Kampanye HIV Perlu Terus Digalakkan

Untuk Turunkan Angka Kematian 50%

Sabtu, 14/07/2012

Upaya pencegahan dan pemeriksaan kasus HIV perlu lebih digalakkan guna mempercepat turunnya morbiditas dan mortalitas.

NERACA

Upaya pencegahan dan pemeriksaan kasus HIV perlu lebih digalakkan guna mempercepat upaya turunnya morbiditas dan mortalitas akibat penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia.

Di samping itu, upaya diagnosis dini seperti memperbanyak layanan testing HIV, tersedianya Provider Initiative Testing and Counseling (PITC) serta tes untuk pengguna narkoba suntikan pasangan seksual, IMS, TBC, ibu hamil, anak yang lahir dari ibu HIV positif merupakan langkah penting untuk memperkecil risiko infeksi penyakit ini.

Sedangkan, data di RSCM menyebutkan beberapa infeksi oportunistis yang terjadi, yaitu Kandidiasis mulut - esofagus 80,8 % Tuberkulosis 40,1 %, Sitomegalovirus 28,8 %, Ensefalitis toksoplasma 17,3%, Pneumonia P. carinii (PCP) 13,4 %, Herpes simpleks 9,6 %, M. avium kompleks (MAC) 4,0%, Kriptosporodiosi 2,0 % serta Histoplasmosis paru 2,0 %.

WHO menargetkan pada tahun 2015 dapat menurunkan infeksi baru HIV pada laki-laki dan perempuan muda 50%, menurunkan infeksi baru HIV pada bayi dan anak 90% serta menurunkan angka kematian terkait HIV 50%.

Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi Dari 350.000 orang Indonesia yang diduga menderita HIV, saat ini baru 70.000 yang telah melakukan tes sedangkan 280.000 lainnya belum. Upaya menjangkau jumlah yang belum dites tersebut terus dilakukan, salah satunya adalah dengan menyediakan sarana pemeriksaan yang mudah dilakukan, mudah diakses (tersedia sampai ke daerah perdesaan) serta terjangkau.

Upaya-upaya edukasi yang kontinyu juga perlu dilakukan mengenai pencegahan dan terapi HIV di semua kalangan masyarakat mengingat pencegahan merupakan komponen terpenting dalam memutus rantai penyebaran penyakit ini.

"Dokter dan tenaga kesehatan diharapkan partisipasinya dalam mendorong masyarakat yang berisiko tinggi untuk segera melakukan pemeriksaan," tuturnya.

Pemeriksaan diagnostik terhadap HIV/AIDS kini memfokuskan pemeriksaan terhadap tes serologi HIV, CD4 dan viral load. CD4 merupakan sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit.

CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi penanda yang sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia.

Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 410-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol), ujuarnya.

Pemeriksaan CD4 sangat berguna untuk membandingkan kemajuan dalam pemeriksaan HIV, sebelum dan sesudah pengobatan. Hal ini bisanya dilakukan secara teratur tiap 3 bulan sekali. Namun sayangnya pemeriksaan CD 4 masih terbatas di kota-kota besar.

“Diperlukan suatu teknologi yang tepat guna, sederhana tetapi akurasinya tinggi. Dalam beberapa waktu terakhir ini, alat ini sudah tersedia di kota-kota besar, jelasnya.

Dengan cepat terdeteksinya penurunan jumlah CD4, maka tindakan pemeriksaan lebih lanjut (viral load) pun dapat segera dilakukan, sehingga dapat segera dilakukan penanganan yang akan meningkatkan harapan hidup ODH.

Jika terdeteksi positif, maka penderita dapat segera diobati dengan pengobatan Antiretroviral (ARV) yang dapat mengurangi transmisi penyakit ini. Pada tahun ini, kami berharap dapat melakukan pemeriksaan ARV kepada lima juta orang sehingga dapat meningkatkan deteksi kasus dan melakukan pengobatan ARV.

“Pengobatan ARV bermanfaat untuk orang dengan HIV namun juga bermanfaat untuk menurunkan risiko penularan pada orang lain,“ jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Mohammad Fauzi selaku National Sales Manager dari PT Medquest Jaya Global mengatakan, “Salah satu pemeriksaan tepat guna terhadap infeksi HIV/AIDS saat ini adalah tersedianya instrumen dengan pemeriksaan CD4 dalam bentuk Point of Care untuk menghitung jumlah CD4.”

Bentuk Point of Care yang portabel, simpel, dan praktis sehingga memungkinkan pemeriksaan CD4 dilakukan di tempat bahkan tidak perlu pergi atau mengirimkan sampel darah ke laboratorium, sehingga pasien HIV akan terus mudah terkontrol angka CD4nya, disamping itu pengobatan pada pasien HIV juga terkontrol terus efektivitas obatnya.

“Jika deteksi sudah dilakukan, maka terapi monitoring bagi ODHA penting untuk diketahui yaitu dengan melakukan pemeriksaan jumlah virus HIV dalam darah dengan viral load, pasien dapat mewaspadai bahwa dengan meningkatnya viral load maka semakin cepat penyakit HIV berkembang dan mudah menular kepada orang lain,” tuturnya.

Selain itu, viral load juga menjadi salah satu terapi monitoring yang dapat menunjukkan apakah terapi antiretroviral (ART) mengendalikan virus HIV, tambahnya.

“Infeksi HIV diprediksikan masih akan terus meningkat di Indonesia sampai tahun 2020. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan untuk menganjurkan tes HIV penting untuk diagnosis dini. Juga perlu dilakukan peningkatan jaringan layanan terapi,” tuturnya.