Waspadai Bakteri pada Pakaian

Sabtu, 07/07/2012

NERACA

Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari merupakan faktor yang sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan keluarga. Salah satu titik berat sasaran strategis pembangunan kesehatan dalam 2010-1014 adalah meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah tangga dari 50% menjadi 70%.

PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau, dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Perilaku yang diharapkan adalah agar masyarakat Indonesia lebih memperhatikan pola hidup yang higienis dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam hal berpakaian. Bakteri dapat menempel pada kain jika kain tersebut terkena kontaminasi dari berbagai sumber, seperti kulit, tumpahan atau bercak makanan, hewan peliharaan, bahkan ketika merawat seorang anggota keluarga yang sudah lebih dulu terkontaminasi.

Spesialis Infeksi Tropis Anak dari FKUI dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) dr. Hindra Irawan Satari, Senin (25/6) mengatakan bakteri menyebar dari sumber tersebut ke dalam kain melalui kontak dengan tangan atau antar permukaan.

"Bakteri tersebut berpotensi untuk menyebar ke pakaian lain yang dicuci bersama-sama,” tuturnya.

Menurut dia, peranan rumah tangga sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi atau penyakit. Berbagagai penelitian di beberapa negara di dunia, seperti Kanada, Jepang, Amerika, dan lainnya menghasilkan kesimpulan bahwa bakteri dapat hidup pada pakaian maupun peralatan rumah tangga berbahan kain, seperti seprai, handuk, sarung bantal dan masih banyak lagi jika tidak terjaga kebersihannya.

Environmental Microbiologist dari International Scientific Forum on Home Hygiene (IFH) Ryan Gene Gaia Sinclair menjelaskan bahwa di pakaian dan peralatan rumah tangga seperti handuk, seprai, sarung bantal, dan peralatan lain yang berbahan kain yang tidak terjaga kebersihannya ditemukan bakteri Staphylococcus Aureus, E. Coli, Klebsiella Pneumoniae, dan Pseudomonas yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Menurut dia, bakteri-bakteri tersebut, misalnya Staphylococcus Aureus dapat menempel pada dinding mesin cuci yang dibawa oleh pakaian kotor dan berpotensi menyebar ke pakaian yang lain, terutama pada pakaian yang lembab atau basah.

dr. Hindra menjelaskan, sangat penting bagi kita memahami berbagai jenis bakteri dan penyakit yang ditimbulkan akibat bakteri. Misalnya, keberadaan S. Aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit.

Menurut dia, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier, namun yang perlu diperhatikan adalah apabila individu tersebut memiliki luka terbuka di kulit. Bakteri yang ada di luka tersebut dapat berpindah ke pakaian yang dikenakan pada akhirnya bakteri tersebut menyebar dan menyebabkan bisul atau penyakit kulit.

Contoh lainnya, K. Pneumoniae yang seringkali dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, juga seringkali ditransmisikan akibat perilaku tidak higienis manusia. Oleh karena itu kita baiknya mengetahui berbagai jenis bakteri yang dapat menimbulkan penyakit dan menyadari akibat jangka panjang dari bakteri-bakteri tersebut terhadap tubuh.

Seiring dengan era globalisasi bersamaan dengan meningkatnya populasi penduduk serta pembangunan fisik yang kerap menimbulkan polusi, Molto mengamati bahwa perlindungan terhadap bakteri semakin relevan bagi keluarga di Indonesia.

Selama ini, masyarakat Indonesia percaya bahwa mencuci merupakan cara yang efektif untuk kebersihan pakaian dari kotoran dan kuman, namun teryata mencuci dengan menggunakan deterjen saja tidak cukup untuk menghilangkan kuman atau bakteri yang menempel pada pakaian dan peralatan berbahan kain.