Asing Tertarik Industri Tekstil di Indonesia

Sabtu, 07/07/2012

NERACA

Industri tekstil di Indonesia ternyata masih menarik minat investor dari luar. Tak cuma dari pebisnis dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

Pada saat ini saja sudah ada 18 pengusaha tekstil asal China yang berencana berinvestasi di sini. Kalau rencana ini berjalan, pengusaha China ini bakal mendatangkan modal sebesar US$200 juta.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengatakan, beberapa perusahaan tekstil China ini, di antaranya adalah Hi-Tech Group Corporation dan Texhing Textile Group Co Ltd. Pengusaha tekstil negeri tembok raksasa ini masih mengincar Pulau Jawa sebagai basis produksi mereka.

Bahkan Hi-Tec Group berencana menanamkan investasi dalam jangka panjang. Diperkirakan investasi senilai US$6 miliar akan mereka tanamkan secara bertahap.

Tentu saja kalau terealisasi rencana investasi ini bakal menguntungkan industri tekstil nasional. Pasalnya investasi tersebut mampu mendongkrak kapasitas produksi tekstil nasional hingga sebesar 50%.

Apalagi investasi pengusaha asal China tersebut bakal bergerak di sektor hulu tekstil. Dengan begitu, Ade memperkirakan, kapasitas produksi tekstil hulu bisa meningkat sebesar 30%.

Pengusaha tekstil asal China tersebut berencana untuk menjadikan pasar ekspor sebagai prioritas penjualan mereka. Dengan demikian, Hi-Tech Group akan membantu daya saing tekstil Indonesia secara keseluruhan dan meningkatkan kinerja ekspor tekstil nasional.

API sendiri memprediksi ekspor tekstil nasional mencapai US$ 14 miliar di tahun ini. Nilai ekspor ini naik sekitar 5% dibandingkan realisasi ekspor pada 2011 lalu yang hanya sebesar US$ 13,3 miliar. Bahkan API yakin ekspor tekstil nasional bakal mencapai US$ 25 miliar di 2016.

Nah, bakal hadirnya pengusaha tekstil asal China ini makin meramaikan investor asing di industri tekstil. Sebelumnya, penguasa tekstil asal Korea Selatan dan Taiwan sudah berinvestasi di sini.

Dir. Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika, Selasa (03/07) mengatakan, sebagian besar investor asing di sektor tekstil mengincar industri hilir berupa industri garmen. Itulah sebabnya, pemerintah mengarahkan mereka untuk menanamkan investasinya di Jawa Tengah.

Secara geografis lokasi yang tingkat ketersediaan airnya rendah lebih cocok untuk industri tekstil kering seperti garmen. "Tidak seperti di Majalengka yang cocoknya untuk tekstil basah seperti untuk produk kain," tandasnya.

Menurut dia, salah satu alasan investor asing merelokasi pabrik ke negara Indonesia adalah faktor biaya tenaga kerja. Nah, Indonesia punya saingan berat yakni Vietnam. Di negeri itu upah pekerjanya lebih murah ketimbang di Indonesia.

Agar bisa bersaing, Indonesia harus menyiapkan tenaga kerja siap pakai di industri tekstil. Investor tekstil Korea Selatan, misalnya, sudah mengirim pekerja lokal untuk menimba ilmu di China. Asal tahu saja, sekitar 70% investor tekstil dan produk tekstil (TPT) berasal dari Negeri Ginseng itu, tuturnya.

Proporsi stimulus industri tidak akan sebesar pada stimulus untuk meningkatkan daya beli. Jika fokus stimulus diberikan pada industri (sisi suplai), kemungkinan besar produksi meningkat, tenaga kerja terserap.

Tapi jika tak ada yang membeli, karena daya beli lemah, perusahaan akhirnya akan merugi, dan terjadi PHK. Di dalam kondisi krisis, dalam jangka pendek yang dibutuhkan adalah mendorong permintaan. Sedangkan untuk mendorong industri yang perlu dijaga adalah jalur kredit, karena kredit akan memungkinkan industri menjalankan produksinya.