Andalkan Produk Baru, Kobexindo Incar Market Share 10%

Catatkan Penjualan Rp 752 Miliar

Jumat, 06/07/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun pemain baru dalam industri alat berat, tidak membuat PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) pesimis meliat peluang pasar penjualan di Indonesia. Bahkan perusahaan tahun ini menargetkan pangsa pasar 10% dalam tiga tahun kedepan dari industri nasional atau tumbuh dibandingkan tahun lalu pasarnya baru 6%.

Direktur Keuangan Kobexindo Martio mengatakan, tahun ini pangsa pasar bisa tumbuh 10% dengan target penjualan tahun 2012 sebanyak 1.300 unit, naik dibanding raihan tahun lalu sebanyak 975 unit, “Kita targetkan pangsa pasar capai 10% dengan didukung dua produk baru dan menjaga leader market di excavator, “katanya di Jakarta, Kamis (5/7).

Selain itu, perseroan mencatatkan penjualan sepanjang semester pertama tahun ini sebesar Rp 752 miliar atau meningkat 43,8% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp532 miliar,”Hingga Juni penjualan kita Rp 752 miliar dengan catatan pertumbuhan sebesar 43,8%, saya kira itu capaian yang cukup tinggi di industri," ungkapnya.

Dia menyebutkan, total penjualan yang diraih hingga Juni 2012 itu berasal dari penjualan 586 unit produk yang dipasarkan KOBX. Unit yang terjual sepanjang semester 1 tersebut meningkat hingga 40,2%, dibandingkan total unit yang dipasarkan pada periode yang sama 2011 yang sebanyak 418 unit.

Sementara Direktur Marketing Kobexindo, Wiliam Jonatan menambahkan, tahun ini perseroan menargetkan penjualan 1.100 unit atau senilai Rp 1,6 triliun. Target tersebut naik signifikan dari posisi catatan pnjualan hingga akhir 2011 lalu yang sebesar 975 unit.

Menurut Jonatan, target tersebut akan didorong oleh dua produk baru yang dirilis akhir tahun lalu dan Juni 2012 yang juga merupakan bagian dari produk unggulan Kobexindo. "Bulan lalu kita launcing Tata Daewoo berkapasitas 41 ton dan tahun lalu ADT (articulated dump truck) 40 ton, semuanya ke sektor pertmbangan. Harapannya dua produk baru ini bisa menyumbang 10-15 persen untuk total penjualan tahun ini," kata Wiliam.

Sementara Direktur Utama Kobexindo, Humas Saputro mengatakan, saat ini pangsa pasar (market share) perseroan di pasar penjualan alat berat berada di kisaran 6%. Namun seiring dengan pertumbuhan penjualan produk perseran, Humas memperkirakan dalam tiga tahun ke depan market share perseroan akan mencapai 10%."Kalau target penjualan alat berat nasional 21 ribu unit, dengan 10 persen saja kita bisa menguasai 2.100 unit," kata Humas.

Asal tahu saja, tahun 2012 penjualan alat berat diperkirakan akan mencapai kisaran 21 ribu unit dan tahun 2013 permintaan alat berat dalam negeri masih tinggi berkisar 25 ribu unit.

Kaji Rights Issue

Perseroan berencana mengkaji kemungkinan melakukan rights issue dan pinjaman bank dengan revisi pelepasan perdana sahamnya ke public, “Dengan direvisinya pelepasan perdana saham ke publik dari tadinya 30% menjadi hanya 12% memang akan mengurangi perolehan dana dari IPO. Untuk itu kekurangan biaya modal nantinya akan dibiayai dari pinjaman bank dan dana internal. Tidak tertutup kemungkinan kami juga akan melakukan rights issue," ungkap Humas Saputro.

Namun, meskipun terjadi revisi terhadap jumlah saham yang dilepas, Earning Per Share (EPS)-nya tetap senilai Rp54 per saham. Maka dengan revisi tersebut, perseroan harus menunda pembayaran utang dan akan dirollover. Adapun jumlah utang KOBX yang akan dirollover tersebut mencapai US$10,5 juta, yang terdiri dari utang kepada DBS sebesar US$7 juta dan ke Bank Resona US$3,5 juta. Adapun bunga utang perseroan ini sebesar 5%-6%.

Martio, Direktur KOBX menambahkan saat ini perseroan juga berencana melakukan pinjaman baru dari beberapa bank. Namun, dia mengakui hingga saat ini perseroan masih belum melakukan pembicaraan dengan pihak bank."Rencana placement juga sangat terbuka untuk menambah modal di kemudian hari. Tapi itu baru bisa dilakukan setelah 8 bulan ke depan sesuai aturan," tandasnya.

Sebagai informasi, berkurangnya target saham IPO memangkas target perolehan dana. Jika dari rencana awal pelepasan saham IPO hingga 30% bisa meraup dana sekitar Rp500 miliar, pasca revisi saham IPO menjadi 12%, dana perolehan menjadi hanya Rp109 miliar.

Rencana alokasi dana IPO di fokuskan untuk modal kerja 70% dan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 30% atau senilai Rp30 miliar itu berkurang dari rencana awal yang sebesar Rp120 miliar.

Pengurangan capex juga disesuaikan dengan target pendapatan perseroan. Jika sebelumnya pendapatan ditargetkan Rp2 triliun hingga akhir tahun, mungkin terkoreksi dengan batas atas sebesar ke Rp1,6 triliun. (bani)