Indonesia Sulit Lakukan Diversifikasi Pasar Ekspor

Infrastruktur Tak Mendukung

Jumat, 06/07/2012

NERACA

Jakarta - Sebenarnya Indonesia itu kaya dan besar, apalagi memiliki penduduk yang banyak dengan daya beli yang tinggi. Sehingga menjadi sasaran empuk bagi negara-negara eksportir yang tengah mencari lapak barunya, karena lapak yang lama mengalami penurunan permintaan akibat krisis global yang terus melanda dunia.

Namun Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyangkan, bangsa ini tidak memiliki sense of crisis, beberapa harga komoditas tengah turun seiring permintaan yang turun akibat kebijakan larangan ekpor bahan mentah (raw material) sumber daya alam. “Kita masih enak-enak main politik buat tahun 2014, itu yang buat saya takut, itu yang tidak bisa dibiarkan, pemerintah jangan enak-enak saja, di dunia ini tidak ada yang gampang, susah jualan juga,” tukasnya saat ditemua wartawan di Jakarta, Kamis (5/7).

Sudah terlihat kinerja ekspor turun, tapi impor malah naik. Belum lagi, karena biaya yang mahal akibat biaya logistik, infrastruktur yang belum memadai. “Bagaimana bisa menjaga pasar dalam negeri sebab kita jadi tuan rumah d inegeri sendiri, impor hanya pelengkap saja, kalau untuk jangka panjang kita cari pasar baru tetapi kan tidak gampang seperti Amerika Latin, kita tidak punya kapal, bahkan perbankan juga tidak ada,” keluh Sofjan.

Defisit Perdagangan

Dia juga pesimistis target ekspor yang pernah dikemukakan Kementerian Perdagangan sebesar US$230 miliar. Menurut Sofjan, setiap bulannya neraca perdagangan akan selalu defisit, dan kinerja ekspor akan turun terus. “Saya rasa akan turun terus dan defisit, pasti tiap bulan defisit, saya tidak percaya terget itu akan tercapai, percaya deh. Bahkan capai untuk sama tahun lalu juga susah, paling turun sekitar 5%,” ujarnya.

Sofjan menjelaskan saat ini, masih ada nilai kespor karena masih terdapat kontrak-kontrak lama masih jalan masih jualan sedangkan kontrak-kontrak baru tidak mau disepakati atau diteken. Menurut dia, larangan-larangan ekspor bahan mentah bukan hal yang keliru, namun dikarenakan timing atau waktu penerapannya tidak tepat. “Harusnya dijalankan secara bertahap dan melibatkan pengusaha, yang terjadi selama ini mereka (Pemerintah) sering tidak melibatkan pengusaha dalam membuat kebijakan. Sehingga tidak ada kepastian,” terangnya.

Amerika Latin

Investasi Amerika Latin ke negara lain sebenarnya sudah banyak, tapi dengan Indonesia masih ketinggalan dibanding Malaysia dan Singapura. Maka dengan adanya forum ASEAN-Latin, diharapkan membuka. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan perdagangan Amerika Latin sebesar US$2,4 triliun, sayangnya mayoritas perdagangan lebih banyak terhadap negara asean, sedangkan Perdagangan ASEAN sekitar US$2,5 triliun. “Jadi potensi untuk melakukan perdagangan dan aktifitas ekonomi termasuk investasi dan pariwisata besar sekali,” ujarnya di Kementerian Perdagangan.

Selama ini, Amerika Latin tidak pernah mengetahui keberadaan negara bersimbol Garuda ini. “Mereka ternyata menganggap Indonesia itu seperti negara Asia yang berbasis industri. Mungkin hal ini yang mereka takutkan akan kebanjiran produk Asia. Tapi, karena sudah ada kesadaran negara-negara di Amerika Latin untuk melakukan diversifikasi pasar. Maka, ASEAN sangat dilirik dan mereka juga ingin mengambil bagian pasar asia tenggara,” pungkasnya.