Wacana Jalan Layang Slipi-Cibubur

NERACA

Adanya arus lalu lintas kontra flow dari Cawang menuju ke arah Semanggi mengundang pemikiran untuk pembangunan jalan layang Cibubur-Slipi. PT Jasa Marga Tbk menegaskan, rencana pembangunan jalan tol layang Cibubur-Slipi di Jakarta, masih wacana.

"Itu masih menjadi wacana atau ide, terkait dengan permintaan Menneg BUMN, beberapa hari lalu setelah pengoperasian sistim kontra flow di tol dalam kota Cawang-Semanggi jam 6-10 pagi," kata Dirut Jasa Marga, Adityawarman dalam Media Gathering di Jakarta, Jumat.

Wacana itu, kata Aditya, sudah dipresentasikan di Menneg BUMN sebagai jawaban untuk mengatasi kemacetan di tol dalam kota.

"Karena ada asumsi, sistim kontraflow juga tidak akan menjawab persoalan, ketika ruas Semanggi-Cawang juga sudah padat," katanya.

Menurut Aditya, ruas tol dalam kota sejak adanya kontra flow dan kemacetan agak terurai, lalu lintas kendaraan malah bertambah enam ribu pada saat kontra flow dijalankan..

Namun, pihaknya juga menyadari rencana jalan tol layang tersebut masih harus dikaji lebih mendalam dengan instansi terkait seperti Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Kementerian Pekerjaan Umum.

"Kemarin kami sudah menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri PU soal itu," katanya.

Tidak hanya itu, kata Aditya, pihaknya masih memerlukan masukan dari pihak lain karena jika jalan tol itu jadi dibangun, akan berpengaruh terhadap sistim transportasi lainnya.

Direktur Operasi Jasa Marga, Hasanuddin juga berpendapat, jika jadi dibangun, konsepnya sebaiknya mengacu ke jalan tol.

"Bagaimana pun lebih baik konsepnya tol bukan jalan layang non tol karena jika tol, ada pemasukan bagi negara dan lainnya," kaa Hasanudin.

Sementara, tegasnya, jika non tol, hal itu hanya untungkan produsen otomotif.

"Mungkin laju pertambahan mobil baru di Jakarta dan sekitarnya bisa lebih dari 300 kendaraan bermotor per hari," kata Hasan.

Kinerja 2012

Menyinggung kinerja perseroan 2012, Direktur Keuangan Jasa Marga, Reynaldi Hermansjah mengatakan, target pendapatan perseroan tahun ini Rp5,4 triliun tercapai.

"Hal itu didasarkan pencapaian semester pertama tahun ini yang diperkirakan di atas Rp2,5 triliun," katanya.

Terhadap rencana ekspansi sembilan ruas tol baru, dia mengakui, struktur modal perseroan cukup kuat.

"Biasanya untuk ruas tol baru 30 persen ekuiti dan 70 persen sindikasi perbankan," katanya.

Bahkan, untuk kepentingan ekspansi lainnya seperti tol di Sumatera dan rencana akuisisi tol di Cijago dan tol Surabaya, modal perseroan siap Rp10 triliun- Rp 15 triliun.

"Karena itu, tahun ini perseroan tak perlu menerbitkan obligasi baru," katanya. (agus/dbs)

Related posts