3% dari realisasi biaya konstruksi, tapi tergantung nanti pengembangannya,” tegasnya

Didesak mengapa biaya JSS jadi membengkak, kata Danang, awalnya memang US$15 miliar. Karena studi banding dengan jembatan yang di luar negeri yang sudah ada. “Kalau ternyata biaya menjadi meningkat, bisa jadi itu ada faktor untuk pengembangan wilayah untuk daerah tersebut. Selain itu, ada juga faktor diluar fisik dari konstruksi, misalnya asuransi agar diyakini jembatan itu tahan untuk jangka panjang, dan mengantisipasi resiko,” ungkapnya.

Tapi yang jelas, lanjut Danang, perkiraan biaya trafik jembatan tersebut bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000. “Kisaran Rp200-300 ribu masih masuk, tergantung dari berapa banyak kendaraan yang melalui jembatan tersebut. Kalau banyak mungkin bisa ditekan, kalau banyak ya pastinya mahal,”imbuhnya.

Sedangkan ekonom EC Think, Telisa Falianti mendukung pembangunan atau pelebaran pelabuhan beserta armada kapal ferry. Alasanya, selain biayanya di bawah harga investasi JSS senilai Rp225 triliun juga dinilai lebih efektif dalam mengatasi masalah inter konektivitas antarpulau. “Jangka pendeknya, perlebar pelabuhan atau bangun pelabuhan baru. Karena masalah klasik kita selama ini, diantaranya, tak bisa menampung kendaraan yang banyak. Dan juga kapasitas dan jumlah kapal ferry yang kurang memenuhi syarat,” ujar Telisa kemarin.

Dia lalu mencontohkan Thailand yang berhasil mengembangkan pelabuhan sehingga lebih kompetitif. Di sisi lain, pembangunan JSS juga sangat bermanfaat bagi perekonomian Indonesia, namun untuk jangka panjang. Pasalnya, pembangunan jembatan ini adalah bagian dari MP3EI. “Tolok ukurnya, jalur distribusi barang dan jasa jadi lebih cepat jika dibandingkan jalur laut. Jadinya ada nilai tambah. Apalagi, aktifitas ekonomi di Jawa dan Sumatera sangat erat dan cukup padat,” ulasnya.

Akan tetapi, lanjut dia, masih banyaknya hambatan seperti cost yang masih tinggi dan secara geologi belum aman. Mengenai angka yang mencapai Rp225 triliun, dinilai Telisa wajar karena hanya 12,5% dari APBN yang sebesar Rp1.600 triliun. “Kalau dilihat secara geologi, kajiannya belum mendalam sebab belum tahu apakah nanti jembatan ini akan mampu tahan gempa atau tidak. Jadinya belum bisa dibilang aman,” ungkap Telisa.

Tak hanya itu saja. Dari sisi benefit cost analysis-nya juga belum jelas meskipun pemerintah sudah memiliki hitung-hitungan. “Maksudnya, keuntungan tak hanya dari sisi operasional saja tapi secara makro seperti aktifitas masyarakat kedua pulau ini bagaimana. Itu harus jadi perhatian pemerintah,” imbuhnya

Ditempat terpisah, Wakil Menteri PPN/ Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengakui investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan JSS bisa membengkak sampai Rp225 triliun. Pasalnya, dana itu tidak hanya digunakan untuk membangun jembatan itu saja, tetapi juga untuk pengembangan kawasan Sumatera. "Ini fleksibel (dananya) itu tidak hanya bicara tentang jembatan saja tetapi tentang investasi. Awalnya memang US$15 miliar, tapi ini semua masih kajian feasibility study (FS) belum ada. Jadi FS-nya kita kaji terus mendalam sampai kita dapat yang paling baik," ujarnya

Lukita menyebut, pembangunan JSS adalah proyek pembangunan infrastruktur yang besar dan memiliki dampak besar bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, Bappenas bersama Kementerian Koordinator Perekonomian akan terus melihat semua alternatif pembangunan JSS. "Kita lihat kembali, itu investasi besar dan panjang dan perlu berbagai masukan. Tentunya, kalau kita perlu bicara juga tidak hanya membangun infrasruktur jalan, kita bangun semua. Kalau hanya jalan, pengembalian investasi lama, jadi kita kembangkan koridor di Jawa secara bersama-sama dengan Sumatera," tambahnya.

Namun, ketika ditanya sikap Bapenas terkait dengan sistem pembangunan JSS ini, Lukita enggan menjawab. "Kita enggak ada untung rugi pada akhirnya. Ini ada opsi baru dan kita kaji bersama bisa saja ini lebih baik, jadi kita kaji bersama. Waktu itu opsinya bagaimana membangun, ada masukan baru, ya kita tunggu aja, apa ditunjuk apa dikerjakan pemerintah," tandasnya.

Berdasarkan buku Public Private Partnership Proyek Infrastruktur di Indonesia yang dikeluarkan Bapenas, proyek JSS ini diperkirakan menelan dana sampai USD25 miliar atau Rp225 triliun yang ditargetkan konstruksi awalnya akan mulai di 2015 dan beroperasi 2025.

Jembatan yang menghubungkan Jawa-Sumatera sepanjang 27,4 kilometer ini rencananya akan digarap pihak konsorsium melalui PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) yang telah membuat Pra-Studi Kelayakan Jembatan Selat Sunda dan telah diserahkan pada Gubernur Banten, Lampung dan pemerintah pusat pada 13 Agustus 2009. Berikut rencana Ukuran dan Kapasitas Jembatan Selat Sunda. Lebar jembatan 60 meter, 2x3 jalur lalu lintas raya, 2x1 jalur darurat, lintasan ganda (double track) rel kereta, pipa gas, pipa minyak, kabel fiber optik cable, juga kabel listrik. novi/mohar/ardhi/ria/cahyo