Matahari Department Store Peroleh Pinjaman Rp 1,225 Triliun - Bayar Utang Dengan Berutang

NERACA

Jakarta – PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memperoleh pinjaman sebesar Rp 1,225 triliun. Pinjaman itu berdasarkan amandement and restatement agreement yang dilakukan pemegang saham Matahari, Asia Color Company Limited, Matahari, PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan Standard Chartered cabang Jakarta, “Perjanjian ini dilakukan pada 28 Juni lalu," kata Direktur Matahari Andre Rumantir dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/7).

Dia mengatakan, pinjaman itu akan diberikan ke tiga kreditor yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk, Standard Chartered Bank cabang Jakarta, dan PT Bank Internasional Indonesia Tbk. Pinjaman ini merupakan perubahan dan penyertaan kembali atas perjanjian fasilitas sebesar Rp 3,5 triliun pada 5 Maret 2010.

Adapun penggunaan dana pinjaman tersebut adalah untuk pembayaran di muka atas seluruh pokok pinjaman, bunga, dan jumlah lain yang terutang kepada Matahari Pacific. "Selain itu, pinjaman itu digunakan untuk membayar biaya perjanjian ini," ujarnya.

Untuk perjanjian ini, perseroan menjaminkan sebagian besar kekayaan bersih atau seluruh kekayaan atau seluruh aset perusahaan yang telah dijaminkan ke kreditor. Sehingga, perseroan harus mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menjaminkan kekayaan bersih atau seluruh aset Matahari agar mendapatkan pinjaman tersebut.

Rencananya, perseroan akan melaksanakan rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 3 Agustus 2012 sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan dan Ketentuan yang berlaku. Sebagai informasi, LPFF tahun ini menargetkan pembukaan toko pada tahun ini sekitar 12-15 toko.

Menurut CFO LPPF, Richard Gibson, rencana pembukaan toko tersebut meningkat dari pembukaan toko yang dilakukan oleh perseroan pada 2011 yang mencapai 9 toko. “Kami memang akan terus meningkatkan jumlah toko kami yang saat ini sudah mencapai 107 gerai yang tersebar di 50 kota,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk pembukaan toko ini, perseroan mengalokasikan 75% dari anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) 2012 sebesar Rp 400 miliar dengan asumsi tersebut, maka perseroan mengalokasikan sekitar Rp 300 miliar. Sementara sisa 25% dari capex 2012 akan digunakan perseroan untuk pemeliharaan rutin, sistem IT di gerai-gerai, dan untuk meningkatkan visual merchandising pada toko-toko perseroan. (didi)

BERITA TERKAIT

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…

Bank Panin Rilis Obligasi Rp 1,4 Triliun

Pacu pertumbuhan kredit lebih agresif lagi, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) bakal menerbitkan obligasi dan obligasi subordinasi dengan total…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Profil Keuangan Dinilai Stabil - Moody’s Naikkan Peringkat XL Axiata

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal pertama 2018 tidak terlalu positif dengan laba bersih terkoreksi 63% dari…

Laba Bersih BULL Melesat Tajam 109,72%

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2018, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 109,72% menjadi…

Indo Straits Incar Pendapatan US$ 20,91 Juta

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Indo Straits Tbk (PTIS) menargetkan total pendapatan sebesar US$ 20,91 juta. Operations Director PT…