Penjarahan Minyak Rugikan Negara Miliaran Rupiah

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta - Aksi kriminal semakin marak terjadi di daerah operasi minyak dan gas bumi milik anak perusahaan PT Pertamina (Persero), Pertamina EP khususnya di Sumatera Selatan dan Jambi. Tindakan kriminal yang dilakukan terhadap personil dan aset perusahaan telah mengakibatkan kerugian puluhan miliar rupiah.

Aksi penjarahan minyak mentah di jalur pipa Tempino-Plaju di Jambi dan Sumatera Selatan semakin memprihatinkan. Kerugian yang terjadi khusus pada Mei 2012 mencapai 39.000 barel minyak mentah. Sedangkan pada Juni 2012, kerugian meningkat menjadi lebih dari 59.000 barel dalam satu bulan tersebut.

Tindakan kriminal yang terjadi antara lain meliputi penjarahan minyak mentah, perampokan aset, sabotase, hingga kejahatan dengan kekerasan. Kasus kriminal tersebut banyak terjadi di daerah operasi Pertamina EP Region Sumatera dan Jambi. Kerugian yang telah terjadi di dua wilayah tersebut secara kumulatif sudah mencapai lebih dari 100.000 barel.

“Tindakan tidak bertanggunjawab tersebut tidak hanya menimbulkan dampak kerugian minyak mentah atau aset saja, tetapi juga menghambat kegiatan operasi karena aset yang hilang dan rusak, hingga pencemaran lingkungan dan potensi bahaya kebakaran,” ujar Manager Humas Pertamina EP Agus Amperianto melalui keterangan tertulisnya, Senin (2/7).

Lebih lanjut Agus menegaskan, bahwa aksi penjarahan tersebut merugikan negara karena hilangnya potensi pendapatan negara dari sisi produksi minyak mentah yang diamanatkan oleh Pemeritah melalui Badan Pelaksanana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) kepada Pertamina EP.

“Pertamina EP sangat menyayangkan bahwa pelaporan yang disampaikan kepada penegak hukum atas sejumlah peristiwa kriminal tersebut belum ada tindakan konkrit dan nyata sehingga tidak ada efek jera. Salah satu buktinya adalah angka kerugian akibat penjarahan di jalur Tempino-Plaju justru mengalami peningkatan setiap bulan,” keluhnya.

Tujuh Modus

Pertamina mengungkapkan, sebagian besar aksi penjarahan minyak mentah ini dilakukan dengan menggunakan modus melubangi pipa dan memasang keran (illegal tapping). Sebanyak tujuh modus penjarahan yang dilakukan perampok minyak mentah Pertamina, pertama melubangi pipa pada beberapa titik, biasanya 3-4 titik, dan kemudian mengambil minyak pada pipa di daerah yang dianggap aman. Kedua, melakukan pelubangan di dekat gorong-gorong, selang menyeberang jalan, kendaraan/truk di seberang jalan melakukan pengambilan minyak.

Ketiga, modus pencurian minyak pada rumah hunian yang berada di atas pipa penyalur di ruas-ruas tertentu. Keempat, modus pencurian setelah pengambilan minyak. Kerangan tetap dibiarkan terbuka, di mana minyak mengalir ke lingkungan sekitar. Dikhawatirkan, minyak tetap mengalir dan ada sumber api yang disengaja (modus sabotase). Kelima, pencuri melakukan pelubangan pipa dengan menggunakan bor horisontal dari titik pelubangan menyeberang jalan, di mana selang yang digunakan sejenis yang digunakan oleh perusahaan telekomunikasi.

Hal ini dimungkinkan ada dugaan kerja sama dengan kontraktor-kontraktor fasilitas perusahaan telekomunikasi dan sejenisnya. Kemudian, pencuri menyalurkan minyak ke mobil yang diparkir di seberang jalur pipa. Keenam, modus pencurian dengan sengaja pipa dilubangi di daerah perairan, kemudian minyak yang berceceran dikumpulkan oleh masyarakat. Selanjutnya, minyak tersebut dijual ke penampung (modus sabotase).

Ketujuh, modus dengan melubangi pipa yang sudah disiapkan tempat penampung (sumur gali, kolam-kolam) untuk ceceran minyak tersebut serta melibatkan massa. Di mana juga dilakukan ancaman terhadap tim penanggulangan oleh oknum-oknum pelaku.