Pebisnis Belum Familiar Pakai Uang Plastik

Kamis, 05/07/2012

NERACA

Jakarta--- Bank Indonesia (BI) mengakui 80% pengguna sistem pembayaran dengan menggunakan uang plastik (e-money) terpusat di Jakarta. Sementara di daerah para pebisnis belum familiar menggunakannya. “Padahal, risiko yang mereka ambil besar kalau membawa uang sendiri dibandingkan dengan penggunaan RTGS atau kliring yang bisa dilakukan dalam satu hari," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas di Jakarta, Rabu (4/7)

Lebih jauh Ronald menyebut hal inilah yang menghambat penetrasi e-money di Indonesia. "Angka penggunaan instrumen pembayaran memang menunjukkan peningkatan, dari nominal dan volume tetapi kalau kita perhatujan sudah cenderung landai dan tidak booming," ungkapnya

Bahkan kata Ronald, masih banyak para pebisnis di luar Jawa memilih menggunakan uang tunai sebagai transaksi. Artinya transaksi menggunakan non tunai belum familiar di kalangan pebisnis sendiri. “Di Palembang, banyak pengusaha menarik uang tunai dan dibawa sendiri ke Pulau Jawa untuk disetor ke bank, atau di Banjarmasin, mereka menarik uang tunai untuk dibawa ke Kudus dan melakukan transaksi pembelian rokok," terangnya

Selain itu, Ronald memaparkan bahwa perkembangan e-money yang aman dan efisien terhambat semakin tingginya fraud (kesalahan) yang terjadi lewat pembelanjaan online dan juga kordinasi e-money yang berbasis bank dan telekomunikasi (telkom).

Sementara itu terkait uang palsu, Bank Indonesia mencatat jumlah uang palsu kembali mengalami peningkatan di bulan April 2012. Di Januari 2012, uang palsu hanya ditemukan 1 lembar/bilyet per 1 juta lembar uang, namun di April 2012 sebanyak 3 lembar/bilyet uang palsu ditemukan dalam 1 juta lembar uang.

Dari situs Bank Indonesia, uang palsu yang paling banyak ditemukan adalah pecahan Rp 100.000 yakni sebanyak 53,6%. Disusul oleh pecahan Rp 50.000 yang mencapai 40,3%.

Sedangkan dari pangsa temuan uang palsu berdasarkan daerah tercatat kantor pusat BI di Jakarta yang paling banyak mendapatkan temuan uang palsu. Sebanyak 28,1% dari total uang palsu ditemukan Kantor Pusat Bank Indonesia.

Kemudian sebanyak 25,7% temuan berada pada Kantor Bank Indonesia di Surabaya. Selain kedua kota besar tersebut, temuan uang palsu di Bandung juga cukup banyak yakni mencapai 20,9%.

Sebelumnya, BI mencatat di 2010 temuan uang palsu mencapai 20 lembar/bilyet per 1 juta lembar uang sedangkan di 2011 terus menurun menjadi hanya sebanyak 10 lembar/bilyet per 1 juta lembar uang. **cahyo