APRDI Masih Ngotot Minta Pajak Reksa Dana 5%

NERACA

Jakarta – Desakan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) agar pajak reksa dana bisa dipertahankan sebesar 5%, sepertinya mendapatkan sinyal persetujuan dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Ketua APRDI Abiprayadi Riyanto mengatakan, permintaan pajak reksa dana di kurangi dan hanya 5% tengah dikaji Kementerian Keuangan, “Usulan kita sudah diterima pemerintah dan dipastikan bisa diputuskan akhir bulan ini,”katanya di Jakarta, Kamis (28/6).

Menurutnya, permintaan pengurangan pajak reksa dana dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi investor reksa dana. Terlebih, reksa dana sebagai instrument investasi jangka panjang belum banyak diminati masyarakat.

Dia mengungkapkan, di negara Amerika Serikat instrument investasi reksa dana dibebaskan dari pajak dengan catatan negara tersebut sudah memiliki kesadaran tinggi dalam membayar pajak. Sementara di Asia ada India yang bisa di jadikan branch mark dengan pajak yang lebih rendah. Alasannya, negara tersebut memiliki 50 juta investor dan sementara Indonesia investornya baru mencapai 400 ribu.

Lebih lanjut, Abiprayadi menjelaskan, permintaan keringanan pajak juga dimaksudkan agar pemerintah bisa mudah mendapatkan akses dana masyarakat jangka panjang dalam pembangunan infrastruktur dalam pengembangan wilayah tertinggal dan ujungnya bisa memberikan hasil kembali kepada pemerintah melalui pembayaran pajak dari investor yang berinvestasi di wilayah tersebut.

Masih Tumbuh Positif

Selain itu, dia juga menegaskan industri reksa dana masih optimis bisa tumbuh lebih positif di semester kedua 2012 kendatipun ada kekhawatiran tentang krisis utang Eropa,”Industri reksa dana berorientasi domestik apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bagus sehingga kita tidak perlu khawatir investor asing keluar masuk bursa saham kita. Saat ini investor domestik sudah mulai paham investasi ketika indeks turun investor mulai masuk,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, investasi di reksa dana tergantung dari profil investor. Investor jangka panjang dinilai akan senang untuk masuk ke bursa saham ketika bursa saham turun. Investor dapat masuk ke reksa dana secara bertahap. Salah satu jenis reksa dana yang dapat diperhatikan oleh investor, yakni reksa dana saham dan campuran.

Kedua jenis reksa dana tersebut diperkirakan masih menarik pada semester kedua 2012. Lebih lanjut dia mengatakan, reksa dana saham masih menjanjikan karena didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia produktif di usia 18-64 tahun yang mencapai 65% turut mendukung ekonomi Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan naik 15%-20% juga akan diikuti reksa dana saham. Adapun sektor saham seperti infrastruktur, konsumer dan properti khususnya perumahan.“Return indeks saham sekitar 15%-20% kalau itu tercapai akan seiring dengan reksa saham,” ujar Abiprayadi.

Hingga Mei 2012, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) mencatat total dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana mencapai Rp 170,26 triliun. Kata Abripayadi, angka tersebut meningkat sekitar 1,2% jika dibandingkan catatan AUM reksa dana pada periode yang sama 2011 yang tercatat sebesar Rp 168,23 triliun.

Dari nilai tersebut, reksa dana saham menduduki peringkat teratas perolehan AUM yang mencapai Rp58,39 triliun. Meski begitu, berdasarkan catatan APRDI, perolehan AUM reksa dana saham tersebut mengalami penurunan sekitar 4,28% jika dibandingkan secara year to date yang tercatat sebanyak Rp61,35 triliun pada Mei 2011."Penurunan yang tercatat pada AUM reksa dana saham ini sesuai dengan sifatnya yang fluktuatif," ujar Abripayadi.

Sementara posisi kedua disusul reksa dana terproteksi dengan total dana kelolaan mencapai Rp 41,52 triliun dan ketiga reksa dana pendapatan tetap senilai Rp 31,43 triliun.

Sementara reksa dana campuran tercatat sebanyak Rp 21,59 triliun, reksa dana pasar uang sekitar Rp 12,02 triliun, reksa dana syariah sebesar Rp 3,82 triliun, Exchange Trade Fund (ETF) fixed income fund sebanyak Rp 1,10 triliun, ETF equity fund senilai Rp 47,46 miliar dan reksa dana indeks sebesar Rp 303,53 miliar. (bani)

BERITA TERKAIT

Konsumsi vs Pajak

Data BPS mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2017 tercatat 5,06% atau di bawah perkiraan banyak pihak. Meskipun sedikit lebih baik…

Walikota Sukabumi Minta CSR Disalurkan pada Empat Bidang

Walikota Sukabumi Minta CSR Disalurkan pada Empat Bidang NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi M. Muraz meminta agar program Corporate Social…

KPK Masih Bahas Penerbitan DPO Setya Novanto

KPK Masih Bahas Penerbitan DPO Setya Novanto NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih membahas penerbitan surat daftar pencarian…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kantungi Sertifikasi ISO 27001 - XL Tingkatkan Keamanan Data Pelanggan

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) berhasil meraih sertifikasi ISO 27001 sebagai standar baku penerapan Information Security…

Investor Saham di Babel Tumbuh Signifikan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Pangkalpinang mencatat, jumlah investor pasar modal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami…

Renuka Targetkan Ekspor Tambang di 2018

Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, menjadi harapan PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) bila pasar batu bara kembali meningkat.…