Koperasi Jadi Mitra Perbankan Layani Masyarakat Miskin

NERACA

Jakarta---Koperasi dan bank perkreditan rakyat dinilai sebagai mitra yang sinergis dalam dunia perbankan. Karena lembaga keuangan mikro ini untuk menjangkau masyarakat miskin Indonesia yang masih sulit mendapat akses layanan keuangan. “Oleh karena itu, perbankan membutuhkan mitra seperti koperasi untuk menjangkau mereka," kata Direktur Pengembangan Bisnis Bank Andara, Don Johnston di Jakarta,3/7

Lebih jauh kata Don, Indonesia memiliki sekitar 40 jutaan UMKM yang tersebar di seluruh tanah air. Namun sayangnya masih minim yang bankable. “Lebih dari 40 juta penduduk Indonesia merupakan pengusaha kecil dan mikro, namun hanya 13% yang memperoleh akses ke jasa keuangan formal,” tegasnya.

Don mengungkapkan sektor keuangan mikro di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia dengan sekitar 50.000 lembaga keuangan mikro (LKM) yang melayani lebih dari 40 juta orang. "Namun, kami memperkirakan bahwa 50 juta penduduk saat ini masih belum mendapatkan jasa keuangan, dan hampir separuh dari jumlah tersebut hidup dengan penghasilan di bawah (2 dolar AS) perhari," ucapnya.

Menurut Don, masyarakat yang belum mendapat akses jasa keuangan tersebut, tidak bisa dijangkau oleh lembaga keuangan formal karena tinggal diluar jangkauan pelayanan, atau dinilai berisiko terlalu tinggi. "Yang bisa menjangkau masyarakat miskin adalah koperasi atau BPR (bank perkreditan rakyat). Lembaga tersebut mendominasi usaha mikro di Indonesia dengan jumlah nasabah sekitar 10.000," paparnya.

Namun, Don menjelaskan, LKM masih memiliki kendala dalam permodalan, hanya mampu melayani nasabah dengan produk-produk dasar perbankan, sehingga kualitas layanan terhadap masyarakat miskin masih sangat terbatas.

Dikatakan Don, perbankan formal di pusat-pusat ekonomi di kota-kota besar dapat membantu sisi permodalan LKM, sehingga masyarakat miskin bisa mendapatkan pinjaman untuk mengembangkan usaha.

Dalam pandangan Johnston, bank bisa memberi pinjaman kepada LKM seperti koperasi dan BPR yang dia sebut sebagai LKM prorakyat miskin ("pro poor"). "LKM prorakyat miskin bisa dilihat dari rata-rata besar pinjaman dari nasabah, jika rata-ratanya kurang dari lima juta rupiah, maka LKM tersebut tergolong 'pro-poor'," tuturnya.

Indikator lain LKM prorakyat miskin adalah area jangkauan. Jika LKM tersebut menjangkau area pedesaan, daerah kumuh perkotaan, dan di luar Jawa/Bali, maka Johnston mengategorikan LKM tersebut sebagai "pro poor”. "LKM pro poor juga harus menjangkau kelompok wanita, pemuda, pekerja, dan petani," kata Johnston.

Karakteristik metodologi pembiayaan juga bisa digunakan perbankan formal untuk melihat apakah sebuah “LKM pro poor' atau tidak. Portofolio pembiayaan LKM pro rakyat miskin akan menggunakan metodologi kredit kelompok seperti pola Grameen Bank. **cahyo

BERITA TERKAIT

Karyawan Telkomsel Bangun Jembatan Berdaya - Permudah Akses Masyarakat di Pelosok Garut

Sebagai wujud kepedulian bagi masyarakat sekitar tempat beroperasi, Telkomsel bersinergi bersamaan salah satu komunitas keagamaan karyawan, Majelis Taklim Telkomsel (MTT)…

Momok PKI Membodohi Masyarakat

NERACA Jakarta - Pada 2018 Indonesia akan memasuki tahun politik dalam rangka memilih kepala daerah untuk lima tahun ke depan.…

Presiden: Sederhanakan Perizinan dan Sistem Perbankan - UNTUK MENINGKATKAN AKSES INKLUSI KEUANGAN

Jakarta-Presiden Jokowi mengatakan, perlunya penyederhanaan sistem dan penyederhanaan izin-izin yang ruwet agar masyarakat dapat mengakses ke perbankan dan sektor jasa…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BNI Sosialisasikan BNI Yap di Java Jazz

  NERACA Jakarta - Untuk memanjakan para penggemar musik jazz Indonesia serta menyosialisasikan alat pembayaran baru pada pagelaran musik Jakarta…