Tambah Armada, Pelayaran Tempuran Emas Kuras Dana Rp 445 Miliar

Senin, 02/07/2012

NERACA

Jakarta - PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 445 miliar di tahun 2012 ini untuk penambahan armada dan peremajaan perlengkapan kapal serta sarana untuk penunjang operasional. "Dana capex salah satunya digunakan untuk penambahan dan peremajaan kapal milik perseroan," kata Sekertaris Perusahaan dan Direktur Keuangan TMAS, Ferdy Suwandi di Jakarta, Jumat akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, tahun ini perusahaan penyedia jasa angkutan laut ini akan membeli tujuh buah kapal untuk melakukan peremajaan kapal terutama yang berusia rata-rata di atas 30 tahun. Sementara, realisasi capex per Mei 2012 ini baru sekitar Rp 100 miliar dan baru memakai sisa capex 2011.

Sebelumnya perseroan telah menjual delapan buah kapal karena dinilai membebani kinerja perseroan. Hasil penjualan kapal itu perseroan mendapatkan dana sebesar Rp 133 miliar. "Peremajaan kapal dilakukan karena ada pemborosan bahan bakar minyak, sehingga membebani perusahaan. Kami meraih sekitar Rp133 miliar dari penjualan kapal di tahun 2011 yang dananya kami gunakan untuk membeli tujuh kapal di 2012 yang terdiri dari tiga armada used dan empat armada new build," jelasnya.

Dana untuk pembelian ketujuh buah kapal tersebut, kata Ferdy, selain dari hasil penjualan kapal pada tahun lalu juga dari kas internal, pinjaman perbankan atau pendanaan eksternal lainnya. Perseroan sendiri saat ini sudah mendapat lampu hijau dari beberapa perbankan untuk mendapatkan pinjaman, dana dari pinjaman perbankan itu sekitar 50% dari kebutuhan investasi perseroan.

Menurut dia, perseroan akan terus melanjutkan peremajaan kapal-kapal yang berumur di atas 30 tahun secara bertahap. Saat ini perseroan memilik 19 armada yang rata-rata berusia sekitar 18 tahun.

Tidak Bagi Dividen

Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) TMAS menyetujui untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham dari laba bersih 2011. "Kita tidak bagi dividen, tapi laba bersih ditahan untuk menambah modal usaha. . Karena sesuai dengan aturan Bapepam, cadangan minimal perseroan harus 20% dari modal ditempatkan. Jadi kalau kita bagi dividen cadangan kita tidak sampai segitu," ujar Ferdy.

Asal tahu saja, sepanjang 2011, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 26,6 miliar atau dibanding 2010 yang mengalami kerugian sebesar Rp 144,49 miliar. "Perolehan laba bersih yang hanya sekitar Rp 26,6 miliar ini juga yang membuat kita tidak bagi dividen tahun ini," tuturnya.

Di tahun 2011, perseroan juga mencatatkan penjualan sebesar Rp 958,5 miliar. Pendapatan jasa perseroan 2011 mencapai Rp 958,48 miliar atau turun dibanding 2011 sebesar Rp 967,64 miliar. Adapun langkah-langkah yang sudah dilakukan perseroan di 2011 adalah melakukan market development melalui peningkatan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang ada dalam network perseroan. (bani)