BEI Akui Proses Panjang IPO Freeport

Belum Berharap Besar

Jumat, 06/07/2012

NERACA

Jakarta – Komitmen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkatkan likuiditas pasar modal dengan memperbanyak jumlah emiten terus digalakkan dan termasuk membujuk perusahaan asing selain perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satu perusahaan asing yang ditunggu BEI untuk melantai di bursa adalah PT Freeport Indonesia.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, rencana Freeport Indonesia go public di Indonesia sangat terbuka lebar. Hanya saja, saat ini pihaknya belum menerima dokumen untuk penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), “Belum ada penyampaian dokumen yang masuk, mereka masih dalam tahap persiapan dan kalau menyatakan akan IPO kan sudah diberitakan media," katanya di Jakarta, Kamis (5/7).

Kata Ito, BEI menyabut baik rencana Freeport yang akan turut andil dalam meramaikan pasar modal Indonesia. Namun proses yang dilalui tidaklah mudah. Pasalnya, perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat itu harus izin ke pemerintah disana dan belum lagi stakeholder di dalam negeri, seperti izin pemerintah atau kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), “Prosesnya Freeport IPO sangat panjang dan butuh persiapan panjang, termasuk soal izin kontrak karya,”ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, PT Freeport Indonesia membuka opsi untuk melepas sebagian saham ke publik. Opsi pelepasan saham perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat itu berpotensi dilakukan melalui penawaran umum perdana IPO.

Maka jika opsi tersebut terealisasi, target dana IPO diperkirakan bisa menembus US$1,5 miliar atau sekira Rp13,5 triliun. Namun, manajemen Freeport menegaskan bahwa opsi itu masih terlalu dini. "Belum, itu masih jauh. Sampai persiapan juga belum," kata Presiden Direktur Freeport Indonesia, Rozik B Soetjipto.

Asal tahu saja, dalam memenuhi target jumlah emiten sebanyak 25 ditahun ini, pihak BEI terus menggenjot perusahaan untuk segera mencatatkan sahamnya di BEI. Bahkan BEI tengah mengincar kelompok calon emiten diantaranya perusahaan BUMN, perusahaan sektor Sumber Daya Alam (SDA), perusahaan kreditur perbankan dan perusahaan asing.

Target IPO

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen menyebutkan, ada perusahaan pelayaran dan perkebunan yang berencana go public dalam waktu dekat, “Ada dua perusahaan yang akan melaksanakan IPO, perusahaan itu dari sektor pelayaran dan perkebunan,"ungkapnya.

Dia mengatakan, nilai emisi dari penawaran umum saham perdana itu masing-masing diperkirakan mencapai Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. Berdasarkan dari mini expose, perusahaan tersebut berencana IPO di antara bulan Juli dan September ini dengan menggunakan laporan keuangan Maret 2012.

Kata Hoesen, sejauh ini BEI belum merevisi target jumlah emiten sebanyak 25 perusahaan yang akan melaksanakan IPO di 2012. Sepanjang tahun ini tercatat sebanyak tujuh perusahaan telah mencatatkan sahamnya, yakni PT Mina Padi Investama (PADI), PT Tiphone Mobile Indonesia (TELE), PT Surya Esa Perkasa (ESSA).

Kemudian, PT Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST), dan PT Supra Boga Lestari (RANC), PT Trisula International Tbk (TRIS), dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX). Sementara calon emiten BEI yang akan mencatatkan sahamnya sebanyak enam perusahaan, yakni Toba Bara Sejahtera, MNC Sky Vision, Global Teleshop, Tri Banyan Tirta, Gading Development dan Bank Jatim, “Jika terealisasi pencatatan saham perusahaan itu ,maka ada 13 emiten. Artinya, satu semester ini setengah dari target Bursa sudah terlewati," ujar Hoesen. (bani)