Kembangkan Sektor Pertanian, Irak Ingin Berguru Pada Indonesia

NERACA

Jakarta – Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak, Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani, mengatakan tiga sektor Industri kini sedang tumbuh di Irak selain minyak dan gas yaitu properti, agrobisnis dan manufaktur. Khusus di sektor agrobisnis, pemerintah Irak sangat tertarik untuk mengembangkannya. Pihaknya mengaku sedang membangun saluran air dan juga pelatihan kepada petani.

"Untuk itu kami meminta bantuan tenaga ahli dari Indonesia sebagai negara agraria untuk mengembangkan pertanian di Irak," ujarnya saat bertemu anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin malam (25/6).

Menurut dia, di sektor manufaktur selama ini banyak mengandalkan ekspor dari Indonesia. Irak memang mengekspor beberapa komoditi maufaktur dari Indonesia seperti kain dan peralatan rumah tangga. Dia juga menjamin keamanan di Irak saat ini stabil. Jaminan ini muncul menyusul tawaran pemerintah Irak kepada pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di sana. "Selama ini lebih dari 10 ribu penerbangan pesawat komersial hilir mudik di Irak dengan selamat sehingga para investor pun tidak perlu khawatir," terangnya.

Dia juga mengatakan kondisi keamanan di Irak juga mulai membaik dibuktikan dengan ditarik mundurnya pasukan Amerika Serikat dari negeri seribu satu malam itu. Kalaupun ada gejolak menurut dia skalanya kecil.

Di tempat yang sama, Ketua Kadin Komite Timur Tengah dan Organisasi Konferensi Islam, Fachry Thaib, mengatakan peluang tersebut sudah ditangkap oleh negara seperti Cina, Jepang, dan Indonesia. Mereka, kata Fachry, berani mengambil resiko. Kadin mendorong agar pengusaha Indonesia berani berinvestasi di Irak karena memiliki prospek bisnis yang cerah. Apalagi pemerintah Irak juga serius dengan memberi jaminan keamanan dan pembangunan infrastruktur.

Fachry juga menuturkan kondisi di Irak memang sudah stabil. Menurut dia gejolak hanya terjadi di daerah pinggiran. "Oleh karena itu kami (Kadin) mendorong pengusaha Indonesia untuk menjalankan roda bisnis di Irak," ujar Fachry.

Industri Minyak

Setelah Hussain bertemu Kadin kemarin malam, keesokan harinya dia memberikan kuliah umum di kantor Pertamina. Dalam pemaparannya, ia memberikan kesempatan kepada investor termasuk Indonesia untuk berinvestasi di negaranya. "Irak memiliki cadangan minyak yang sangat besar. Yakni mencapai 143 miliar barel cadangan," katanya dalam acara Public lecture "Iraq's Contribution To The World Facing The Global Energy Challenges And Crisis, di kantor Pertamina, Selasa.

Dia menuturkan walaupun terjadi geopolitical dan pasca perang, Irak saat ini sedang membuka diri seluas-luasnya kepada investor. Mereka mengundang investor untuk menanamkan investasinya khususnya dibidang perminyakan yang sangat potensial. Hussain menambahkan saat ini pemerintahan irak juga terus meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. Seperti membangun kompleks petroleum dan juga produksi pupuk yang berbasis gas.

Karena itu, pemerintah Irak mengundang Pertamina untuk menggarap 5 ladang minyak di negaranya. Namun Pertamina hanya ingin menggarap lapangan yang sudah produksi. Direktur Hulu Pertamina Muhammad Husein mengatakan tawaran Irak masih terus dinegosiasi, tetapi tidak menyeluruh, karena strategi Pertamina ke lapangan minyak yang sudah produksi minyak dan hanya mengambil sebagian porsi.

"Kita mengharapkan tidak seluruh (lapangan minyak yang ditawarkan), strategi kita berangkat ke lapangan produksi hanya mengambil produksi, dimana operatornya juga bukan Pertamina. Misalnya disini ada beberapa disesuaikan dengan dana yang kita punya," kata Husein.

Dia mengatakan, pada dasarnya Pertamina ingin seluruh lapangan yang ditawarkan, namun terkendala dana. Pasalnya ladang minyak yang ditawarkan Irak sudah berhenti beroperasi. "Kalau dananya sendiri kita belum ada persiapan, tapi kita memang sudah punya anggaran yang tidak dikhususkan untuk apa, jadi bisa digunakan," ungkapnya.

Namun rencana masuknya Pertamina ke Irak ini tetap mendapatkan dukungnan dari pemerintah. "Rencana investasi di Irak ini memang Bussines to Bussines (B to B), namun kami juga meminta dukungan Pertamina lebih kuat lagi, karena seperti perusahaan minyak di dunia, itu tidak ada yang kuat tanpa ada dukungan dari pemerintah, maka nanti pendekatannya kepada G to G," jelasnya.

Diungkapkan Husein, saat ini Pertamina juga sudah mempunyai satu block minyak di Irak yakni Block 3WD (West Dessert). "Blok tersebut 100% milik Pertamina namun masih dalam tahap eksplorasi. Namun saat ada gejolak politik di Irak terpaksa operasi dihentikan," katanya.

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak  NERACA Bandung - DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi capaian pendapatan dari sektor…

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga NERACA Jakarta - Pemerintah melalui PT Inalum (Persero) resmi memiliki 51…

Ketua MPR RI - Indonesia Kuat Jika Bangsanya Bersatu

Zulkifli Hasan Ketua MPR RI Indonesia Kuat Jika Bangsanya Bersatu Jakarta - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan negara Indonesia…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…