Citilink Berencana Terbang di Asia dan Australia di 2013

NERACA

Jakarta - Unit usaha strategis emiten maskapai penerbangan plat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Citilink yang fokus di jasa penerbangan berbiaya murah, pada 2013 nanti akan merambah ke pasar Asia. Rencananya, perusahaan akan membuka penerbangan ke Singapura, Kuala Lumpur, Penang dan Australia.

Direktur Utama Citilink yang baru saja diumumkan, Arif Wibowo mengatakan, untuk tahun ini Citilink masih fokus pasar domestik. "Kami mendapatkan ijin dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara 70 rute domestik dan 17 rute regional," ujar Arif, di Jakarta, Kamis (5/7).

Menurutnya, rute regional yang dimaksudkan adalah rute-rute luar negeri yang berjarak tempuh maksimal tiga jam penerbangan. "Tahun depan kita akan masuk ke regional, sekarang fokus di domestik dulu," ungkapnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar menuturkan, pasar konsumen penerbangan Indonesia akan sangat berkembang. Untuk itu, adanya Citilink tidak akan menggerus pasar Garuda. Sebab, segmen dari keduanya memang berbeda.

Kata Emir, di market ada segmentasi yang full services, medium services dan low services. Potensi medium ke atas akan tumbuh sekitar 5-10%, penerbangan murah tumbuh 15-16% per tahun.

Dia menambahkan, perbedaan antara penerbangan murah dengan full service adalah jika penerbangan murah membuat pasar baru dengan mengajari bagaimana orang untuk terbang. Sebelumnya, konsumen-konsumen itu terbiasa menggunakan kereta api atau kapal laut. "Kalau full service itu bagaimana terbang dengan nyaman. Jadi Citilink akan melengkapi pasar yang sedang tumbuh ini," ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Emir mengumumkan susunan direksi Citilink yang baru adalah Arif Wibowo yang menjabat sebagai Direktur Utama, Hadinoto menjabat sebagai Direktur Produksi dan Albert Burhan menjabat sebagai Direktur Keuangan.

Pisah Dari Garuda

Citilink resmi mendapatkan sertifikat Air Operation Certificate (AOC) dari Kementerian Perhubungan. Sertifikat ini membuat Citilink yang selama ini berada di bawah manajemen Garuda untuk menjadi manajemen yang mandiri.

AOC adalah sertifikasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan bagi perusahaan maskapai yang resmi beroperasi di Indonesia. Selama ini, sebagai anak usaha Garuda, Citilink beroperasi dengan menggunakan AOC milik Garuda Indonesia. Kini, dengan memiliki AOC sendiri, Citilink resmi menjadi salah satu maskapai Indonesia yang independen.

Arif mengatakan, bahwa strategi pengembangan Citilink bertujuan agar partisipasi perusahaan dalam jasa transportasi untuk segmen penerbangan biaya murah dapat segera dicermati masyarakat."Dalam waktu dekat ini secara operasional Citilink akan segera mengudara dan beroperasi penuh secara mandiri dengan dua digit nomor identifikasi baru sebagai puncak dari spin off Citilink," ujarnya.

Sertifikat AOC diberikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Herry Bhakti, kepada Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar."Akhirnya kita mendaptkan AOC karena benar-benar ingin memisahkan Citilink dari Garuda untuk menjadi perusahaan terbatas (PT) dan maskapai sendiri," kata Emir.

Saat ini, lanjut Emir, Garuda mempunyai 95 pesawat dimana 14 pesawat diantaranya milik Citilink dan 81 pesawat milik Garuda. Hingga 2015, Emirsyah menargetkan akan mencapai 194 pesawat dan 50 pesawat diantaranya milik Citilink. "Penumpang Citilink 1,6 juta tahun lalu, kita targetkan penumpang Citilink sebanyak 16,4 juta di 2015," ungkapnya.

Dirjen Perhubungan Udara, Herry Bhakti, menambahkan secara simbolis pemerintah menyerahkan AOC kepada Citilink. Pasar yang rendah cukup banyak. Penumpang Indonesia 50-60 juta, sehingga potensi penumpang sangat tinggi."Dari seluruh airlines yang ada, rata-rata low cost. Garuda yang full services. Rata-rata pesawat yang masuk ada dari Garuda, growth nya 15-20%. Kami berharap konektivitas harus dikembangkan terus," ungkap Herry.

Sebagai informasi, Citilink pada awalnya menggunakan lima pesawar Fokker F28 (65-85 tempat duduk) yang dimiliki oleh Garuda. Penerbangan perdana dilakukan pada 16 Juli 2001 dengan rute Surabaya-Balikpapan-Tarakan.

Dalam perkembangannya, pada Juli 2004 Citilink mengganti pesawat Fokker F28 dengan empat pesawat Boing B737-300 dengan 148 tempat duduk. Namun, pada 2008, manajemen Garuda memutuskan Citilink tidak beroperasi sementara untuk menata ulang kebijakan dan strategi Citilink.

Citilink beroperasi kembali pada September 2008 dengan basis operasi di Surabaya. Mula-mula dengan dua pesawat Boeing B737-300 sebanyak 148 tempat duduk. Secara bertahap, armada Citilink akan bertambah menjadi lima pesawat Boeing B737-300 pada tahun pertama operasinya.

Maskapai ini juga mendatangkan sebanyak 50 pesawat baru yaitu A320 secara bertahap yang akan mulai diterima pada 2014. Periode September 2011 hingga Februari 2012 sebanyak 5 pesawat A320 sudah datang melalui proses leasing.

Saat ini, Citilink yang berbasis di Jakarta dan Surabaya per Januari 2012 melayani 8 rute penerbangan harian dari Jakarta dan Surabaya ke Batam, Banjarmasin, Denpasar, Balikpapan, Medan dan Makasar.(didi)

BERITA TERKAIT

Sentimen Asia Dukung Penguatan IHSG

Mengakhiri perdagangan Rabu sore kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat sebesar 34,23 poin seiring…

Sanksi Buat Transaksi Tunai Lebih Rp 100 Juta - PPATK DAN KPK MINTA DPR PERCEPAT RUU BATASAN UANG KARTAL

Jakarta-Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) akan memberlakukan sanksi bagi pihak yang melakukan transaksi menggunakan uang kartal atau tunai…

Teknologi Padat Modal dan Sistem Pembayaran

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Sistem pembayaran pada galibnya merupakan hasil dari inovasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Multi Bintang Bagikan Dividen Rp 1,32 Triliun

NERACA Jakarta - Masih tumbuh positifnya industri pariwisata memberikan dampak berarti terhadap penjualan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) sebagai…

Graha Layar Bakal Stock Split Saham

Guna memenuhi aturan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk ketentuan free float saham atau jumlah saham yang beredar di publik,…

MMLP Bidik Rights Issue Rp 447,79 Miliar

Dalam rangka perkuat modal, PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), emiten pengelola pergudangan berencana untuk melaksanakan penambahan modal tanpa hak…