Merangsang Inovasi bagi Kemajuan Bangsa

Sabtu, 07/07/2012

NERACA

Dalam dunia bisnis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkembangan teknologi, perubahan peta dan pasar sangat cepat mengalami perubahan.Produk yang saat ini laku di pasaran bisa jadi bulan depan sudah akan ditinggalkan karena modelnya sudah tidak disukai.

Dengan demikian menjadi penting bagi pelaku bisnis melakukan inovasi sesegera mungkin, bahkan mengantisipasinya sebelum produk lama tidak laku lagi di pasaran. Budaya inovasi bagi pelaku usaha kecil menjadi hal yang penting bagi kelangsungan hidupnya. Budaya inovasi akan membuat sebuah perusahaan tumbuh dan berkembang dengan kokoh dan tak lekang oleh zaman.

Ada beberapa alasan mengapa inovasi bisnis penting bagi usaha. Pertama, persaingan bisnis terus terjadi dan makin lama semakin ketat, hanya perusahaan-perusahaan yang inovatif yang akan dapat bertahan, dan tumbuh berkembang dalam lingkungan bisnis ini.

Kedua, memenuhi kebutuhan konsumen dan mendorong arah pasar dapat dilakukan melalui inovasi. Ketiga, membangun budaya inovatif dalam perusahaan juga akan membuat semakin hidup kreativitas sumber daya manusia yang ada dan menjadi tantangan yang menarik untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan karyawan serta kemajuan perusahaan.

Keempat, inovasi akan dapat menjadi keunggulan perusahaan dalam jangka panjang berdasarkan keunggulan nilai, keunikan, tidak mudah ditiru, atau karena tidak ada produk pengganti.

Dan kelima, kesadaran untuk selalu melakukan inovasi akan mendorong peningkatan peran departemen penelitian dan pengembangan/ Research and Development (R&D) serta menjalin kerja sama dengan institusi litbang lain.

Sesungguhnya, dengan pengembangan riset dan yang penelitian baik, Indonesia akan dapat memenuhi kebutuhan negaranya secara mandiri dan tak tergantung kepada pihak asing.

Ada banyak contoh yang dapat kita petik. Semisal Pemerintah Iran yang menempatkan R&D sebagai prioritas utama negerinya. Menurut R & D Magazine tahun 2005, anggaran R & D negara maju rata-rata 2,3%-3,5% dari GDP (Gross Domestic Product) negaranya.

Bahkan dalam World Science Forum 2005 di Budapest, UNESCO telah menyatakan munculnya tiga negara berkembang mampu masuk ke dalam negara produksi atau sumber science dan teknologi. Ketiga negara tersebut ialah Cina, India, dan Brazil.

Presentase R&D dari GDP ketiga negara tersebut adalah lebih dari 1 persen. Hal ini bertolak belakang dengan negara-negara berkembang dan miskin lainnya, termasuk Indonesia. Bahkan menurut LIPI tahun 2004, presentase R&D per GDP Indonesia hanya berkisar 0,1 persen.

Kondisi pengembangan riset di Indonesia yang masih rendah disebabkan kurangnya dukungan pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya alokasi dana APBN untuk bidang riset dan pengembangan, plus ketergantungan masyarakat pada produk negara lain dan kurang mencintai produk dalam negeri. Kondisi kian parah karena banyak pula ilmuwan Indonesia yang hengkang ke negeri lain karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka.

Dalam menghadapinya, pemerintah Indonesia harus segera berpikir cepat dalam mencari solusi yang tepat. Pemerintah harus meningkatkan anggaran untuk bidang R & D dan anggaran pendidikan yang lebih memadai. Pemerintah juga harus serius melaksanakan pelbagai program untuk memanfaatkan anggaran dana tersebut. Hal ini penting dilakukan, karena selama ini banyak program pemerintah yang rendah pengawasan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak sebaik yang direncanakan. Pemerintah juga dapat mengambil contoh dari beberapa negara lain dalam usaha membangun riset dan pengembangannya, dengan menetapkan brain gain policy (menjaga intelektual) bagi kepentingan bangsa Indonesia di masa mendatang.