Perlu Keseriusan Tekan Defisit NPI

Rabu, 04/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah mengupayakan agar nilai ekspor dapat terjaga dan defisit neraca perdagangan yang terjadi dalam dua bulan terakhir tidak melebar dalam bulan-bulan mendatang. "Kami sudah melakukan koordinasi antarpemerintah, baik di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian ataupun BKPM, untuk bisa merespon dengan baik, sehingga defisit ini tidak makin membesar," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Selasa.

Menkeu menambakan kondisi tersebut telah menjadi perhatian pemerintah, dan saat ini salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan diversifikasi pasar ekspor agar nilai ekspor kembali melebihi angka impor barang ke Indonesia. "Eksportir bisa mempelajari pasar baru, itu terus dilakukan,” tegasnya.

Diakui Mantan Dirut Bank Mandiri ini, pemerintah tak bisa membendung derasnya impor barang. “Upaya kita untuk menahan impor memang tidak bisa dielakkan karena banyak impor merupakan bentuk bahan baku atau barang setengah jadi yang dibutuhkan industri kita," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Khrisnamukti mengungkapkan terjadinya defisit mencapai USD485,9 juta atau menurun dari defisit dari bulan sebelumnya mencapai USD764,7 Juta menurunnya ekspor non migas. "Defisit perdagangan terutama disebabkan oleh defisit perdagangan nonmigas sebesar USD486,1 juta yang dipicu oleh melonjaknya ekspor nonmigas sebesar 21,6% (yoy) sementara ekspornya turun 7,8%," ungkapnya

Bayu mengatakan, secara kumulatif neraca perdagangan Januari hingga Mei 2012 masih surplus USD1,5 miliar atau turun 87% (YoY). "Penurunan surplus dipicu oleh anjloknya surplus perdagangan nonmigas yang hanya mencapai USD2,6 miliar atau turun 77,7% (yoy) dan defisit perdagangan migas sebesar USD1,1 miliar," jelas Bayu.

Bayu menuturkan, penurunan surplus perdagangan nonmigas dipicu oleh meningkatnya defisit perdagangan Indonesia dengan beberapa mitra dagang utama antara lain dengan China, Jepang, Singapura, Thailand, Korsel, dan Australia.

Menurut Bayu, China merupakan negara mitra dagang utama yang menyumbang defisit nonmigas terbesar mencapai USD3 miliar selama Januari hingga Mei 2012 atau meningkat dari USD2,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Negara mitra dagang nonmigas yang masih memberikan surplus terbesar terhadap neraca perdagangan meskipun mengalami penurunan di antaranya Belanda, AS, Malaysia, Spanyol, Uni Emirat Arab, dan Bangladesh," kata Bayu.

Selain itu negara-negara yang memberikan defisit terbesar terhadap neraca perdagangan Indonesia antara lain China, Thailand, Jepang, Korsel, Australia, Rusia, Swedia, Kanada, Singapura, dan Argentina.

Sebelumnya, Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan pemerintah harus mewaspadai kondisi perdagangan internasional saat ini yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit. "Kondisi perdagangan internasional harus dijaga karena kita defisit terus. Ini rawan, karena defisit jarang terjadi. Jadi harus dicegah," ujarnya.

Sasmito menyebutkan situasi pada pertengahan tahun ini sangat memungkinkan industri untuk melakukan impor barang sebagai persiapan masa produksi menjelang bulan puasa. "Kita khawatir juga karena pabrik-pabrik kita butuh proses produksi untuk kebutuhan puasa dan Lebaran. Jadi banyak kebutuhan impor dari luar dan membuat hal tersebut sulit ditahan," ucapnya.

Menurut dia, defisit neraca perdagangan ini dapat mengurangi cadangan devisa negara, karena sumber devisa dari hasil ekspor makin mengecil. Selain itu, apabila kondisi ini makin berlarut maka akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia. **bari/cahyo