Australia Tahan Suku Bunga 3,50%

Rabu, 04/07/2012

NERACA

Sydney---Bank sentral Australia mempertahankan suku bunga utamanya stabil 3,50% pada Selasa, mengatakan pertumbuhan domestik yang kuat diimbangi ketidakpastian global dan pemangkasan terakhir telah memberikan ruang bernapas. "Sebagai akibat dari urutan keputusan sebelumnya, telah terjadi pelonggaran material dalam kebijakan moneter selama enam bulan terakhir," Gubernur RBA Glenn Stevens mengatakan dalam sebuah pernyataan

Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku uang resmi pada 3,50% untuk Juli setelah dua putaran penurunan -- 50 basis poin pada Mei dan 25 poin pada Juni -- yang membawa tingkat suku bunga ke tingkat yang tidak terlihat sejak November 2009. "Pada pertemuan hari ini dewan menilai bahwa, karena inflasi diperkirakan konsisten dengan target dan pertumbuhan mendekati tren, tetapi dengan prospek internasional lebih tenang dibanding kasus yang terjadi beberapa bulan lalu, sikap kebijakan moneter masih tepat." Dolar Australia sedikit merosot dari 1,0277 dolar AS menjadi 1,0268 dolar AS karena berita tersebut.

Stevens mengatakan, sementara perbaikan telah dilakukan di Eropa, krisis keuangan kawasan itu "akan tetap menjadi sumber potensial dari guncangan merugikan untuk beberapa waktu", dengan pasar saham global terus bersifat labil.

Ekonomi Australia telah ekspansi "dengan kecepatan yang agak lebih kuat dari yang telah ditunjukkan sebelumnya", katanya, dengan pertumbuhan 1,3% pada kuartal pertama 2012 dan 4,3 persen pada setahun hingga Maret. Kondisi pasar tenaga kerja "juga telah sedikit menguat" tambahnya, dengan pengangguran "rendah" di 5,1% pada Mei.

Secara global, Eropa tampak melemah dan mitra utama perdagangan Australia, China juga memperlihatkan "pertumbuhan lebih lambat", dengan tren di Asia lebih luas tertutup oleh ketidakpastian global. Harga komoditas telah jatuh, inflasi melemah dan mendorong puncak pada perdagangan Australia -- nilai ekspor dibandingkan impor -- meskipun dolar yang didukung pertambangan tetap tinggi.

Ditempat terpisah, Kepala Bank Dunia yang baru Jim Yong Kim, Senin memperingatkan, krisis keuangan zona euro menimbulkan risiko untuk ekonomi global dan mengatakan pihaknya mendesak negara-negara Eropa bertindak untuk memulihkan stabilitas.

Dalam sebuah pernyataan menandai hari pertamanya pada pekerjaan tersebut, Kim mengatakan, ekonomi dunia "masih sangat rentan." Bank Dunia memiliki "sebuah kewajiban ekonomi dan moral untuk membantu mengatasi risiko terhadap pertumbuhan global, di mana pun mereka muncul," katanya.

Dikatakan Kim, ekonomi global yang kuat menguntungkan semua negara, sebuah ekonomi global yang lemah membuat semua negara rentan. "Ini sangat mendesak bahwa negara-negara Eropa mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mengembalikan stabilitas karena tindakan mereka akan mempengaruhi pertumbuhan di semua wilayah dunia,” paparnya.

Kim, seorang dokter dan spesialis kesehatan global yang terpilih mengungguli dua ekonom paling dihormati untuk posisi itu, mengatakan prioritas mendesaknya memimpin pemberi pinjaman global itu "untuk membantu negara-negara berkembang mempertahankan kemajuan terhadap kemiskinan di masa-masa labil."