Sistem Logistik Indonesia Masih Perlu Dibenahi - Jangan Puas Naik Peringkat

NERACA

Jakarta - Tingginya biaya logistik dan pelayanan yang belum memuaskan sehingga mempengaruhi daya saing dunia usaha nasional di pasar global. Walaupun kinerja logistik nasional secara gradual mengalami perbaikan namun belum menggembirakan. Indonesia adalah negara yang sangat penting karena 45% GDP (Gross Domestic Product) ASEAN merupakan kontribusi dari Indonesia, sehingga diperlukan pembenahan teknologi, standarisasi dan kompatibilitas, energi, keamanan, serta penyelesaian bottleneck.

Bank Dunia mengumumkan logistic performance index (LPI) Indonesia tahun ini naik peringkat dari posisi 75 di tahun 2010 ke posisi 59. Meski begitu, Indonesia jangan puas dulu, karena posisi tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi LPI tahun 2007. Faktanya, melihat kondisi infrastruktur pelabuhan, bandar udara, jalan, dan jalur kereta api dinilai masih kurang memadai untuk mendukung kelancaran lalu lintas logistik.

“Sistem transportasi intermoda ataupun multimoda belum dapat berjalan dengan baik, karena akses transportasi dari sentra-sentra produksi ke pelabuhan dan bandara belum dapat berjalan lancar yang disebabkan belum optimalnya infrastruktur pelabuhan dan bandara tersebut, sehingga menyebabkan kualitas pelayanan menjadi rendah dan tarif jasa menjadi mahal,” ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur di Menara Kadin, Selasa (26/6).

Revitalisasi Angkutan

Kadin pun berencana menyiapkan anggaran untuk melakukan revitalisasi angkutan penunjang logistik senilai Rp53 triliun, dana tersebut diperkirakan akan diperoleh dari perusahaan anggota Kadin Indonesia bidang logistik. Selain itu, investasi sebesar Rp25 triliun untuk pembangunan fasilitas penunjang logistik, seperti akses jalan tol, pembangunan terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) di Tanjung Priok, pembangunan penyimpanan komoditas pangan serta dry port di berbagai daerah. “Proyek tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2015,” jelas Natsir.

Sementara, PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) akan membangun pelabuhan baru di Pulau Tanjung Sawuh, Batam sebagai pelabuhan bongkar muat seperti Tanjung Priok, Jakarta. Menurut Presiden Direktur Pelindo II RJ Lino, pembangunan pelabuhan tersebut nantinya akan melibatkan investor asal China yaitu China Merchant. "Kami akan menandatangani MoU (nota kesepahaman) dalam waktu dekat," ungkapnya.

Pelabuhan ini, menurut dia, dapat membuat proses pembelian iron ore dari Brasil lebih mudah dan murah. Lino mencontohkan, selama ini, PT Krakatau Steel Tbk membeli iron ore dengan menggunakan kapal kecil ke Brasil. "Tentunya, dengan adanya pelabuhan ini, nanti akan ada kapal ukuran besar yang singgah dan Krakatau Steel tinggal mengangkut saja dari Batam," katanya.

Ongkos Murah

Lino melanjutkan, upaya tersebut akan membuat ongkos dan harga yang didapatkan oleh produk dalam negeri semakin murah dan efisien. Namun, Lino belum bisa mengungkapkan secara pasti berapa nilai investasi yang disiapkan perseroan untuk membangun terminal tersebut. Secara kasar, nilainya diperkirakan melebihi Rp20 triliun. "Mungkin pelabuhan Batam ini akan mulai beroperasi sekitar 2015-2016," tuturnya. Pelabuhan itu diperkirakan mulai dibangun tahun depan.

Selain itu, rencana pembangunan pelabuhan peti kemas di Pulau Tanjungsauh, Batam diperkirakan membutuhkan dana investasi hampir Rp7 triliun. Lino mengatakan, dana itu untuk keperluan pembangunan fisik sekitar Rp4 triliun dan pengadaan peralatan sekitar Rp3 triliun.

Namun demikian, PT Pelindo II menurut Lino belum dapat mewujudkannya sebelum kejelasan status lahan Pulau Tanjungsauh masuk kawasan Free Trade Zone (FTZ). Pelindo II sendiri menurut dia butuh waktu untuk menyelesaikan pembangunan pelabuhan transhipment peti kemas tersebut dalam waktu dua tahun dan bisa dimulai tahun depan. Lino juga mengklaim kapasitas tampung di pelabuhan ini capai 4 juta TEUs.

BERITA TERKAIT

Lemhannas Perlu Bersinergi dengan Media Tangkal Hoaks

Lemhannas Perlu Bersinergi dengan Media Tangkal Hoaks NERACA Jakarta - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI perlu bersinergi dengan media untuk…

Japnas: Produk Lokal Perlu Dukungan Pemkot Bandung

Japnas: Produk Lokal Perlu Dukungan Pemkot Bandung NERACA Bandung - Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) menyatakan para pengusaha di level mikro…

Mengurangi Tekanan Rupiah, Surplus Perdagangan Perlu Dijaga

        NERACA   Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya meminta pemerintah terus meningkatkan surplus neraca perdagangan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…