MNC Sky Vision Incar Dana IPO Rp 2,14 Triliun

Tawarkan Harga Rp 1.520 Per Saham

Kamis, 05/07/2012

NERACA

Jakarta - PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), anak usaha PT Global Mediacom Tbk menetapkan harga saham perdana Rp 1.520 per lembar hingga dana yang perseroan dapat mencapai Rp 2,14 triliun. Harga saham ini merupakan batas tengah dari kisaran yang sebelumnya dipublikasikan, Rp 1.460-Rp 1.750 per lembar. Perseroan juga telah menggelar roadshow international ke Singapura, Hong Kong, Inggris dan AS.

Direktur Utama MNC Sky Vision, Rudy Tanoesoedibjo mengatakan, minat calon investor dalam periode pre marketing cukup positif setelah roadshow internasional ke Singapura, Hong Kong, Inggris dan Amerika Serikat, "Dengan kondisi pasar saham saat ini, kami sangat meghargai minat dan kepercayaan yang ditunjukan oleh para calon investor kepada perseroan,”katanya Jakarta, Rabu (4/7).

Sebelumnya, Rudy menerangkan, saham yang ditawarkan sekitar 20% dari modal disetor dan ditempatkan penuh atau sekitar 1.412.776.000 lembar. Ini terdiri dari saham baru 847.666.000 lembar dan saham divestasi milik PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) sebanyak 565.110.00 lembar.

Rencananya, dana hasil penawaran umum, sekitar 70% digunakan sebagai belanja modal diantaranya pembelian dekoder, antena, kartu tayang, dan peralatan penunjang penyiaran. Selain itu, dana IPO juga sebagai pelunasan pinjaman perseroan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rp 50 miliar.

Selain itu, perseroan juga akan melunasi utang dari pemegang saham pengendali, PT Global Mediacom Tbk sebanyak Rp 170 miliar yang didapatkan secara bertahap. Sisanya sebagai modal kerja berupa rekondisi dekoder dan perbaikan fasilitas kerja. "Sebanyak 70% ekspansi. Sisanya pelunasan pinjaman dan modal kerja," tambah Rudy.

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Danareksa Sekuritas dan PT MNC Securites. Keduanya menjamin kesanggupan penuh (full commitment) terdapat IPO MNC Sky Vision.

Kinerja Perseroan

Terkait kinerja, MNC Sky Vision menunjukkan kinerja yang moncer pada tahun lalu. Tercatat sepanjang tahun 2011 MNC membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23% menjadi Rp 1,74 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,41 triliun.

Rudy mengatakan, kenaikan pendapatan tersebut disebabkan karena bertambahnya pelanggan-pelanggan baru yang berlangganan selama tahun 2011. Sementara itu, perseroan mencatat laba usaha meningkat sebesar 29% menjadi Rp 353 miliar dimana sebelumnya tercatat Rp 272 miliar di tahun 2010. "Itu karena kenaikan biaya operasional yang relatif lebih rendah dari kenaikan penjualan," katanya.

Sementara itu, data per Desember 2011, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 65 miliar. Dia menjelaskan, laba bersih tersebut tidak naik signifikan karena perusahaan memiliki outstanding bond yang perusahaan keluarkan. Selain itu, terjadi depresiasi karena adanya satelit. "Biasanya bisnis satelit yang dilihat patokannya ebitda karena laba bersih tidak terlalu berpengaruh," katanya.

Tercatat EBITDA perseroan juga meningkat 39% pada 2011 menjadi Rp 728 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 522 miliar. Margin Ebitda meningkat dari 37% di tahun 2010 menjadi 42% pada tahun 2011.

Sementara itu, total aset konsolidasi perusahaan pada 2011 meningkat 12,5% menjadi Rp 3,45 triliun dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 3,06 triliun. Penyebab peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan investasi pada penyediaan set top boxes karena penambahan pelanggan baru. Sedangkan total liabilitas tergolong stabil karena hanya meningkat sebesar 15% menjadi Rp 2,489 triliun. (didi)