Prospek Cerah Bisnis Pakaian Kelas Menengah

PT Trisula Internasional Tbk

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta – Industri tekstil sebagai produsen pakaian jadi dalam negeri saat ini mengalami persaingan hebat ditengah serbuan pakaian impor asal Cina. Oleh karena itu, bisnis ini memiliki risiko dalam perdagangan ekspor. Kendatipun demikian, bisnis ini masih menjadi daya tarik karena telah menjadi kebutuhan masyarakat. Keyakinian inipulah yang dilakukan PT Trisula International Tbk (TRAS) bisa mencatatkan pendapatan lebih baik.

Direktur Utama PT Trisula International Tbk Lisa Tjahjadi mengatakan, industri pakaian jadi yang digeluti perseroan masih memiliki prospek bagus karena besarnya populasi masyarakat di Indonesia menjadi potensi pasar menggenjot penjualan, “Perseroan menargetkan penjualan bersih sekitar Rp600 miliar pada 2012 dengan peningkatan laba bersih 100%,”katanya di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, nantinya target penjualan tersebut akan ditopang dari gerai yang dimiliki sebanyak 165 lokasi. Bahkan sampai akhir 2015, perseroan sudah memiliki jumlah gerai dan toko di 350 lokasi dan saat itu diperkirakan jumlah karyawan yang diserap bisa mencapai sekitar 1.000 orang.

Menurutnya, ekspansi usaha akan terus dilakukan oleh karena bisnis retail di Indonesia dinilai sangat prospektif. Dengan total populasi Indonesia yang mencapai 239 juta saat ini dan pendapatan per-kapita yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dapat dipastikan daya beli masyarakat juga semakin meningkat.

Saat ini 65% penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa maka distribusi kita 75% di Pulau Jawa & Bali, sisanya Sumatra (17%), Sulawesi (4%), dan Kalimantan (4%). Di sisi lain pembangunan dan perluasan pusat perbelanjaan di Indonesia juga semakin mendukung ekspansi. Saat ini jumlah pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia berada di sekitar 700 lokasi, di antaranya 130 buah ada di Jakarta memberikan peluang yang terbuka lebar bagi penambahan jumlah gerai yang ada.

Semester Pertama

Perseroan memproyeksikan laba bersih di semester pertama 2012 mencapai Rp8 miliar dari target laba bersih Rp30 miliar pada 2012. Sementara pendapatan akan mencapai Rp126 miliar dari target pendapatan senilai Rp600 miliar pada 2012.

Kata Lisa Tjahjadi, pencapaian kinerja perseroan masih sesuai target. Pasalnya, kinerja didukung dari segmen ritel dan ekspor. “Tahun lalu segmen ritel menyumbangkan kontribusi 20%-25% dan sisanya ekspor sekitar 20%,”tandasnya.

Dia menambahkan, pencapaian target tersebut akan didukung dari akuisisi hingga 50% satu perusahaan baru yakni PT Trisco Tailored Apparel Manufacturing. Nantinya kontribusi akuisisi perusahaan tersebut mencapai Rp1 miliar.

Sementara satu perusahaan yang baru diakuisisi tersebut akan melengkapi tiga anak usaha sebelumnya yaitu PT Tritirta Saranadamai sebesar 98%, PT Trisula Garmindo Manufacturing sebesar 95%, dan PT Trimas Sarana Garment Industry sebesar 95%,”PT Trisco Tailored Apparel Manufacturing akan mendukung kinerja kami dalam enam bulan berikutnya, kontribusi pendapatan Trisco Tailored Apparel Manufacturing tersebut akan mencapai sekitar 30%. Industri ritel kita sendiri kontribusinya 25%,"ungkap

Brand Baru

Guna menggenjot penjualan, perseroan kata Lisa Tjahjadi tengah melakukan pembicaraan serius dengan beberapa pihak dari Asia untuk menghadirkan dua brand baru. Dua brand baru tersebut diharapkan selesai pada akhir tahun ini. Hingga Mei 2012, perseroan telah membuka sekitar 20 gerai dan sampai akhir tahun perseroan sudah ada perjanjian dengan mal untuk menambah 4 gerai baru di Karawaci, Kota Kasablanka, Alam Sutera dan Mal Taman Anggrek.

Hasil penawaran saham perdana, perseroan mendapatkan dana segar Rp 90 miliar. Dana segar hasil IPO tersebut sebagian besar akan digunakan untuk modal kerja ekspansi usaha retail perseroan. Sedangkan sekitar 35% untuk mengakuisisi Trisco (PT Trisco Tailored Apparel Manufacturing).

Kemudian Lisa Tjahjadi menegaskan, kinerja dan penjualan perseroan tidak memiliki dampak berarti ditengah krisis Eropa. Pasalnya, perseroan lebih cenderung menyasar pasar domestik karena masih mempunyai ruang cukup besar, “Kinerja perusahaan tidak terpengaruh terhadap kondisi di Eropa, 'demand' domestik masih cukup tinggi," tandasnya. (bani)