Matahari Department Store Peroleh Pinjaman Rp 1,225 Triliun

Bayar Utang Dengan Berutang

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta – PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memperoleh pinjaman sebesar Rp 1,225 triliun. Pinjaman itu berdasarkan amandement and restatement agreement yang dilakukan pemegang saham Matahari, Asia Color Company Limited, Matahari, PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan Standard Chartered cabang Jakarta, “Perjanjian ini dilakukan pada 28 Juni lalu," kata Direktur Matahari Andre Rumantir dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/7).

Dia mengatakan, pinjaman itu akan diberikan ke tiga kreditor yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk, Standard Chartered Bank cabang Jakarta, dan PT Bank Internasional Indonesia Tbk. Pinjaman ini merupakan perubahan dan penyertaan kembali atas perjanjian fasilitas sebesar Rp 3,5 triliun pada 5 Maret 2010.

Adapun penggunaan dana pinjaman tersebut adalah untuk pembayaran di muka atas seluruh pokok pinjaman, bunga, dan jumlah lain yang terutang kepada Matahari Pacific. "Selain itu, pinjaman itu digunakan untuk membayar biaya perjanjian ini," ujarnya.

Untuk perjanjian ini, perseroan menjaminkan sebagian besar kekayaan bersih atau seluruh kekayaan atau seluruh aset perusahaan yang telah dijaminkan ke kreditor. Sehingga, perseroan harus mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menjaminkan kekayaan bersih atau seluruh aset Matahari agar mendapatkan pinjaman tersebut.

Rencananya, perseroan akan melaksanakan rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 3 Agustus 2012 sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan dan Ketentuan yang berlaku. Sebagai informasi, LPFF tahun ini menargetkan pembukaan toko pada tahun ini sekitar 12-15 toko.

Menurut CFO LPPF, Richard Gibson, rencana pembukaan toko tersebut meningkat dari pembukaan toko yang dilakukan oleh perseroan pada 2011 yang mencapai 9 toko. “Kami memang akan terus meningkatkan jumlah toko kami yang saat ini sudah mencapai 107 gerai yang tersebar di 50 kota,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk pembukaan toko ini, perseroan mengalokasikan 75% dari anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) 2012 sebesar Rp 400 miliar dengan asumsi tersebut, maka perseroan mengalokasikan sekitar Rp 300 miliar. Sementara sisa 25% dari capex 2012 akan digunakan perseroan untuk pemeliharaan rutin, sistem IT di gerai-gerai, dan untuk meningkatkan visual merchandising pada toko-toko perseroan. (didi)