BEI : Transaksi Terindikasi UMA Meningkat - Sulit Ungkap Insider Trading

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui tren pelaporan transaksi saham yang masuk dalam pengawasan BEI atau disebut unusual market activity (UMA) mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Namun sebaliknya hasil pemeriksaan yang terindikasi pelanggaran naik signifikan.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, pengawasan terhadap saham-saham yang bergerak diluar kewajaran sudah dilakukan sesuai prosedur yang ada hingga eksekusi,”Kondisi ini sulit dilakukan menekan transaksi saham yang masuk dalam UMA, malah sebaliknya mengalami tren naik yang dilakukan investor,”katanya di Jakarta, Rabu (27/6).

Menurutnya, kondisi ini sangat kental dipengaruhi aksi para spekulan terhadap maraknya transaksi tinggi terhadap saham yang masuk dalam pengawasan BEI. Hal ini merupakan kejanggalan dari investor yang seharusnya bisa menjauhi transaksi saham yang dalam pengawasan BEI, malah marak dilakukan.

Kendatipun demikian, kata Uriep pihaknya sudah memberikan sanksi berupa suspensi hingga pembelokiran rekening nasabah yang terindikasi terhadap transaksi dan pola transaksinya, “Kewenangan memberikan sanksi sepenuhnya berada di tangan Bapepam-LK, BEI hanya memberikan edukasi pada investor terhadap saham UMA,”tuturnya.

Dia menuturkan, transaksi saham yang masuk dalam pengawasan BEI bukan sebuah pelanggaran tetapi adalah edukasi kepada investor untuk berhati-hati dalam melakukan perdagangan sahamnya.

Target Emiten

Dengan susunan direksi baru, PT BEI menargetkan dapat menambah jumlah emiten menjadi 500 hingga 2015 dari jumlah sekarang 444 emiten. Kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito, penambahan jumlah emiten menjadi salah satu target BEI. “Ada empat kelompok perusahaan yang menjadi target BEI antara lain BUMN, perusahaan sumber daya alam, para peminjam dana terbesar di perbankan dan emiten asing,”ujarnya

Ito menambahkan, saat ini pihaknya bersama Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sedang menjajaki peraturan mengenai bank kustodian dalam rangka menjaring emiten asing untuk tercatat di BEI. Aturan yang sedang dikaji tersebut berkaitan dengan peran bank kustodian. Selama ini bank kustodian hanya melayani investor saja.

Adapun emiten asing yang pernah menyampaikan niat untuk tercatat di BEI seperti Grup CIMB dan Maybank. "Kami berharap secepatnya aturan selesai,paling cepat tahun depan. Diharapkan bank kustodian tersebut dapat melayani emiten asing yang listing di Indonesia," kata Ito.

Selain itu, Ito optimis 25 emiten dapat tercatat di BEI pada 2012. Kondisi bursa saham global masih fluktuaktif memang mempengaruhi bursa saham Indonesia termasuk penawaran umum saham perdana. Saat ini yang sedang diproses di Bapepam-LK ada 10 calon emiten."Kita optimis akan tercapai 25 emiten. Banyak juga perusahaan yang menggunakan laporan keuangan Juni 2012 untuk penawaran umum saham perdana," tutur Ito.

Konsep Tujuh Pilar

Ito juga menambahkan, dalam rangka meningkatkan daya saing industri pasar modal dalam negeri, BEI akan memfokuskan pengembangan berdasarkan tujuh pilar pengembangan BEI, yaitu internal, investor, intermediaries, infrastructures, instruments, issuers and information.

Dia menjelaskan, pengembangan ketujuh pilar tersebut berpedoman kepada tiga sasaran kerangka regulasi yang ditetapkan IOSCO, seperti pengurangan resiko sistemik, pemastian pasar berjalan dengan wajar, efisien dan transparan dan perlindungan kepada investor. "Tujuh pilar tersebut akan menjadi fokus kami ke depan," jelasnya

Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI telah menyetujui tujuh agenda RUSPT. Salah satu menetapkan agenda pengangkatan anggota direksi masa bakti 2012-2015. Adapun susunan direksi BEI untuk periode 2012-2015 antara lain Direktur Utama BEI dijabat oleh Ito Warsito, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen , Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo, Direktur IT dan Manajemen Risiko BEI Adikin Basirun. Sedangkan untuk Direktur Pengembangan BEI adalah Friderica Widiyasari Dewi dan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat. (bani)

BERITA TERKAIT

Wakil Presiden ke-6 RI - Kesadaran Tentang Pancasila Mulai Meningkat

Try Sutrisno  Wakil Presiden ke-6 RI Kesadaran Tentang Pancasila Mulai Meningkat Jakarta - Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno menilai…

Saham CMPP Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta –Lantaran mengalami kenaikan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), perdagangan saham PT Rimau Multi Putra Pratama…

BEI Resmi Delisting Berau Coal Energy

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menghapus PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dari daftar perusahaan terbuka. Emiten ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Nindya Karya Berencana Go Public di 2018

Bila tidak ada aral melintang, PT Nindya Karya (Persero) akan melakukan penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering…

Banyak Manfaat IPO - Perusahaan di Jambi Didorong Go Public

NERACA Jambi - Mendorong perusahaan lokal go public, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jambi menggelar roadshow dan mengedukasi manfaat…

Obligasi Dalam Negeri Diminati Investor Asing

Analis pasar modal dari Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo menilai bahwa instrumen investasi obligasi di dalam negeri masih diminati investor…