Ruas-ruas Jalan Tol Baru untuk Buka Konektivitas

Pemerintah Terus Sediakan Infrastruktur

Sabtu, 07/07/2012

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum membuka peluang usaha untuk berinvestasi pembangunan 10 ruas jalan tol. Pembangunan jalan tol tersebut dimaksudkan untuk membuka konektivitas antardaerah, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

NERACA

Berbagai ruas jalan tol yang ditawarkan itu adalah Medan-Kuala Namu-Tebing Tinggi (Sumut), Cileunyi-Sumedang-Dawuan/Cisumdawu (Jabar), Palembang-Indralaya (Sumsel), Tegineneng- Babatan (Lampung).

Kemudian ruas tol Sukabumi- Ciranjang (Jabar), Pasir Koja- Soreang (Jabar), Pandaan – Malang (Jatim), Medan Binjai (Sumut), Terusan Pasteur- Ujung Berung- Cileunyi- Gedebage (Jabar), Pekanbaru-Kandis-Dumai (Riau).

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan jalan menjadi kebutuhan yang tidak mungkin ditawar dalam upaya pengembangan wilayah dan peningkatan ekonomi.

“Pemerintah terus berupaya melakukan penyediaan infrastruktur jalan tersebut,” katanya.

Menurut Djoko, untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan itu, dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah di satu sisi dan melihat adanya peluang investasi swasta di sisi lainnya, maka pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk menarik pihak swasta berinvestasi di bidang jalan tol.

“Dengan melibatkan sektor swasta melalui pembangunan jalan tol, percepatan penyediaan infrastruktur bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” tuturnya.

Dia mengatakan pemerintah merencanakan untuk membangun 3.361 km jalan tol sebagai bagian dari system jaringan jalan nasional. Sepanjang 770,36 km jalan tol sudah beroperasi dan 885 km sudah memiliki perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) yang terdiri dari 293,53 km dalam tahap konstruksi. Sisanya dalam proses serta persiapan pengadaan lahan, sementara ruas lainnya sedang dalam persiapan penandatanganan PPJT dan persiapan tender.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) A. Ghani Ghazali mengatakan dari rencana pemerintah untuk membangun jalan tol sepanjang 3.361 km dan melihat kondisi saat ini jalan tol yang terbangun adalah baru 770,36 km.

”Ini menunjukkan peluang sektor swasta untuk berinvestasi dalam pengembangan jalan tol masih sangat besar,” katanya.

”Beberapa kendala atau isu terkait dengan perwujudan pembangunan jalan tol itu, antara lain adalah tanah yang belum bebas (tersedia) dan kemampuan ekuitas dari para investor,” katanya.

Untuk itu, katanya, diperlukan dukungan dari semua pihak yaitu pemerintah daerah, Kementerian Keuangan dan kementerian teknis terkait, perbankan, mitra strategis/investor, pihak swasta dan masyarakat.

Menurut Ghani, ruas jalan tol Medan-Kuala Namu-Tebing Tinggi merupakan jalur alternatif untuk kendaraan dari Medan ke arah timur menuju Tebing tinggi, terhubung dengan jalan tol Belawan-Medan- Tanjung Morawa (Belmera). Rencana pembangunan jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebing tinggi dimaksudkan untuk mendukung pembangunan kota Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang (Mebidang) dan rencana bandara Kuala Namu.

Proyek sepanjang 61,3 km ini diperkirakan menelan investasi sedikitnya Rp 7,68 triliun, termasuk baiaya pengadaan tanah sebesar Rp 442 miliar. Volume lalu lintas yang diperkirakan melintasi rencana ruas jalan tol ini sebanyak 12.558 kendaraan per hari.

Ruas jalan tol ini sudah ditawarkan dalam tender batch 2 tahun 2006 dan kini dalam tahap konstruksi.

Sementara itu ruas tol Cileunyi-Sumedang- Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 58,5 km ini dimaksudkan untuk mendukung rencana pembangunan Prov. Jawa Barat dalam lima tahun ke depan.

Pemkab Sumedang berupaya untuk mengembangkan kawasan timur Jawa Barat melalui pembangunan alternatif jalan tol yang menghubungkan Cileunyi dengan Sumedang sampai Dawuan.

Jalan tol ini menjadi akses yang mendukung lalu lintas barang yang langsung menuju ke Pelabuhan Cirebon. Pembangunan jalan ini diharapkan akan membawa perubahan orientasi pembangunan ke arah timur kota Bandung. Ruas jalan tol ini sudah dilakukan pemancangan tiang pertama pada akhir tahun lalu, dan diperkirakan menelan investasi Rp 10,58 triliun.

