Neraca Perdagangan Indonesia Alami Defisit

Selama April-Mei 2012

Selasa, 03/07/2012

NERACA

Jakarta - Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk menahan turunnya kinerja ekspor nasional. Setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2012 mengalami defisit mencapai US$641,1 juta, kini pada Mei 2012 kembali alami defisit neraca perdagangan sebesar US$485,9 juta. Namun, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus untuk tahun kalender sebesar US$1,52 miliar.

BPS mencatat ekspor pada Mei 2012 sebesar US$16,72 miliar atau turun 8,55% dari Mei 2011, tapi dibanding April 2012 masih naik 3,41% dari nilai ekspor sebesar US$15,98 miliar. Ekspor tersebut disumbang oleh ekspor migas yang naik 1,33% menjadi US$3,61 miliar dan ekspor non migas naik 4% menjadi US$13,12 miliar.

Secara akumulasi ekspor Januari-Mei 2012 tercatat sebesar US$81,42 miliar atau naik 1,48% dibanding tahun sebelumnya, dan ekspor non migas Januari-Mei 2012 mencapai US$64,26 miliar atau naik 0,04% dibanding tahun sebelumnya. "Dibanding bulan lalu, defisitnya mulai berkurang, mungkin karena adanya kebijakan pemerintah," tutur Kepala BPS Suryamin di Kantor BPS, Senin (2/7).

Suryamin mengungkapkan, kontribusi terbesar untuk ekspor adalah bahan bakar mineral US$11,79 miliar dan lemak/minyak hewan nabati mencapai US$8,81 miliar. Sementara, dari sisi pangsa pasar ekspor, China menyumbang US$8,88 miliar, Jepang US$7,27 miliar, Amerika Serikat US$6,14 miliar dan total ketiganya menguasai pasar ekspor sebesar 34,7%.

Sedangkan ekspor ke ASEAN tercatat sebesar US$12,85 miliar dan ke Eropa US$7,63 miliar. Ekspor menurut sektor ekonomi untuk Januari-Mei 2012 adalah sektor industri US$48,04 miliar, sektor migas US$17,15 miliar, sektor tambang dan lainnya US$14,14 miliar, serta sektor pertanian US$2,08 miliar.

Impor Naik

Disaat upaya pemerintah menggenjot nilai ekspor, namun di suatu sisi sepertinya sulit mengendalikan nilai impor yang terus menggerus neraca perdagangan Indonesia. Impor Mei 2012 tercatat sebesar US$17,21 miliar atau naik 16,09% dibandingkan Mei 2011, apabila dibandingkan dengan April 2012, impor mengalami kenaikan 1,61% dari sebesar US$16,62 miliar.

Suryamin mengatakan, kontribusi sebesar 6,13% merupakan impor barang-barang non migas.Secara akumulasi, total impor sepanjang Januari-Mei 2012 tercatat sebesar US$79,90 miliar atau naik 16,62%. Impor non migas dalam kurun waktu tersebut adalah US$61,65 miliar atau naik 17,39%. "Porsi terbesar impor, masih barang-barang mekanik dan mesin dan peralatan listrik," tuturnya.

Pangsa impor tertinggi masih China dengan US$11,89 miliar, Jepang dengan US$9,66 miliar dan Thailand dengan US$4,73 miliar yang selama 2 bulan menggeser posisi Amerika Serikat pada posisi ketiga. Menurut Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto, tingginya impor kendaraan bermotor masih mendominasi, karena pabriknya yang berada di Thailand. "Karena perusahaan-perusahaan otomotif seperti Astra itu produksinya banyak disana, kemudian diimpor kesini," ujarnya.

Krisis ternyata masih menjadi alasan, karena membuat perekonomian dunia melesu sehingga menyebabkan penurunan permintaan barang dari Indonesia. Satwiko menegaskan, tingginya ketergantungan produsen dalam negeri akan bahan baku impor membuat ketimpangan neraca pada saat kinerja ekspor meredup.

Harga Komoditas Turun

Menurut dia, idealnya berdasarkan pengalaman, menjelang hari raya Idul Fitri kinerja ekspor akan mulai naik. Namun, sepertinya tidak berlaku untuk masa-masa tahun ini. "Sementara harga-harga juga turun seperti harga komoditas tambang dan crude palm oil (CPO) juga turun. Jadi ekspor kita juga mengecil," ujarnya

Meski pemerintah telah menerapkan aturan ekspor ke negara-negara non-tradisional, lanjut dia, kebijakan ini tidak banyak membantu. Pasalnya, aturan ini tergolong baru dan hasilnya belum berdampak signifikan. "Ekspornya ini turun drastis karena memang yang saya katakan China dan India sementara tidak mengimpor CPO karena mereka mau jual hasil turunan CPO susah," tuturnya.

Tidak hanya CPO, beberapa komoditas lain juga mengalami penurunan permintaan, seperti yang dialami industri pertambangan batubara. Selain, turunnya harga komoditas, banyak negara tujuan ekspor tengah mengalami perlambatan ekonomi.