Penduduk Miskin Masih 29,13 Juta Orang

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta-- Badan Pusat Statistik (BPS mengungkapkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang atau 11,96% atau turun 890.000 orang dibandingkan bulan yang sama 2011. "Jumlah penduduk yang berada dalam garis kemiskinan turun 0,89 juta orang," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin di Jakarta, Senin,2/7.

Menurut Suryamin, angka penduduk miskin turun 0,89 juta orang atau 0,53% dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang tercatat sebesar 30,02 juta orang atau 12,49% dari jumlah penduduk Indonesia.

Lebih jauh kata Suryamin, dalam setahun penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang sekitar 399.500 orang dari 11,05 juta orang menjadi 10,65 juta orang, sementara di daerah pedesaan berkurang 487 ribu orang dari 18,97 juta orang menjadi 18,48 juta orang.

Suryamin mengatakan faktor yang terkait penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama setahun terakhir adalah upah harian buruh tani dan buruh bangunan meningkat selama triwulan I-2011 dan triwulan I-2012. "Upah harian pada dua periode ini meningkat masing-masing sebesar 2,96% dan 4,81%," ujarnya.

Kemudian, Suryamin mengatakan penerima beras murah atau raskin dalam tiga bulan terakhir pada kelompok 20% penduduk dengan pendapatan terendah, meningkat dari 13,3% menjadi 17,2% di daerah perkotaan. "Begitu juga di daerah pedesaan terjadi peningkatan dari 13,3% menjadi 17,2%," katanya.

Penerima pelayanan kesehatan gratis selama enam bulan terakhir pada 20% penduduk dengan pendapatan terendah juga mengalami peningkatan dari 4,6% menjadi 5,6% di perkotaan. "Hal yang sama juga terjadi di daerah pedesaan, penerima pelayanan kesehatan gratis di kelompok tersebut meningkat dari 3,9% menjadi 4,7%," tuturnya

Selain itu, faktor lain yang ikut mendukung adalah inflasi umum yang relatif rendah yaitu sebesar 3,97% dan perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan oleh kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,32% dalam setahun terakhir.

Suryamin mengatakan perekonomian pada triwulan I-2012 yang tumbuh 6,3% terhadap triwulan I-2011 juga ikut membantu, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9% pada periode yang sama.

Dari sisi ukuran subyektif, persentase rumah tangga dengan 20% penduduk pendapatan terendah yang menyatakan bahwa penghasilannya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sebulan terakhir meningkat dari 8,1% menjadi 12,4% di daerah perkotaan. "Di daerah pendesaan meningkat 8,5% menjadi 11% pada 2012," tukasnya

Pada Maret 2012, komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah beras yaitu sebesar 29,23% di perkotaan dan 35,61% di pedesaan.

Selain itu, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua dengan 8,13% di perkotaan dan 7,07% di pedesaan, telur ayam ras dengan 3,41% di perkotaan dan 2,62% di pedesaan serta gula pasir dengan 2,63% di perkotaan dan 3,68% di pedesaan.

Sementara, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan dengan 10,32% di perkotaan dan 7,16% pedesaan, biaya listrik dengan 2,32% di perkotaan dan 2,06% di pedesaan serta biaya pendidikan dengan 2,88% di perkotaan dan 1,64% di pedesaan.

Suryamin mengatakan dari jumlah penduduk, sebagian besar penduduk miskin berada di Jawa yaitu sebanyak 16,11 juta orang, sementara penduduk miskin terkecil berada di Kalimantan dengan 950.000 ribu orang. "Namun, dari persentase, jumlah penduduk miskin terbesar berada di Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77%," tandasnya. **novi