Strategi dan Keberanian Berinovasi

Sabtu, 07/07/2012

NERACA

Daya saing dan inovasi, menjadi kata yang saling terkait bagi perusahaan dalam berkompetitif. Dalam lingkungan bisnis, istilah, “Hanya yang terkuat dapat bertahan hidup,” adalah sebuah keniscayaan. Karena itu pengelolaan bisnis yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif, akan sulit ditiru.

Menemukan inspirasi dan ide untuk mengembangkan kreasi dan inovasi di usaha anda menjadi tuntutan yang harus anda lestarikan. Bebaskan diri anda untuk mengekspresikan diri dengan membuat sentuhan karya pada usaha anda. Dan hal terpenting adalah jangan ragu untuk mencoba karena persiapan yang anda lakukan sudah sangat baik.

Karena kegagalan hanyalah sesuatu yang sifatnya sementara dan bisa diperbaiki. Berani tampil beda dengan kreasi dan inovasi melalui riset yang berkelanjutan untuk membuat usaha anda menjadi istimewa dan meraih kesuksesan.

Semakin anda cepat meraih sesuatu maka semakin banyak pula yang dapat anda raih. Kreasi, inovasi dan keberanian menjadikan anda sebagai wirausahawan yang paling terdepan. Ada sebuiah kisah ketika peneliti Bell Laboratories menemukan transistor misalnya, mereka lalu menawarkannya kepada perusahaan radio di Amerika Serikat namun mereka tidak tertarik sama sekali.

Mereka merasa bahwa teknologi radio tabung sudah cukup baik dan mereka menolak inovasi baru tersebut. Sebaliknya Sony Corporation yakin bahwa transistor akan mampu mengungguli tabung. Akhirnya mereka mencoba dan berhasil. Radio transistor mereka merajai pasaran, mengalahkan radio-radio tabung. Perusahaan perusahaan Amerika menyadari kesalahan mereka, namun sudah terlambat, pasaran radio transistor sudah dikuasai Sony.

Contoh lain adalah sikap perusahaan-perusahaan jam Swiss. Jam-jam mekanik mereka menguasai pasaran dan mereka terus berusaha menyempurnakan teknologi jam mekanik. Seorang peneliti Swiss menemukan teknologi quartz namun tak satupun perusahaan negerinya meliriknya.

Datanglah Seiko yang menggunakan teknologi tersebut dan akhirnya menguasai pasar jam. Adalah suatu ironi bahwa teknologi yang ditemukan oleh orang Swiss justru akhirnya dikuasai perusahaan asing yang melihat potensi teknologi tersebut.

Di Eropa, ada cerita menarik tentang semangat kewirausahaan dan inovasi dari seorang direktur sumber daya manusia perusahaan penerbangan Jerman Lufthansa, Thomas Sattelberger. Ia berhasil mengembangkan aliansi penerbangan terbesar di dunia yang efektif dan efisien.

Strategi aliansi yang dikembangkan oleh Sattelberger telah merevolusi industri penerbangan dunia. Awalnya, pada pertengahan tahun 1990-an, ongkos transportasi udara naik lebih cepat dan tidak setara lagi dengan kemampuan konsumen untuk membayar ongkos penerbangan.

Sampai suatu saat, Presiden Lufthansa, Frank Reid, mengumumkan berdirinya Star Alliance pada tahun 1995. Dengan anggota Lufthansa, United Airlines, Scandinavian Airlines, Varig (Brazil), Air Canada, dan Thai Airlines.

Star Alliance menjadi aliansi penerbangan terbesar dari segi jumlah perusahaan penerbangan yang menjadi anggotanya. Namun, karena tidak ada otoritas sentral yang berlaku atas aliansi tersebut, kinerja aliansi tidak efektif. Sattelberger kemudian mengembangkan bottom-up innovation sebagai asset terpenting Star Alliance.

Ia mendesain serangkaian program alliance mentality anggota aliansi untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan. Karena ia menyadari bahwa individu dapat menyumbangkan pandangan dan pengalamannya untuk kepentingan kolektif aliansi, dan itu berhasil dengan keberanian berusaha.