”Volume lalu lintas rencana jalan tol Cisumdawu sekitar 13.000 kendaraan per hari,” kata Ghani.

Menurut Ghani, ruas tol lainnya i tengah digarap adalah ruas Palembang- Indralaya sepanjang 22 km. Ruas tol ini diperkirakan menelan investasi Rp 1,05 triliun, termasuk biaya pengadaan tanah sebesar Rp 64,06 miliar. Volume rencana lalu lintas di ruas jalan tol ini sebanyak 13.180 kendaraan per hari.

Dia mengatakan jalan antara Palembang – Indralaya saat ini merupakan salah satu ruas terpadat di sumatera Selatan.

”Kota Indralaya merupakan pusat pertumbuhan yang baru dengan berpindahnya kampus Universitas Sriwijaya dari kota Palembang ke Indralaya,” katanya.

Ruas Palembang – Indralaya merupakan jalur lintas timur Pulau Sumatera, di mana semua kendaraan yang berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi yang bertujuan ke Jawa melewati ruas jalan tersebut dan sebaliknya.

Ruas jalan rencana tol lainnya adalah Tegineneng – Babatan di Lampung sepanjang 50 km. Ruas jalan tol ini akan dibangun dengan biaya Rp 2,726 triliun, termasuk biaya pembebasan tanah sebesar Rp 258 miliar.

Ruas jalan tol ini adalah tahapan pertama dari rencana jalan tol Bakauheni – Bandar Lampung – Terbanggi Besar dan merupakan jalur utama jaringan penghubung Sumatera dan Jawa.

”Jalan tol Tegineneng – Babatan diharapkan dapat memacu pengembangan daerah di sekitar jalan tol, sehingga memberi manfaat ekonomi khususnya untuk Provinsi Lampung,” tururnya. Volume rencana lalu lintas yang akan melewati ruas jalan tol ini sebanyak 12.281 kendaraan per hari.

Selanjutnya ruas tol Sukabumi – Ciranjang sepanjang 28 km. Ruas jalan tol ini diperkirakan menelan biaya investasi Rp 1,856 triliun termasuk biaya pembebasan tanah sebesar Rp 158,9 miliar. Ruas jalan tol ini merupakan bagian dari rencana jaringan jalan tol Jakarta- Bogor – Ciawi – Sukabumi – Cianjur – Padalarang dan Bandung.

Pembangunan jalan tol ini ditujukan untuk menghubungkan ruas jalan tol Ciawi – Sukabumi dan Ciranjang – Padalarang dan sebagai solusi alternatif mengatasi kepadatan jalan arteri menuju Puncak serta mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi Sukabumi dan Cianjur.

Rencana jalan tol selanjutnya adalah Pasir Koja – Soreang sepanjang 15 km, yang diperkirakan menelan biaya investasi Rp 1,89 triliun, termasuk biaya pengadaan tanah Rp 425 miliar. Ruas jalan tol ini diharapkan menjadi jalan alternatif Kopo-Soreang yang menghubungkan Metropolitan Bandung dengan ibukota Kabupaten Bandung, Soreang. Jalan arteri ini mengalami kemacetan lalu lintas yang serius karena pertumbuhan lalu lintas yang pesat di daerah tersebut.

Kondisi ruas jalan di wilayah Kab. Bandung, khususnya di jaringan jalan primer, perlu ditingkatkan karena kapasitasnya sudah tidak memadai.

”Jalan tol Pasir Koja – Soreang adalah jalur alternatif yang akan mendukung pertumbuhan lalu lintas regional,” katanya.

Yang tak kalah penting, kata Ghani, adalah ruas jalan tol Medan Binjai sepanjang 16,80 km dengan biaya Rp 1,92 triliun, termasuk biaya pengadaan tanah sebesar Rp 256 triliun. (agus)

No. Ruas Tol Panjang km Investasi Rp

1. Medan-Kuala Namu – Tebing Tinggi 61,30 7,68 triliun

2. Cileunyi- Sumedang – Dawuan 58,50 10,58 triliun

3. Palembang – Indralaya 22,00 1,052 triliun

4. Tegineneng – Babatan 50,00 2,726 triliun

5. Sukabumi – Ciranjang 28,00 1,85 triliun

6. Pasir Koja – Soreang 15,00 1,89 triliun

7. Pandaan - Malang 38,55 3,778 triliun

8. Medan – Binjai 16,80 1,92 triliun

9. Terusan Pasteur- Ujung Berung- 27,3 6,91 triliun

Cileunyi – Gedebage

10. Pekanbaru – Kandis – Dumai 126,4 km 11,934 triliun