PLN Berusaha Beralih Ke Energi Primer Lain

Tekan Penggunaan BBM

Rabu, 04/07/2012

NERACA

Jakarta - Mengetahui keadaan cadangan minyak untuk Indonesia menipis dan dihargai sangat mahal, hal tersebut membuat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berusaha memaksimalkan penggunaan energi primer lain, seperti gas, batubara, air serta energi terbarukan, sekaligus menekan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkitnya.

Hingga Mei 2012, realisasi konsumsi BBM PLN mencapai 3,59 juta kiloliter (kl) atau lebih rendah 3% dari target yang ditetapkan sebanyak 3,72 juta kl. Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki mengatakan, rendahnya realisasi konsumsi BBM dari target yang ditentukan tidak lepas dari meningkatnya konsumsi gas pembangkit listrik PLN selama periode tersebut.

Sebaliknya, konsumsi gas justru meningkat. "Realisasi konsumsi gas melebihi 7% dari target 115.368 BBTU menjadi 123.661 BBTU. Kami maksimalkan semua pembangkit berbahan bakar gas yang ada," ujar Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki, di Kantor PLN Pusat, Selasa (3/7). Tahun ini ditargetkan mencapai 356 BBTUD. Sedangkan penyerapan batubara sampai Mei baru mencapai 92% dari target atau sebesar 15.438.674 ton.

Peningkatan konsumsi gas tersebut belum termasuk pasokan gas dari unit penampungan dan regasifikasi LNG terapung (FSRU) Jawa Barat. Sebab, pasokan gas dari FSRU Jawa Barat belum signifikan dan stabil, yakni baru mencapai 50 mmscfd. "Diharapkan gas akan meningkat terus sehingga dapat menekan konsumsi BBM, mudah-mudahan batu bara juga akan meningkat sesuai target," katanya.

Pasokan Bagian Timur

Mengenai pasokan gas di Indonesia bagian timur terutama untuk PLTGU Sengkang di Sulawesi Selatan. PLN akan memperoleh tambahan pasokan gas berasal dari Blok Sengkang yang digarap PT Energy Equity Epic (Sengkang) Pty Ltd. Pasokan gas sebesar 15 MMscfd atau setara 120 MW akan masuk penuh pada November tahun ini

Suryadi menjelaskan, gas tersebut dipatok dengan harga US$3,5 per MMBTU. PLN juga akan menerima tambahan gas sebesar 70 mmscfd dari Lapangan Walanga, Sampi Sampi, Bonge (Wasambo) yang juga dimiliki Energy Equity Epic (Sengkang). Energy Epic telah mendapat persetujuan rencana pengembangan lapangan tersebut sejak 2011. Rencananya, pengembangan lapangan akan dibarengi dengan pembangunan kilang gas alam cair (LNG) skala kecil.

Menurut Suryadi, proyek ini rampung pada 2013-2014. Nantinya, LNG yang diproduksi akan digunakan untuk menggantikan PLTD yang tersebar di Indonesia Timur. Pasokan tersebut akan dipakai untuk menutup kebutuhan gas di Indonesia Timur sebesar 80-90 mmscfd.

Walaupun begitu, PLN masih mengakui kekurangan gas untuk pasokan PLTU Muara Tawar, Jakarta, jika swap gas Lapangan Gajah Baru milik Premier Oil sebesar 40 MMscfd dialihkan ke Krakatau Steel. Namun, pihak Krakatau Steel tidak bisa terima gas tersebut karena terbentur masalah harga. “PLN mau ambil tetapi terbentur kemampuan PGN. PGN baru bisa selesaikan bulan Mei 2013. Padahal Gajah Baru 18 bulan dari kontrak sekarang ini," terang Suryadi.

Konsumsi Pelanggan

Namun, menurut dia, pasokan gas PLN tidak terserap penuh karena pola konsumsi listrik oleh pelanggan yang bervariasi dan produksi listrik PLN yang tidak hanya menggunakan gas, tapi ada bahan bakar lainnya. Suryadi mencontohkan, pada saat di luar beban puncak seperti pada pukul 08.00 kebutuhan hanya 150 bbtud, pada siang hari naik 160 bbtud dan pada beban puncak khususnya pada malam hari naik 250 bbtud.

"Pada pagi hari inilah yang kami tidak bisa menyerap pasokan gas sepenuhnya, apalagi pembangkit di Jakarta juga ada yang menggunakan batubara, air dan lainnya yang juga beroperasi 24 jam," terangnya. Dia menegaskan pada saat beban puncak PLN sangat membutuhkan banyak gas karena pasokan saat ini masih kurang banyak. PLN masih membutuhkan tambahan untuk beban puncak rata 62 bbtud.