Mendorong Dunia Usaha dengan Inovasi - Di Indonesia Baru 0,24% dari Penduduk

Inovasi di pelbagai bidang usaha menjadi kekuatan menjawab tantangan masa depan. Menengok kisah bisnis nan gemilang dan mendorong semangat berinovasi bangsa.

NERACA

Every generation needs a new revolution, ungkapan Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat III, memang benar, dan semangat inovasi menjadi jawabannya.

Dalam perjalanan sejarah dunia, semangat wirausaha dengan kekuatan berinovasi terbukti mampu mengubah wajah setiap generasi.

Banyak kisah sejumlah tokoh yang memiliki keberanian untuk memulai tindakan dan mengambil risiko sebagai entrepreneur dan inovator di pelbagai bidang usaha, baik politik, ekonomi, budaya atau teknologi.

Tengok Sokubei Mitsui, seorang pejuang samurai yang memberanikan diri meninggalkan status samurainya untuk berdagang minuman tradisional pada 1616. Dan 300 tahun kemudian, klan Mitsui memiliki kekayaan sebanding dengan miliader Rockefeller asal Amerika dengan menguasai 15% aset finansial Jepang.

Melalui Mitsui Corporation, yang sebelumnya adalah Sakura Bank, merupakan 10 bank terbesar di dunia yang menguasai sebagian besar saham Toyota, Sony, Toshiba, dan Fujitsu. Sedangkan di bidang perdagangan, Mitsui Bussan mampu menguasai 4% jaringan ekspor dan impor Jepang, bahkan menjadi firma perdagangan terbesar di dunia.

Keberhasilan Jepang melahirkan inovator di setiap generasi, tak lepas dari Yukichi Fukuzawa, seorang penulis sekaligus rektor pertama Universitas Keio, sebuah universitas swasta paling prestisius di Jepang. Dialah sosok di balik semangat kewirausahaan dan inovator warga Jepang di periode selanjutnya.

Melalui bukunya, An Outline of a Theory of Civilization, Yuki telah membuka mata Jepang terhadap dunia Barat justru ketika warga Jepang masih diselimuti anti Barat akibat Perang Dunia ke-2.

Warga Negeri Sakura pun bak diselimuti atmosfir inovasi. Soichiro Honda hadir dengan Kendaraan roda dua dengan merk Honda, lalu Eiji Toyoda, man behind the screen dari Toyota. Di bidang piranti audio visual hadir Akio Morita yang sukses mengembangkan pabrik milik sang ayah, Morita Brewery.

Morita terkenal sebagai pabrik penghasil minuman tradisional Jepang, sake, pasta kedelai miso, dan kecap soyu untuk menjelajah bisnis high-tech. Dan kini Morita Brewery adalah pemilik saham terbesar pabrik piranti audio visual bermerk Sony. Dan kompetitor Sony di bidang high tech adalah Konosuke Matsushita, dialah pengembang Matsushita Electronic pelopor produk bermerk Panasonic.

Ada pula Koji Kobayashi, sosok inovator yang membawa NEC (Nippon Electronic Company) menjadi raksasa komputer dunia. Atau Kazuo Tashima dengan bendera Minolta yang merambah aneka peralatan elektronik mulai dari mesin fotokopi, kamera, lensa binokular, mesin faksimili, printer laser, pembaca mikrofilm, dan scanner bidang kesehatan.

Bahkan pada 2003, seorang animator bernama Hayao Miyazaki membalikkan dominasi animator Walt Disney. Melalui film berjudul “Spirited Away,” ia merebut Piala Oscar sebagai Film Animasi Terbaik Dunia Tahun 2003. Seiring aksi guratan kreasi Fujiko Fumio dengan kucing besarnya, Doraemon, yang tetap menjadi kegemaran anak-anak seantero dunia. Lalu bagaimana dengan para inovator di Indonesia?

Inovator Indonesia

Sebenarnya tak sedikit kisah inovator yang berhasil membangun wira usaha di Indonesia, seperti usahawan jamu tradisional, produk kecantikan yang mampu menembus pasar internasional, atau kisah Tirto Utomo (1930-1994), sang penggagas lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia tahun 1973 melalui PT Golden Mississippi.

Saat Tirto membangun bisnis AMDK di Bekasi dan menjualnya seharga 1 liter premium, orang sinis mencibir. Namun semangat Tirto tak surut, dia yakin bahwa di masa mendatang usahanya akan memperoleh hasil dan memang terbukti. Meski kini saham PT Aqua Golden Mississippi mayoritas dikuasai perusahaan asal Perancis, Danone, penjualan AMDK melonjak jutaan liter hingga ke mancanegara.

Begitupun dengan keberanian B.J. Habibie dalam membangun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), semangat kewirausahaan dan inovasi pria asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan ini seharusnya menjadi jawaban dari persoalan minimnya keandalan alutsista (alat utama sistem senjata) dan kemandirian dirgantara Indonesia saat ini.

Menciptakan wirausaha dengan kreasi dan inovasi di kalangan generasi muda memang bukan perkara mudah. Banyak faktor yang mempengaruhi lemahnya semangat inovasi, selain kurangnya keberpihakan pemerintah maupun swasta dalam menciptakan suasana berinovasi dan persoalan permodalan.

Secara mendasar, penghargaan terhadap beragam sudut pandang yang memungkinkan berjalannya proses pembelajaran patut menjadi perhatian, termasuk memberi kesempatan mengaplikasikan hasil pembelajaran dalam kehidupan nyata.

Karena dengan proses pembelajaran atau riset, yang bersifat continuous improvement kelak akan mendorong seseorang menjadi kreatif, inovatif, berkolaborasi, dan bersinergi antara bidang satu dan bidang lainnya. Sehingga menghasilkan pengetahuan yang menjadi kekuatan ekonomi yang simultan menjawab tantangan dunia, termasuk tantangan terwujudnya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025 dan RPJMN 2010-2014 dengan maksimal.

Menurut catatan Bank Indonesia (BI), jumlah wirausaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk Indonesia. Berbeda dengan Singapura 7,2%, Thailand 4,1% atau Korea Selatan dengan 4% jumlah wirausaha muda yang tumbuh dengan semangat inovasi.

Pandangan generasi muda yang lebih memilih profesi pegawai negeri ketimbang membuka wirausaha dengan inovasi yang kreatif pun, tak sepenuhnya salah. Karena meski minim mental profesional, pengayom dan pelayan masyarakat, mereka tetap menerima fasilitas dan terhindar dari sistem outsourcing yang mengancam. Apalagi rencana kenaikan gaji akan tetap menjadi bagian dari bait kalimat pidato kepresidenan setiap tahunnya.

Related posts