Harapan Baru pada Jarak Pagar

NERACA

Sumber energi potensial dari tanaman dengan potensi biomassa di Indonesia bervariasi, tetapi untuk membuat produksi bioenergi yang berkelanjutan, kita harus menggunakan tanaman yang cocok sebagai bahan bakunya.

Jarak pagar (Jatropha Curcas) merupakan pakan ternak-biofuel di mana penggunaan terbatas dari tanaman ini, selain untuk biofuel sebagai menguntungkan, sementara lainnya non-pangan penggunaannya terbatas.

Meskipun tanaman ini semakin populer secara global dalam beberapa tahun terakhir sebagai tanaman energi, ada hambatan yang mempengaruhi budidaya.

Menurut Bambang Prastowo, peneliti Senior International Center for Environmental Resources and Development (ICERD), tantangan utama dalam pengembagan jatropha curcas sebagai sumber biofuel adalah kurangnya ketersediaan benih secara konsisten dan tanaman unggul.

Prastowo mengatakan jarak pagar belum diteliti untuk waktu yang signifikan secara global, meskipun banyak penelitian sebelumnya yang terbatas dan pengembangannya di Indonesia selama perang dunia kedua.

Banyak ahli menganggap jarak pagar sebagai bahan baku yang relatif baru untuk produksi biofuel. Telah menjadi anggapan umum bahwa jarak pagar produktivitas dan kinerjanya sebagai biofuel dan sumber bioenergi belum diperbaiki secara radikal dalam beberapa tahun terakhir.

Jumlah lahan yang sesuai untuk produksi jarak pagar di Indonesia adalah sekitar 14,7 juta hektar. Data pemetaan tanah harus digunakan bersama dengan masterplans daerah, memperhitungkan faktor lingkungan ke dalam rekening.

Prastowo mengatakan, Pusat Riset Perkebunan dan Pembangunan (ICERD) telah memilih biji jarak pagar dari seluruh Indonesia.

Mulai tahun 2006 populasi biji jarak pagar yang diluncurkan disebut IP-1 seri, diikuti oleh varietas unggul yang disebut IP-2 diluncurkan pada 2007, dengan hasil benih 4-5 ton per hektar (IP-1) dan 6-8 ton / ha (IP2). Biji ini dikembangkan agar cocok untuk iklim tropis basah (IP-1P) dan IP-2P), sedang basah (IP1M) dan IP-2M) dan untuk daerah kering (IP-1A dan IP-2A). ICERD 2007.

Pada tahun 2009, ICERD merilis benih bersertifikat seri IP-3 pohon jarak, yang ditunjuk IP-3P dan IP-3A, dengan hasil yang potensial mulai hingga 9 atau 10 ton per hektar. Namun, perlindungan performa tinggi tanaman jarak pagar dan buah-buahan memerlukan perbaikan teknik pertanian.

Jatropha adalah komoditas yang relatif baru, sehingga tidak mudah untuk menemukan kualitas yang baik dan benih yang tepat di pasar. Para petani juga mungkin hanya mendapatkan manfaat yang terbatas dari budidaya jarak pagar ketika mereka hanya menggunakannya untuk produksi biodiesel.

Biomassa jarak pagar memberikan hasil dari memisahkan dan menghancurkan biji jarak pagar untuk menghasilkan minyak mentah. Proses ini dilakukan menggunakan kompor bertekanan untuk memproduksi biodiesel.

Isi minyak dari seri IP dari biji jarak pagar adalah sekitar 34-35%. Hal ini memberikan residu biomassa dari setidaknya 65% dalam bentuk kue benih sebagai sumber energi biomassa di samping sisa limbah tanaman. Selain kue benih, akan ada sekam polong setelah pengolahan pohon jarak untuk minyak. (agus/dbs)

BERITA TERKAIT

Bungasari Flour Siapkan Capex US$ 40 Juta - Bangun Pabrik Baru di 2018

NERACA Jakarta – Genjot kapasitas produksi dua kali lipat dari saat ini 300 ribu ton pertahun, produsen tepung, PT Bungasari…

Menghapus Opini Negatif Masyarakat pada Utang RI

Oleh: Faisal Reza Mahendra, Mahasiswa PKN STAN *) Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah…

ACES Buka Gerai Baru Ke-15 di Purwokerto

Menjelang tutup akhir tahun, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) kembali membuka gerai baru. Gerai ini merupakan gerai baru ACES…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indonesia, Penguasa Kopi Dunia?

Indonesia berpotensi menjadi penguasa kopi dunia karena cita rasa kopi Indonesia sangat spesifik. Bahkan, branding kopi internasional yang ada, selalu…

Presiden RI: “Indonesia Harus Menjadi Nomor Satu”

Kopi sudah terkenal di Indonesia sejak abad ke-16. Kabarnya, Pondok Kopi di Jakarta Timur adalah kawasan cikal bakal tumbuhan kopi…

Kementan Dorong Peningkatan Produksi Kopi Arabika

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produksi kopi jenis arabika di sejumlah kawasan karena merupakan komoditas ekspor yang sangat…