Pondasi Industri Nasional Masih Ringkih

NERACA

Jakarta - Di tengah upaya korporasi Indonesia untuk mencatatkan namanya dalam jajaran perusahaan kelas dunia, kalangan pengamat dan praktisi managemen malah menilai, industri nasional masih terlalu lemah untuk bisa mendunia. Salah satu indikasi ringkihnya industri nasional adalah banyaknya korporasi yang dinahkodai kalangan berlatarbelakang pedagang yang kurang menguasai struktur dasar industri.

“Kalau menurut saya pondasinya kurang kuat. Jadi ada beberapa hal sebenarnya. Salah satu dari struktur industrinya misalnya banyak berangkat dari pedagang yang kurang menguasai pondasi. Sebenarnya tidak salah kalau bicara pedagang. Tapi kalau terjun ke bisnisnya dia harus menguasai operasionalnya dengna lebih baik. Kan begitu,” kata konsultan transforming company dari Sentral Sistem Consulting, Imanuel Iman, di tengah acara pelatihan bertajuk “Company Transformation”, di Jakarta, Kamis (28/6).

Menurut Imanuel, sejauh ini komposisi pimpinan industri masih didominasi oleh praktisi struktural yang hanya senang bicara soal uang. “Terus management senang kalau bicara uang. Tapi kalau operasional kurang. Saya kira kurang banyak orang yang terjun di operasional. Mendalami operasional. Jadi tak heran kalau struktur industrinya tak kuat,” jelas Imanuel.

Selain itu, lanjutnya, dalam hal struktur saja, sebenarnya ada fungsi struktural dan fungsional. “Karena orang-orang ahli kebanyakan lari ke struktural. Kalau mau sejahtera itu larinya ke struktural. Akhirnya dia melepaskan keahliannya. Akhirnya struktur industrinya tidak kuat,” urainya.

Lebih jauh dia mengatakan, seiring kompetisi yang semakin ketat, setiap perusahaan harus terus berkembang. “Kalau perusahaan melakukan improvement, secara nasional perusahaan akan lebih kompetitif industrinya. Sebenarnya seperti perusahaan BUMN punya jabatan fungsional. Tapi jabatan fungsional itu jadi ahli yang kurang dimanfaatkan,” terang Imanuel.

Merasa Krisis

Imanuel juga menghimbau agar kalau memotivasi karyawan perusahaan tidak selalu dari sisi uang. Improvement perusahaan mesti dilakukan tiap hari. Para pemimpin perusahaan mesti merasa selalu dalam krisis. Kalau tiap hari merasa dalam krisis maka akan melakukan improvement. Namun faktanya, tidak banyak perusahaan yang selalu berpikir sedang krisis. Sebaliknya, banyak company yang sudah merasa puas sehingga improve-nya kurang kuat.

“Improvement itu ada dua hal. Pertama motivasi, ada knowledge. Kadang perusahaan melakukan setengah-setengah. Dia training orang, termotivasi, tapi tak tahu cara melakukannya. Sebaliknya, kadang ngajarin punya knowledge, tapi tak punya motivasi ya sudah juga. Harus balance,” imbuhnya.

Terkait dengan perusahaan milik negara, Imanuel mengatakan, beberapa BUMN saat ini rajin mengejar laba maksimal dengan cara apapun termasuk optimalisasi aset. Padahal laba itu harusnya diperoleh dari main bisnis (bisnis utama) BUMN itu. “Kalaupun BUMN diberikan target laba, laba yang diperoleh harus tetap berasal dari main bisnisnya bukan dari kegiatan lain seperti pemanfaatan aset, atau kegiatan lainnya,” tandas Imanuel.

Lalu bagaimana mengoptimalkan peran BUMN tanpa harus rugi? Menurut Imanuel, direksi perlu diberikan target yang jelas, yang tidak melulu masalah laba, target yang terukur. Kemudian direksi harus mempresentasikan program kerjanya. “Evaluasi harus dilakukan di Awal. Program kerjanya apa? Bukan diakhir (evaluasi akhir tahun). Evaluasi di akhir sudah terlambat. Evaluasi di awal untuk melihat apakah secara teori program kerjanya sudah baik? Jika belum, kita bisa koreksi,” jelasnya.

Selain itu direksi BUMN harus ditekankan untuk melakukan perubahan. Tugasnya bukan memelihara kondisi sekarang, tapi melakukan perubahan. Target perubahan yang mau dilakukan apa, dan dipresentasikan ke komisaris. Pada saat mempresentasikan rencana perubahan yang mau dilakukan, bisa dipanggil orang-orang yang berpengalaman untuk mengkritisi rencana perubahan tersebut, apakah make sense atau tidak. Evaluasi bukan di targetnya tapi evaluasi di program kerjanya. Target hanyalah result yang tercapai secara otomatis.

