Asuransi BUMN Belum Tertarik Go Public

Lebih Pilih Terbitkan Obligasi

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta – Maraknya industri asuransi nasional melakukan akuisisi dan termasuk pengembangan produk, ternyata belum menjadi daya tarik bagi industri asuransi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk segera ikut melantai dipasar modal.

Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN Parikesit Suprapto mengatakan, hingga 2012 asuransi BUMN belum ada rencana melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), “Belum ada asuransi BUMN yang akan IPO tahun ini. Tahun depan 2013 juga belum ada," katanya di Jakarta, Senin (2/7)

Menurutnya, kebutuhan modal di industri asuransi BUMN belum begitu mendesak hingga tahun depan. Kendatipun akan tambah modal, asuransi plat merah ini akan lebih memilih menerbitkan obligasi ketimbang harus IPO.

Menyinggung soal obligasi, dia mengakui akan ada satu asuransi BUMN yang akan menerbitkan obligasi dalam waktu dekat. Namun belum bisa disebutkan perusahaannya. Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan menargetkan permodalan pasar modal Indonesia mengalahkan pasar modal Singapura dengan memperbanyak aksi korporasi BUMN melalui saham perdana atau initial public offering (IPO). “Tujuannya karena kita punya pasar modal agar pasar modal membesar, kalau Tuhan mengizinkan kita punya harapan kapitalisasi (permodalan) pasar modal Indonesia akan melebihi Singapura, dan sejarah bagi indonesia, BUMN harus mendorong pasar modal,” ungkap Dahlan.

Bagi Dahlan, IPO punya dua dampak positif. Selain memperkuat permodalan pasar modal, juga akan menyehatkan perseroan/BUMN yang melakukan IPO. Pemerintah sendiri telah memastikan akan ada lima BUMN yang segera melantai di bursa saham. Salah satunya, PT Semen Baturaja. Sedangkan empat lainnya, merupakan anak perusahaan BUMN.

Perencanaan Belum Matang

Sebelumnya, pengamat pasar modal Universitas Pancasila Agus S. Irfani menyampaikan pesimis, jika IPO BUMN akan terpenuhi target di tahun ini. Pasalnya, hingga Juni perusahaan yang sudah IPO berjumlah lima, “Semua perusahaan yang sudah IPO tidak ada satupun dari BUMN. Soal Semen Baturaja yang ingin IPO di semester kedua ini juga masih belum jelas. Kondisi ini memungkinkan target tidak akan tercapai,”ungkapnya.

Menurutnya, alasan kondisi pasar global yang masih negatif bukan faktor utama IPO BUMN gagal tahun ini. Namun kegagalan ini disebabkan minimnya perusahaan BUMN memiliki 5 komponen Good Corporate Governance (GCG) yang baik. “BUMN itu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness nya buruk. Jadi kalau banyak pengamat yang bilang karena sentimen global, saya tidak sependapat seperti itu,”paparnya.

Kemudian soal adanya perebutan dana masyarakat di pasar seiring tren pasar obligasi dan rights issue yang marak, kata Agus bukan alasan bagi BUMN untuk tidak IPO. “Kalau saya bilang sih bukan karena takut akan perebutan dana di pasar. Tetapi karena ketidakjelasan komitmen BUMN itu sendiri. Perlu kekuatan super untuk membenahi BUMN, meskipun Dahlan Iskan sudah sering berteriak,” paparnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, jika ingin IPO BUMN terlaksana dengan baik, maka penjamin emisi (underwriter) juga harus diseleksi dengan baik pula. Oleh karena itu, Agus menyarankan agar IPO BUMN tahun ini tidak hanya underwriter plat merah tetapi juga underwriter swasta, baik lokal maupun asing.

Sementara ekonom Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai, jika IPO BUMN tahun ini terlaksana hanya satu bisa dibilang gagal, “Rencana IPO BUMN terkesan mandek perlu dipertanyakan dan apakah ada rencana strategi lain dari BUMN,”ujarnya.

Kendatipun demikian, dirinya menegaskan, pelaksanaan IPO BUMN harus dilakukan dengan planning yang baik dengan mempertimbangkan waktu yang tepat. Selanjutnya, Budi menegaskan, tidak ada hubungan mandeknya IPO BUMN dengan kegagalan IPO Krakatau Steel dengan Garuda Indonesia. "Industrinya berbeda jadi efeknya juga berbeda. Krakatau Steel itu sebenarnya tidak gagal, namun memang itu dipengaruhi oleh harga hasil industrinya yang sedang turun. Sedangkan Garuda Indonesia memang ada proses yang tidak benar sehingga harga sahamnya jadi kemahalan dan ini membuat menguras modal underwriternya," jelasnya. (bani)