Produksi Kedelai Terancam Turun

Angka Ramalan I 2012

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan produksi kedelai berdasarkan Angka Ramalan I (ARAM I) tahun 2012 diperkirakan hanya sebesar 779,74 ribu ton biji kering atau turun sebesar 8,40% atau 71,55 ribu ton jika dibandingkan produksi tahun lalu. Menurut Kepala BPS Suryamin, penurunan produksi kedelai tahun ini yang relatif besar terdapat di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Lampung.

“Ada dua faktor penurunan produksi kedelai, yaitu penurunan luas panen dan produktivitas. BPS mencatat tahun ini diperkirakan luas panen menyusut 8,93% atau turun 55,56 ribu hektare. Sedangkan produktivitas turun 0,58 % menjadi 0,08 kuintal per hektare,” ujarnya di Kantor BPS, Senin (2/7).

Suryamin menjelaskan angka penurunan produksi kedelai dibagi menjadi beberapa jenjang waktu. Pada Januari-April 2012 produksi turun sebesar 34,09 ribu ton dibandingkan tahun 2011, Mei-Agustus sebesar 1,25 ribu ton, dan September-Desember turun sebesar 36,21 ribu ton. Meski begitu BPS tetap mencatat adanya kenaikan produksi kedelai di sejumlah daerah. Kenaikan produksi terdapat di Provinsi Jawa Tengah, Aceh, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan Banten.

Sementara, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro mengatakan faktor utama penurunan produksi kedelai akibat konversi lahan dan keengganan petani kedelai menanam komoditas itu. "Petani banyak beralih menanam jagung dan padi karena tidak ada insentif harga bagi petani," jelasnya.

Harga Rendah

Menurut dia, harga yang diterima petani kedelai paling rendah dibandingkan komoditas lain. Biaya pokok menanam kedelai tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat petani, sehingga petani cenderung beralih ke komoditas lain. "Kalau ingin kedelai lebih banyak ditanam, penyuluhan paling baik adalah insentif harga atau jaminan keuntungan," katanya.

Udhoro optimis pemerintah mampu mencapai produksi kedelai 1,9 juta ton tahun ini. Optimisme itu hanya didasarkan pada peluang dari sisa pertanaman Mei hingga September yang belum direalisasikan.

"Kemungkinan pengalihan lahan jelas ada. Kita harus menambah luas area tanam, harus meningkatkan produktivitas, menghilangkan serangan organisme tumbuhan. Berkali-kali saya sampaikan bahwa untuk menambah luas area tanam atau panen, perlu di atas 2,2 juta hektare. Jadi kalau tambahan luas panen itu untuk target ke depan, maka kalau tidak harus meningkatkan produktivitas sebesar-besarnya," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu mengatakan, total produksi batu bara Indonesia mencapai 310 juta ton pada tahun 2011. Sebanyak 150 juta ton diekspor ke China dan India, 60 juta ton untuk domestik, dan sisanya ke beberapa negara lain.

Selain masalah ekspor, saat ini harga batu bara turun drastis dari semula US$130 per ton menjadi hanya US$83 per ton. “Penurunan terjadi karena banyak pemain baru yang masuk, yang tidak ngerti nambang dan operasionalnya. Ada pemilik restoran punya batubara. Kalau industrinya sudah terlalu banyak, maka jadi tidak sehat,” terangnya.