Industri Konveksi Berkembang Pesat

Pertumbuhan Sekitar 30%

Sabtu, 07/07/2012

Pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang industri konveksi optimistis akan berkembang dalam percepatan industri ekonomi kreatif. Bahkan, perkembangan usaha diperkirakan tumbuh hingga 30% sampai akhir tahun ini.

NERACA

Industri usaha kecil dalam perekonomian Indonesia menjadi semakin penting terutama setelah krisis melanda ekonomi Indonesia. Para pengusaha kecil pada saat krisis ekonomi dipandang telah menunjukkan kekuatan dan potensi sesungguhnya dalam hal daya tahan menghadapi guncangan maupun dalam hal peranannya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

Galeri Mamah Euis (GME) adalah sebuah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di bidang usaha konveksi (pakaian jadi). Awalnya GME memproduksi berbagai jenis pakaian untuk semua usia yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Namun seiring dengan perkembangan pasar yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen secara umum. GME saat ini cenderung memproduksi pakaian muslim semi formal atau kontemporer.

Nilai penjualan rata-rata untuk periode Januari- Juni adalah sebesar Rp. 14.000.000,-/bulan dengan modal awal sebesar Rp. 30.000.000,-. Prospek pengembangan usaha konveksi sangat menjanjikan mengingat pakaian adalah kebutuhan primer (sandang) selain makanan (pangan) dan perumahan (papan).

Kebutuhan akan pakaian ini mutlak harus dipenuhi mengingat sangat diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Selain itu, bisnis ini memiliki pangsa pasar yang sangat luas, tren dan mode yang sangat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman.

Permintaan pasar untuk usaha ini sangat besar. Diperkirakan ada minimal 9 juta jiwa orang dewasa (baik lokal atau pun wisatawan) yang setiap bulannya berbelanja di pasar Tanah Abang dengan perputaran uang mencapai 4 miliar rupiah.

Dengan permintaan produk 18.000.000,- baju/tahun (asumsi kebutuhan 2 baju per orang per tahun). Dari jumlah di atas jumlah rata-rata penjualan per tahun sebesar 2860 potong/tahun, artinya jumlah penjualan baru memenuhi 0,015% pasar. Diharapkan perusahaan dapat memenuhi 1% pasar pada tahun ini.

Dengan asumsi kenaikan penjualan produk sebesar 20% per tahun. Perkiraan ini bisa direalisasikan dengan rencana peningkatan modal usaha, penambahan tenaga kerja, jumlah kapasitas produksi, peningkatan distribusi penjualan, dan meningkatkan strategi pemasaran.

Pertumbuhan Industri UKM

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika, Selasa (03/07) mengatakan, “industri UKM saat ini memang sangat meresahkan para pelaku usaha kecil kita, seperti pengusaha tekstil di Tanah Abang 90% sudah dikuasai oleh pengusaha dari China,” tuturnya.

Menurut dia, ini sudah sangat mengganggu pengusaha kita dan mematikan industri tekstil di Indonesia, karena sudah semakin banyaknya produk luar yang masuk ke pasar tekstil kita.

"Ini karena para pengusaha sudah memakai barang-barang dari luar dan tidak memproduksi sendiri," ujarnya.

Dengan harga lebih murah dan kualitas barang yang bagus membuat para pedagang lebih memilih membeli barang impor dibandingkan dengan membuat sendiri yang memakan waktu dan biaya yang tidak murah.

Produk tekstil kita juga semakin mundur, ini disebabkan kualitas barang luar lebih bagus dibandingkan dengan barang lokal yang menyebabkan para pedagang lebih memilih produk luar dan masyarakat kita juga masih suka memakai produk luar dibandingkan dengan pruduk dalam.

Menurut dia, pemerintah harus cepat mengatasi permasalahan ini, dikarenakan ini akan mematikan usaha kecil kita, dengan membantu usaha kecil ini akan membantu pertumbuhan industri tekstil kita tidak kalah dengan produk dari luar.

Pemberlakuan otonomi daerah yang bersamaan dengan terjadinya krisis ekonomi nasional dan global telah menambah kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang industri konveksi optimistis akan berkembang dalam percepatan industri ekonomi kreatif. Bahkan, perkembangan usaha diperkirakan tumbuh hingga 30% sampai akhir tahun ini.

Dia mengatakan, usaha konfeksi dapat berkembang lebih baik lantaran bahan bakunya mudah didapat dan harganya cukup murah.

“Pertumbuhan usaha ini cukup besar, sudah tumbuh banyak industri konfeksi dan 3 diantaranya cukup besar yaitu di kawasan Pusat Industri Kecil (PIC) Menteng, Jalan Bantan dan di Tembung,” tuturnya.

Menurut dia, para pelaku usaha juga diharapkan lebih banyak menciptakan kreasi dan dapat berkembang lebih baik, agar dapat bersaing dengan produk asing yang sudah mulai ramai di pasar Indonesia.

Industri serupa yang ada di Pulau Jawa, dapat berkembang dengan baik karena seluruh sektor harus benar-benar diperhatikan pertumbuhan UKM di daerah tersebut, sehingga perkembangan betul-betul terangsang.

“Kita tidak usah malu untuk belajar dari luar. Dengan begitu, UKM di daerah dapat berkembang dengan lebih baik,” ujarnya.

Peningkatan pertumbuhan industri, katanya, dapat lebih besar lagi jika perbankan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turut mendukung dengan melakukan pembinaan melalui PKBL dan CSR, termasuk pemerintah daerah.

“Jika BUMN turut memperlihatkan dukungan berbentuk pelatihan dan pembinaan, tentu akan memunculkan gairah pelaku UKM untuk mengembangkan usahanya,” ungkapnya.

Pengamat UKM Nining Indrojono Susilo mengatakan, industri kreatif dalam bentuk konfeksi, belum terlalu berkembang dan masih seperti tahun-tahun sebelumnya.

Banyak penyebabnya, satu di antaranya adalah masalah selera konsumen dan budaya di Indonesia yang masih jauh dari lirikan orang luar.

“Terlebih, masyarakat Indonesia sendiri kurang perhatian atau kurang tertarik dengan hasil olahan kreativitas anak-anak bangsa sendiri,” urainya.

Ini merupakan perbedaan yang sangat berarti dengan daerah lainnya, seperti dengan masyarakat Jogja atau Bandung. Masyarakat di wilayah itu, sangat antusias dengan produk kreatif masyarakatnya. Bisa dikatakan, kalau usaha UKM di sektor garmen dengan pendekatan kreativitas, masih sulit berkembang.

Selama semua kalangan baik pemerintah, masyarakat, maupun komponen lainnya, masih sangat jarang menggunakan produk buatan lokal. “Jika kondisi ini terus berjalan, maka ekonomi kreatif yang kerap didengungkan oleh para ahli itu, hanya tinggal selogan aja,” tuturnya.

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menumbuhkembangkan usaha atau bisnis kreatif ini, di antaranya melakukan berbagai gerakan yang dapat mengundang perhatian masyarakat luas khususnya masyarakat Indonesia.