Kenaikan Saham Tekstil Tergantung Market

NERACA

Dalam situasi ekonomi global yang melambat, pembelian kain atau pakaian pun akan berkurang. Kondisi ini berbeda dengan sektor industri makanan. Saham-saham di sektor industri tekstil dinilai tidak likuid. Karena itu, pergerakan harga sahamnya sangat tergantung pada market maker alias bandar.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, secara fundamental, emiten-emiten di sektor tekstil bermasalah dari sisi bahan baku yang masih impor dalam jumlah besar. Akibatnya, biaya impor pun cukup besar untuk mendapatkan harga murah.

Di sisi lain, industri tekstil justru menjual produk jadi, per potong (pakaian) dan tidak dalam jumlah besar sehingga sulit menutupi biaya pembelian bahan baku. “Nasib saham tekstil, sangat tergantung pada tingkat konsumsi masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, emiten tekstil juga mendapat tantangan hebat dari banjirnya produk-produk pakaian jadi yang diimpor dari China yang harganya jauh lebih murah. “Sebab, kapasitas produksi mereka memadai,” ungkapnya.

Menurutnya, China bisa memproduksi banyak produks tekstil sehingga jatuh pada harga produksi yang murah dan dijual dengan harga yang jauh lebih murah. “China berusaha meniru produk apapun baik dari Jerman, Perancis dengan produksi masal dan biaya yang lebih murah,” ucap dia.

Akibatnya, lanjutnya, harga jual pun murah sehingga sangat laku di pasaran dan jadi pesaing berat bagi industri tekstil dalam negeri. “Tapi, mereka tetap untung karena dari sisi biaya produksi yang murah karena dalam jumlah besar.”

Sementara itu dari sisi valuasi sahamnya, Reza menilai, memang saham-saham sektor tekstil cukup menarik karena Price Earnings Ratio (PER) masih pada level rata-rata 10-15 kali dengan tanpa memfaktorkan saham ESTI yang sudah mencapai 95,83 kali dan HDTX yang sudah mencapai 111,36 kali.

PER MYTX masih minus 9,2 kali; RICY 10,95 kali, INDR 5,09 kali, CNTX dengan PER 1,15 kali, dan POLY dengan PER 2,4 kali. “Meski secara valuasi murah, saham-saham tersebut tidak atraktif. Sebab, pergerakan harganya susah ditebak,” paparnya.

Reza mengaku susah untuk menentukan target harganya atau paling tidak support dan resistance-nya. Sebab, saham-saham tersebut tidak likuid. Dari sisi pergerkan harga saham misalnya, pada periode November 2011 hingga Februari 2012, saham CNTX masih bertengger di level Rp7.100.

Dengan kenaikan sebesar itu, katanya, semua orang tergiur. Tapi, bagi pelaku pasar apalagi trader pemula, yang tidak tahu kapan saham tersebut akan bergerak, saham tersebut bisa menjebak. “Sebab, tidak bisa dilihat dari tren harganya. Pergerakan saham-saham di sektor tekstil sangat tergantung pada market maker-nya atau bandar,” tutur Reza.

Karena itu, dia menyarankan, lebih baik hindari saham-saham sektor tekstil karena meski potensi kenaikannya besar, potensi turunnya juga besar. Kecuali, jika trader atau pelaku pasar mendapat informasi yang sudah dipastikan kebenarannya. (sahlan)

BERITA TERKAIT

Jumlah Investor Saham Capai 700 Ribu

Menepis rumor tidak sedap terkait keluarnya dana asing di pasar modal hingga mencapai Rp 40 triliun, membuat reaksi PT Bursa…

Saham PIZZA Oversubscribed Dua Kali - Debut Perdana di Pasar Modal

NERACA Jakarta –Sukses mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Sarimelati Kencana Tbk (PIZZA) selaku pemilik jaringan gerai Pizza Hut di…

MDRN Terbitkan Saham Baru 457,46 Miliar Saham - Konversi Utang Jadi Saham

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang sebagai buntut dari kegagalan bisnis ritel Seven Eleven tengah menjadi fokus perhatian PT Modern…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…