Cadev Indonesia Berpotensi Turun ke USD100 M

Jumat, 06/07/2012

NERACA

Jakarta—Posisi cadangan devisa (cadev) hingga 29 Juni 2012 merosot US$5,026 miliar. Padahal Cadangan devisa Indonesia pada 31 Mei 2012 yang mencapai USD111,528 miliar, harus turun USD106,502 miliar. "Dan jika BI harus terus intervensi, besar kemungkinan cadangan devisa akan turun di bawah USD100 miliar," kata Pengamat Valuta Asing, Farial Anwar, di Jakarta,5/7

Menurut Farial, intervensi ini merupakan konsekuensi rezim devisa bebas yang dianut Indonesia. Menurutnya, dengan rezim tersebut, maka aliran dana asing tidak bisa ditahan lama di Indonesia. "Hot money keluar masuk dengan bebas tanpa aturan dan pengendalian," tambahnya

Dikatakan Farial, saat ini BI harus terus melakukan intervensi terhadap pergerakan rupiah. Dia menilai, intervensi harus dilakukan agar nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak menembus level Rp10 ribu per USD. "Kalau rupiah dilepas oleh BI dan diserahkan pada kekuatan pasar, saya yakini rupiah akan semakin jeblok, terperosok lebih dalam lagi dan menjadi mata uang sampah yang nilainya bisa di atas Rp10.000 per USD," imbuhnya

Ditempat terpisah, Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prasetijono Widjojo mengakui neraca perdagangan Indonesia menurun cukup tajam di periode Januari– ei 2012 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 lalu.

Pada tahun 2012 ini, nilai neraca perdagangan Indonesia adalah 1.519,30 USD, sedangkan dalam periode yang sama tahun lalu jumlahnya sebesar 11.720,30 USD. “Neraca perdagangan Indonesia yang turun cukup tajam disebabkan oleh tingginya impor bahan penolong dan barang modal, yang juga disertai oleh melambatnya ekspor akibat kondisi ekonomi global yang melemah,” ujarnya

Berdasarkan data Bappenas, nilai neraca perdagangan sektor migas juga minus pada periode Januari – Mei 2012, yaitu -1096,2 juta USD. Walaupun pada periode yang sama tahun lalu juga minus yaitu -4,7 juta USD. Sedangkan dari sektor non migas walaupun tidak minus, namun itu juga mengalami penurunan dari periode yang sama tahun lalu, yakni tahun Januari – Mei 2011 adalah 11.725 juta USD, turun 9109,5 juta USD, menjadi 2.615,5 pada tahun 2012 ini.

Menurut Deputi Bidang Ekonomi Bappenas lebih lanjut bahwa itu merupakan bagian dari siklus bisnis perekonomian. ”Turunnya neraca perdagangan Indonesia pada dasarnya merupakan bagian dari siklus bisnis perekonomian (business-cycle) yang akan membaik kembali saat perekonomian global membaik. Neraca perdagangan akan naik kalau perekonomian mengalami booming dan menurun jika terjadi sebaliknya.,” tutur Prasetijono.

Jika dilihat dari masing-masing bidang, neraca perdagangan di produk manufaktur Indonesia selalu surplus, dalam arti nilai ekspornya selalu lebih besar dari nilai impor. Seperti pada tahun 2011, nilai ekspor industri manufaktur adalah 186,356 dan impornya 150,267, jadi neraca perdagangannya adalah 36,088,9. ”Indonesia adalah net eksportir untuk produk manufaktur dengan teknologi menengah dan rendah, namun net importir untuk produk manufaktur dengan teknologi tinggi,” jelas prasetijono.

Sedangkan yang mengejutkan adalah neraca perdagangan Indonesia selalu defisit sejak tahun 2006 dalam komoditas pertanian. Bahkan sekarang sudah mencapai -5.509,04 pada 2011 lalu. **ria/cahyo