Sembako dan Kriminal Makin Rawan

Di tengah kesibukan masyarakat menjelang bulan suci Ramadan, rakyat kini dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup pelik. Tidak hanya harga Sembako (sembilan bahan pokok) yang mulai merambat naik, tapi masalah kriminal juga semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap saat masyarakat selalu khawatir oleh ancaman perampokan. Kegiatan usaha pun seperti minimarket, toko emas, dan nasabah bank tidak lepas dari incaran dari penjahat.

Fakta di beberapa kota harga Sembako terus meningkat. Harga cabai merah, bawang putih, gula pasir, bahkan naik hampir dua kali lipat. Para pedagang memperkirakan, kenaikan harga sembako akan terus terjadi hingga Lebaran nanti. Bahkan harga daging ayam juga akan terkerek naik dengan kondisi saat ini.

Kenaikan harga bahan pokok itu jelas sangat mengganggu ekonomi rakyat, karena pendapatan masyarakat cenderung tetap dibanding pengeluarannya. Situasi ini jelas tidak menguntungkan masyarakat menengah ke bawah. Apalagi ketenangan dan rasa aman mereka terganggu oleh sering terjadinya tindak kejahatan atau kriminalitas di berbagai kota, bahkan di Jakarta dan sekitarnya.

Perampokan tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di minimarket, seperti yang terjadi di wilayah Jabodetabek. Dari 38 kasus perampokan yang dilakukan 8 orang itu berhasil menggondol uang sebanyak Rp 800 juta. Tidak tanggung-tanggung, perampok datang dengan kendaraan roda empat. Sepertinya mereka sudah tahu persis kemampuan aparat. Padahal di sekitar tempat itu biasanya dilakukan razia yang dilakukan pihak kepolisian, termasuk razia pengguna narkoba.

Pemimpin kelompok perampokan, Mukhadi (41), akhirnya tewas saat dikepung aparat di rumahnya di Sumur Batu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (5/7). Dia ternyata merupakan pimpinan aksi perampokan di sejumlah minimarket di Jakarta, Depok, Bekasi, Karawang, hingga Cikampek. Di Jakarta Selatan, kelompok ini telah empat kali melakukan aksi pencurian di minimarket. Selain Alfamart di Jalan Bangka Raya, mereka juga beraksi di Jagakarsa, Ciputat, dan Pamulang.

Terus meningkatnya harga sembako, kemudian sering terjadinya perampokan jelas tidak bisa dianggap hal biasa. Pemerintah dan aparat keamanan harus cepat tanggap. Pemerintah, terlebih Kementerian Perdagangan tidak bisa menganggap naiknya harga menjelang Ramadan dan Lebaran sebagai fenomena atau keadaan biasa, lalu menyerahkan masalah itu pada pasar. Begitu pun dengan kepolisian, jangan menilai kasus perampokan yang meningkat belakangan ini sebagai hal lumrah.

Adalah wajar jika kenaikan harga sembako dan meningkatnya kriminalitas harus disikapi secara serius. Pemerintah dan kepolisian jangan terus berwacana, tetapi perlu tindakan nyata di lapangan. Tidak perlu mencari alasan macam-macam, karena rakyat membutuhkan tindakan konkret dan langsung. Baik terkait dengan harga berbagai bahan pokok, terlebih menyangkut masalah keamanan. Jangan biarkan nasib rakyat tergantung permainan spekulan dan ulah segelintir orang yang mengganggu kepentingan umum menjelang Lebaran.

BERITA TERKAIT

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Sektor Teknologi dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis     Korporasi Alibaba segera akan mengganti para akuntannya…

AdhiKarya dan PPD Integrasikan Sistem Transportasi - Kawasan LRT City

      NERACA   Jakarta - PT AdhiKarya (Persero) Tbk, melalui Departemen Transit Oriented Development (TOD) & Hotel menawarkan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Prospek Ekonomi Digital

Beberapa tahun lalu kita belum membayangkan sopir taksi dapat mengemudikan mobilnya sendiri tanpa terikat formal bekerja di perusahaan taksi konvensional,…

Peringatan 100 Ekonom

Sekitar 100 ekonom berkumpul menyuarakan kondisi perekonomian Indonesia yang masih memprihatinkan saat ini. Kalangan ekonom pada kesempatan bertemu dengan Presiden…

Kemiskinan dan Pengangguran

  Dua musuh utama ekonomi Indonesia sekarang adalah kemiskinan dan pengangguran. Tahun lalu, angka kemiskinan dan pengangguran masing-masing mencapai 10,67%…