Menjaga Kepercayaan dengan Kualitas Terbaik

Owner Kedai Kurcaci Masakan Khas Bandung: Lanny Liparissa

Sabtu, 07/07/2012

Gemar meramu aneka masakan sejak remaja, membawa perempuan asal Bogor Jawa Barat ini menekuni bisnis kuliner. Dialah Lanny Liparissa, pemilik Kedai Kurcaci Masakan Khas Bandung.

NERACA

Bersama sang suami tercinta, Michael Liparissa, kini kedai yang dinahkodainya tujuh tahun lalu, telah berkembang dengan dua anak cabang, omzet pun didulang puluhan juta. Keberhasilan yang dipetik dari sebuah kerja keras.

Lanny akrab ia disapa berkisah bahwa sebenarnya dia hanya meneruskan bisnis sang tante. “Saya hanya meneruskan bisnis tante yang saat itu sedang sakit,” ujar Lanny, sebelumnya tante memang memiliki sebuah tempat di bilangan Gading Batavia yang menjual kuliner siomay dan batagor tahun 2005.

Saat mengawali usahanya, lanjut Lanny, dia sempat berdiskusi dengan suami untuk memiliki nama yang mudah diingat dan enak diucapkan. Teringatlah dia pada si kembar bungsu dan kakaknya yang hanya terpaut usia dua tahun.

“Kita namakan saja kurcaci,” ungkapnya mengenang.

Kurcaci adalah ungkapan kasih sayang dirinya kepada ketiga anak terkecil yang tumbuh bersama dari lima orang anak yang dibanggakannya ini.

Dengan nama Kedai Kurcaci, mulailah Lanny dan sang suami menggeluti bisnis kuliner. Untuk memperkaya varian menu, tak hanya siomay dan batagor, beberapa menu khas masakan Bandung dia tambahkan untuk melengkapi aneka menu bagi para penggemar masakan khas Bandung. Seperti ronde jahe, mie kocok, soto Bandung, nasi tim, lumpia mini, bubur ayam, mie kangkung, sekoteng, es oyen dan aneka krupuk lainnya.

Seiring perjalanan waktu, peruntungan Kedai Kurcaci kian beranjak tumbuh dan membentang. Selain terdapat di Jalan Boulevard Raya WD2 No 3B Kelapa Gading, dua cabangnya pun berdiri. Yaitu di Ruko Pondok Gading Utama A-2 dan Mal Kelapa Gading III Food Court.

Perkembangan Kedai Kurcaci memang tidak terlepas dari kualitas menu, higienis, dan mutu pelayanan yang ditingkatkan terus menerus.

“Kami selalu menjaga kualitas menu terutama soal keasliannya,” ungkap Lanny. Untuk bahan mie saja, kata Lanny, ia mengambilnya langsung dari Bandung.

“Saya tidak menemukan jenis mie khas Bandung di Jakarta, karena itu saya langsung membelinya di Bandung, karena jenis mie untuk bahan mie kocok memiliki jenis dan cita rasa yang berbeda,” ungkap Lanny, termasuk beberapa makanan kecil/snack asli Kota Bandung.

Keunikan dan kekhasan kuliner asal Kota Kembang memang menjadi perhatian Lanny. Karena itu, semua racikan bumbu dasar dari menu yang dihidangkan, ia lakukan sendiri.

“Kita memiliki semacam kitchen center,” kata Lanny, dari sanalah semua bumbu diramu dengan teliti agar cita rasa dapat terjadi di semua cabang Kedai Kurcaci.

Ia mencontohkan seperti rasa siomay ala Kedai Kurcaci. “Rasanya sangat berbeda dibandingkan dengan siomay lainnya,” jelas Lanny, selain ukurannya sedikit lebih besar, rasa ikannya pun begitu sangat lezat dirasakan.

Ia menjelaskan bahwa khusus menu siomay yang menggunakan ikan tenggiri, terkadang ada kendala seputar bahan baku. Pasalnya bila terjadi gelombang besar di perairan maka para nelayan enggan melaut, tak pelak pasokan ikan tenggiri pun menjadi sangat langka ditemukan di pasaran.

“Memang cuaca sering menjadi kendala bagi para nelayan untuk melaut,” ujarnya.

Karena menurut dia, kesegaran ikan tenggiri sebagai salah satu bahan pembuatan siomay adalah harga mutlak.

“Kita ingin pelanggan Kedai Kurcaci tidak kecewa,” tegasnya, karena itu dia tetap menginginkan bahan baku yang sehat dan segar dalam setiap sajian menu di Kedai Kurcaci.

“Kami tetap menjaga mutu, dan itu yang terpenting,” ujarnya bertekad.

Menurut Lanny, bahwa untuk menjaga kualitas rasa, kami menggunakan bahan-bahan yang masih baru dan selalufresh. “Kita memilih ikan segar yang baru ditangkap nelayan,” terang Lanny.

Lain halnya dengan ronde jahe, panganan khas Tanah Sunda yang berisi onde berisi kacang beraneka warna dengan ukuran besar dan kecil. Membuat siapa saja yang mencicipi akan berdecak kagum menikmati.

“Ronde jahe Keai Kurcaci sering dipesan untuk pesta dan acara lainnya,” jelas Lanny. Bahkan beberapa perusahaan besar kerap memesannya untuk acara perkantoran.

“Ini membuktikan bila menu kita mampu hadir sebagai panganan di tingkat acara formal,” ujarnya.

Minat dan animo yang besar dari para pelanggan, nyatanya juga dilirik beberapa pebisnis yang berminat kemungkinan mengambil franchise Kedai Kurcaci, namun Lanny menilai belum saatnya.

“Kita masih ingin memperkaya menu dan kualitas terbaik,” ujarnya. Karena dia menilai bila masih banyak hal yang harus diperbaiki dan diperkokoh pondasi bisnisnya.

“Saya merasa masih harus banyak belajar,” ujarnya merendah.

Lanny menyadari bahwa banyak para pelanggannya memiliki kesukaan pada menu tertentu. Ia mencontohkan seorang pelanggan setianya yang selalu memesan menu tertentu dari tahun ke tahun, “Kecocokan itulah yang membuktikan bila cita rasa yang ia tawarkan terbukti mampu terjaga dengan baik,” ucapnya bangga dan bersyukur.

Menurut Lanny keterbukaaan menjadi sikapnya dalam memimpin sekitar 20 awak yang dinakhodainya. “Saya terbuka dengan mereka, sehingga mereka tahu pula bagaimana upaya meningkatkan kemajuan bisnis tempat mereka bekerja,” ungkap sosok yang menganggap para pekerjanya adalah aset bagi usaha dirinya.

“Mereka adalah mitra kerja, sesungguhnya kita saling membutuhkan,” ucapnya memberi kiat menjalin hubungan dengan para pekerjanya.

Ia pun berharap, agar Kedai Kurcaci dapat terus memberi nuansa khas kuliner Nusantara khususnya masakan khas Bandung.

“Semoga Kedai Kurcaci dapat terus bertahan dan memberi keanekaragaman kuliner asli Nusantara dengan menu yang terjaga kualitasnya,” ungkapnya seraya mengungkapkan apresiasinya kepada para pelanggan yang setia.

“Semoga kami dapat tetap berkiprah dengan kualitas yang terus kita jaga,” ujar Lanny mantap.