Dia juga menyarankan pemerintah kembali menata target BUMN. Beberapa BUMN sebaiknya jangan dibebankan untuk meraih laba. Karena target tidak harus laba. “Kalau semuanya menggunakan ukuran laba, ya jadi sulit. Jika tidak untung ditutup saja. Padahal mungkin organisasi tersebut memiliki fungsi strategis lain yang bukan dalam bentuk laba. Misalnya pelayanan masyarakat atau stabilitas harga bahan pokok,” jelasnya.

Kata dia, Bulog, targetnya apa? misalnya menjaga stabilitas harga beras, maka dia harus memiliki target terukur untuk melihat apakah program bulog berhasil atau tidak? Misalnya selisih harga di pasar kurang lebih 20%. Maka target inilah yang akan menjadi tujuan dari Bulog. Dari target inilah kemudian disusun program kerja untuk mencapai target tersebut.

Tak Kejar Laba

Imanel juga menjelaskan seperti BUMN Perkeretaapian, karena tidak menguntungkan, maka kereta api dari Sukabumi cuma dijalankan satu kali. Kereta api Jakarta-Bandung ditutup. Karena acuannya adalah laba. Coba jika acuannya tidak laba, atau kasihlah target subsidi. Kita tetap bisa menjalankan bisnis dengan alasan yang tepat. Dan tuntutan direksi juga menjadi lebih jelas, tidak melulu mengejar laba.

“Coba kita bedah. Misalnya Kereta api dari Bandung ke Jakarta kita buat jadi murah sekali, taruh misalnya kita kasih harga tiket hanya Rp 5 ribu. Apa dampaknya bagi kita. Orang miskin akan bisa mengurangi biaya transport. Lalu berkurangnya penggunaan kendaraan dari Jakarta ke Bandung. Efeknya, mengurangi kemacetan, mengurangi penggunaan BBM, mengurangi kecelakaan karena frekuensi mobil berkurang,” terangnya.

Dia juga mengatakan, pengeluaran dana CSR (Coorporate Social Responsibilty) harus lebih dipikirkan manfaatnya bukan sekadar memberikan sumbangan untuk memenuhi target CSR perusahaan. Karena, seandainya dana CSR yang cukup besar ini bisa digunakan secara optimal, akan lebih banyak lagi masyarakat yang bisa merasakan manfaatnya. Apapun bentuk programnya.

Beberapa perusahaan besar termasuk beberapa BUMN sudah memiliki program CSR. Menurut dia, program itu sebaiknya harus dievaluasi efektifitasnya sehingga dana yang digunakan dapat dirasakan manfaatnya secara lebih optimal. “Program CSR ini perlu dikritisi dan dievaluasi supaya bisa lebih memberikan knowledge bukan sekedar memberikan dana. Kalau sekedar memberikan dana, seberapapun dananya yang diberikan akan habis,” ujarnya.

Juga, Imanuel memberi contoh CSR pemberian dana bagi calon enterprenuer muda yang berasal dari kalangan mahasiswa. Program ini sangat bagus untuk menumbuhkan banyak enterpreneur-enterpreneur baru di Indonesia, karena memang Indonesia kekurangan enterpreunur.

Namun memberikan dana saja tidak cukup. Mereka juga perlu dibekali dengan teori manajemen yang baik seperti manajemen resiko, keuangan, kualitas, Sehingga mereka tidak sekedar menjadi enterpreunur nekat, tetapi menjadi enterpreunur yang penuh perhitungan. Sehingga angka kegagalan enterpreunur muda yang bisa mencapai angka diatas 50% bisa dikurangi. Selain itu mereka juga perlu dididik untuk juga bisa menjadi entepreneur yang bertanggung jawab.

BERITA TERKAIT

82% Masyarakat Masih Gunakan Uang Tunai

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Suhaedi mengatakan, sekitar 82 persen penduduk Indonesia…

Pemprov Banten Masih Kaji Penetapan UMK 2018

Pemprov Banten Masih Kaji Penetapan UMK 2018 NERACA Serang - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnkertrans) Provinsi Banten telah menyampaikan…

Ponpes Dipacu Ciptakan Pelaku Industri Kecil Menengah - Tekan Pengangguran

NERACA Jakarta – Pondok pesantren berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Industri Logam Masih Jadi Andalan Pertumbuhan

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto optimis pertumbuhan industri masih bisa terjaga, karena ditopang dari beberapa pertumbuhan industri seperti…

Perikanan Tangkap - KKP Rampungkan Pengadaan Bantuan Kapal di 2017

NERACA Jakarta – Program pengadaan kapal perikanan tahun 2017 oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)…

RI-Norwegia Perkuat Komitmen Kerjasama Akuakultur

NERACA Jakarta - Indonesia dan Norwegia kembali menguatkan komitmen kerjasama di bidang Perikanan Budidaya khususnya pengembangan budidaya laut. Komitmen tersebut…