Regulasi RI Kalah Cerdas Dibanding Singapura dan Malaysia

HAK KEPEMILIKAN PROPERTI WNA

Senin, 02/07/2012

Pengantar: Beberapa waktu yang lalu wartawan harian ekonomi Neraca, Kamsari, melakukan kunjungan kerja melakukan studi banding kebijakan pembangunan properti di Singapura dan Malaysia. Berikut laporannya.

Jakarta - Orang bodoh hanya menjadi santapan orang cerdas. Itu yang terjadi antara Indonesia kala berhadapan dengan Singapura dan Malaysia. Dua negara jiran itu sukses menarik kibasan uang orang Indonesia dan investor negara lain setelah membuka pintu bagi masuknya konsumen properti asing. Sementara pasar properti di Indonesia, malu-malu menarik konsumen asing hingga memunculkan penyelundupan hukum. Aset properti milik WNA, namun atas nama orang Indonesia. Itu jelas bukan regulasi cerdas bagi negara yang ingin menarik masuknya investasi asing.

Panasnya mesin industri properti di China menjadi berkah bagi banyak negara di kawasan Asia Tenggara. China yang takut terkena sindrom property bubble, lantas saja mengeluarkan berbagai aturan untuk mendinginkan pasar properti di negeri Panda itu. Salah satu regulasinya memaksa developer menurunkan harga jual produk properti. Selain itu, perbankan China juga mulai mengenakan suku bunga tinggi bagi sektor properti, dan beberapa regulasi lain untuk mengendalikan bisnis properti agar tidak menjadi pemicu krisis keuangan di negara tirai bambu tersebut.

Langkah China keruan saja berimbas terhadap minat konsumen untuk membeli produk properti di negara itu. Baik properti komersial apartemen atau kondominium, maupun properti landed house mulai kehilangan peminat. Konsumen properti pun mulai mengalihkan investasinya ke negara lain seperti Singapura, Thailand, maupun Malaysia. Sementara Hongkong bernasib sama dengan China. Karena harga propertinya sudah terlalu mahal, banyak konsumen enggan melabuhkan dananya ke negara itu.

Pilihan konsumen memang tak mengenal batas negara. Duit mengalir ke mana saja yang menjanjikan keuntungan besar. Singapura dan Malaysia yang sejak lama tak ragu membuka pasar propertinya bagi konsumen asing akhirnya menikmati buah kebijakan moderat pemerintahnya.

Padahal kalau kita ukur, luas Singapura atau Malaysia jelas tak ada apa-apanya dibanding Indonesia. Tapi kedua negara tersebut berani membuka keran hak kepemilikan properti ke konsumen asing. Lihat saja Singapura, negara yang luasnya kalah jauh dibanding Bogor, tak sungkan memberi label “hak milik” alias freehold bagi konsumen yang mau membeli unit properti. Tak heran kalau lantas produk properti Singapura menjadi buruan warga asing. Orang kaya asal China sampai Indonesia, berburu dan belanja aset properti bersama ke Singapura.

Banyak alasan properti Singapura terus diburu, salah satunya iklim investasi yang relatif stabil. Singapura merupakan negara yang paling lengkap sebagai pusat pendidikan dan kesehatan di regional Asia Tenggara. “Singapura adalah kota paling kompetitif, melampaui Tokyo dan Hongkong. Dengan alasan investasi, pendidikan dan kesehatan,” kata Deputy General Manager Far East Organization, Tommy William saat bertemu wartawan Indonesia dalam Media Group REI Properti Visit di Scotts St. Singapura, pertengahan Juni 2012 lalu. Far East Organization adalah salah satu pengembang terbesar di Singapura.

Tommy mengatakan, pemicu banyaknya orang asing belanja di pasar properti Singapura adalah aturan pemerintah setempat yang mendukung iklim investasi. "Tidak ada larangan untuk pemilikan asing, juga tidak ada pajak perolehan modal. Maksudnya adalah, jika kita memiliki properti, pada saat jual harga awal properti tersebut tidak kena pajak,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa properti Singapura didukung oleh jadwal pembayaran yang teratur, serta aset properti dapat diwariskan tanpa dibebankan pajak baru.

Bukan hanya itu, Pemerintah Singapura juga tidak mendiskriminasi konsumen propertinya, baik warga asli Singapura atau warga asing, termasuk Indonesia. Termasuk kemudahan memperoleh kredit properti dengan bunga ringan. Maksimal 2% per tahun. Bunga super ringan ini tentu memudahkan pembayaran pembelian meski harga properti di Singapura tergolong mahal.

Bandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Rata-rata bunga kredit propertinya lumayan tinggi, yang termurah sebesar 6,99%, itupun hanya saat promo. Artinya, sangat terbatas jumlahnya.