PNPM Mandiri Belum Berdampak Significant

Belum Turunkan Kemiskinan

Kamis, 05/07/2012

NERACA

Jakarta - Peran PNPM Mandiri dalam pengentasan kemiskinan dinilai hanya retorika semata. Pasalnya apa yang telah dikerjakan PNPM lebih ke arah pembangunan infrastruktur semata, padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat miskin bukan hanya infrastruktur. "Saya rasa PNPM tak menjawab untuk mengentaskan kemiskinan. PNPM hanya fokus membangun infrastruktur. Padahal disisi lain ada masyarakat miskin yang belum membutuhkannya," kata Kordinator Pelaksana Garakan Anti Pemiskinan Rakyat Indonesia (GAPRI)Abdul Ghofur kepada Neraca saat ditemui seusai Seminar Nasional dengan tema “PNPM Mandiri, Antara Retorika dan Realita” di Jakarta, Rabu (4/7).

Ghofur menjelaskan kalau masyarakat miskin lebih membutuhkan untuk biaya-biaya yang sifatnya mendesak seperti akses ke lembaga keuangan yang sudah memainkan peran rentenir. "Sebagian rakyat miskin itu bersinggungan dengan retenir. Nah kalau mau mengentaskan kemiskinan, PNPM bisa masuk dalam celah tersebut. Bagaimana bisa memberikan akses keuangan kepada rakyat miskin dengan cara yang lebih baik," ujarnya.

Lebih jauh Ghofur memandang cara-cara tersebut yang tak tersentuh oleh PNPM. "Jadi selama ini PNPM mengerjakan proyek-proyek infrastruktur seperti membangun jalan atau jembatan. Memang sih, dana itu partisipatif akan tetapi itu bukanlah kebutuhan mereka. Jadi saya rasa PNPM hanya retorika saja," ujarnya.

Menurut Ghofur permasalahan ini adalah tentang paradigma saja. Tujuan dari World Bank sebagai donatur PNPM dengan tujuan PNPM itu berbeda. "Sejak awal cara berpikir Bank Dunia itu tidak hanya untuk kemiskinan tapi lebih ke arah persoalan struktural. Akan tetapi jawabannya adalah perencanaan yang baik, fasilitas pelayanan dasar. Sebenarnya semuanya itu tak terlalu relevan terhadap persoalan kita saat ini," tegasnya.

Berdasarkan temuan-temua yang dilakukan oleh GAPRI, lanjut Ghofur, penyebab-penyebab kemiskinan yang telah diasumsikan oleh PNPM dan pedesaan itu berbeda. "PNPM melihat penyebab kemiskinan ternyata tidak sama dengan yang ada di pedesaan. Sekalipun sama tapi tak pernah terealisasikan. Sampai-sampai jadi infrastruktur, ternyata yang mengusulkan untuk pembangunan infrastruktur itu aparat desa nya. Makanya ada permainan," imbuhnya.

Namun demikian, Ia memberikan saran kalau fungsi PNPM diawalnya untuk mengurangi kemiskinan maka diarahkan agar menjawab bagaimana orang itu bisa bebas dari kemiskinan. "Kalau arahnya untuk mengurangi kemiskinan maka kami (GAPRI) akan melakukan audit, tapi kalau untuk membangun infrastruktur maka kami tak akan melakukan audit," tuturnya.

Selama ini, lanjut Ghofur, PNPM menggunakan dana dari World Bank yang setiap tahunnya terus merangkak naik. Namun angka kemiskinan tidak berlangsung turun. "Tahun ini saja, World Bank menganggarkan sekitar Rp13 triliun untuk PNPM. Ini dalam bentuk utang, dan setiap tahunnya angkanya terus naik," imbuhnya. **bari