Pengadaan Beras Bagus, Bulog Kejar Tambahan 1 Juta Ton

Kamis, 05/07/2012

NERACA

Jakarta – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) optimis bakal mampu menyerap 3 juta ton beras dari petani sepanjang tahun ini. Hingga Rabu (4/7), jumlah pengadaan BUMN tersebut sudah sebanyak 2.361.149 ton. Pada musim panen gadu, Bulog berharap bisa menyerap tambahan sebanyak 1 juta ton beras.

Menurut Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, dalam sisa waktu yang ada, pengadaan diharapkan bisa mencapai 1,1 juta ton. Jika jumlah tersebut bisa tercapai, maka stok Bulog akan makin kuat. Dengan demikian total pengadaan Bulog bisa mencapai 3,4 juta ton.

“Dari aspek stok Bulog, saya kira sangat aman. Kita berharap jangan sampai terjadi kondisi yang luar biasa, seperti harga melambung tinggi dan bencana alam yang besar,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/7).

Data Bulog memperlihatkan, sampai awal Juli 2012, pengadaan Bulog sudah mencapai 2,36 juta ton. Ada lima daerah pemasok terbesar yakni Jawa Timur sebanyak 31,71%, Jawa Tengah 23,79%, Jawa Barat 15,2%, Sulawesi Selatan 10,51% dan NTB 4,1%. “Dari lima daerah itu saja, kami sudah mendapatkan 84,95% dari total pengadaan,” jelasnya.

Sedangkan kalau dihitung berdasarkan 10 daerah pemasok, dengan penambahan Propinsi Lampung 2,7%, DKI Jakarta 2,5%, Sulawesi Selatan 2,4%, Aceh 2% dan DI Yogyakarta 1,5%, maka volume pengadaan Bulog sudah mencapai 96,05%. Artinya Divisi Regional lainnya hanya memasok 3,95%. “Lagi-lagi Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar pengadaan yakni 74,25%, lainnya hanya sekitar 25%,” terangnya.

Dilihat dari perkembangan alam beberapa tahun terakhir, imbuh Sutarto, maka pengadaan selama semester pertama tahun ini sebanyak 2,361 juta ton, sudah jauh lebih tinggi. Artinya pengadaan tersebut sudah melebihi pengadaan selama satu tahun pada 2007, 2010, maupun 2011. “Kalau sampai Juni, pengadaan tahun ini hanya kalah dengan 2009,” ujarnya.

Namun demikian, sambung Sutarto, jumlah pengadaan tersebut ada hubungannya dengan produksi padi. Misalnya, pada 2007 produksi padi naik 4,96%, tahun 2008 naik 5,64%, 2009 naik 6,57%, dan 2010 naik 3,22%. Namun pada 2011, produksi padi turun 1,07%. Sementara tahun ini seperti hasil ramalan Badan Pusat Statistik produksi naik 4,3%.

Dia membandingkan produksi tahun ini mirip dengan 2007. Tapi jika dilihat aspek pengadaan justru sudah lebih. Pada 2007, total pengadaan hanya 1,79 juta ton beras dan impor 1,3 juta ton. Sedangkan tahun in, jumlah pengadaan hingga pertengahan tahun sudah mencapai 2,3 juta ton.

Dirut Bulog juga mengakui, keberhasilan pengadaan tahun ini ada hubungannya dengan empat strategi yakni, sistem dorong tarik, jaringan semut, insentif kepada penggilingan dan kelompok tani, serta kegiatan on farm. “Empat strategi inilah yang kita jalankan, sehingga kita masih bisa mencapai target pengadaan,” katanya.

Sementara Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Perum Bulog, Abdul Karim menambahkan, untuk kegiatan on farm Bulog sudah melakukan tiga kegiatan. Pertama, dengan sistem pola mandiri yakni Bulog mempunyai lahan sendiri untuk menanam padi dan yang mengerjakan petani. Saat ini sudah 14 hektar (ha) yang berada di Karawang dan Subang.

Pola kedua yakni, on farm sinergi. Pola ini Bulog menyediakan sarana produksi seperti pupuk, benih dan pestisida kepada petani sesuai paketnya. Sedangkan lahannya tetap milik petani. Nantinya hasil produksi akan diserap petani. Untuk pola ketiga dengan sistem sinergi dengan BUMN lain dalam program GP3K (gerakan peningkatan produksi padi berbasis korporasi). Dengan pola ini, ada sekitar 400 ha.

Bicara soal stok beras, Sutarto mengatakan, stok beras yang ada di gudang Bulog mencapai 2,37 juta ton, termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) 468 ribu ton. Jumlah tersebut cukup untuk penyaluran sembilan bulan ke depan.

Dengan catatan, jika tidak ada operasi pasar besar-besaran dan bencana alam, maka stok beras Bulog cukup sampai Maret 2013. Jika tidak ada OP mungkin stok beras Bulog akan lebih tinggi dibandingkan 2009. “Dengan stok yang ada, hari inipun kami siap OP bila diminta. Kami juga siap menyalurkan,” ujarnya.

Mengenai penyediaan beras, Sutarto mengatakan, harus berpikir sampai Maret 2013. Sebab, Sejak Desember sampai Maret biasanya produksi di bawah kebutuhan. Karena itu setiap tahun yang sangat menentukan adalah panen pada Maret hingga Juni.

Sutarto berharap, surplus beras sebanyak 5,5 juta ton bisa menutupi sebagian kekurangan pada Januari-Maret yang mencapai 7,2 juta ton. Sebab setiap bulan kebutuhan beras masyarakat mencapai 2,6 juta ton. “Jika kebutuhan Januari-Maret bisa kita tutupi, maka tidak perlu impor,” katanya.

Bulog Untung

Pada kesempatan tersebut, Sutarto Alimoeso mengatakan, selama 2011 Bulog mendapatkan keuntungan sebanyak Rp936,51 miliar. Keuntungan tersebut meningkat jika dibandingkan 2010 sebesar Rp886,75 miliar. “Kesemuanya diminta Menteri BUMN untuk menutupi kerugian 26 BUMN yang mengalami kerugian,” katanya.

Dia berharap, pada tahun ini kinerja Bulog bisa lebih baik. Hingga semester pertama, Bulog sudah memperoleh keuntungan sebanyak Rp111 miliar. Namun demikian jumlahnya masih akan diaudit lagi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Keuntungan tersebut setelah rekonsiliasi komersial dengan PSO (publik service obligation). “Tahun depan kami berharap bisa mendapatkan keuntungan, sehingga bisa menutupi akumulasi kerugian. Ini target kami,” ujarnya.

Dengan keuntungan yang diperoleh itu, Bulog rencananya akan membagikan jasa produksi kepada seluruh karyawan. Artinya, selama dua tahun berturut-turut Bulog bisa membagikan jasa produksi. Selain itu, selama dua tahun itu (2010-2011) juga BPK memberikan penilaian Wajar Tanpa Pengeculain (WTP). “Ini untuk kedua kalinya, sejak Perum Bulog berdiri pada 2003,” tegasnya.