Mengintip Sejarah Franchise

NERACA

Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya.

Waralaba diperkenalkan pertama kali pada 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS.

Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama pada l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua.

Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis di berbagai bidang usaha, mencapai 35% dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS.

Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J.Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 1960-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama.

Di Amerika Serikat sendiri, Franchise mengalami booming pada 1960-70-an setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2. Pada saat itu, banyak terjadi praktik penipuan bisnis yang mengaku sebagai franchise, salah satunya dengan cara menjual sistem bisnis franchise yang ternyata belum teruji keberhasilannya di lapangan.

Selain itu, franchisor pun lebih fokus untuk menjual franchise milik mereka dibandingkan dengan membangun dan menyempurnakan sistem bisnis franchisenya. Banyak investor baru yang gagal oleh modus seperti ini, hal ini menjadi salah satu pendorong terbentuknya IFA (International Franchise Association) pada 1960.

Salah satu tujuan didirikannya IFA adalah untuk menciptakan iklim industri bisnis franchise yang dapat dipercaya, oleh karenanya IFA menciptakan kode etik franchise sebagai pedoman bagi anggota-anggotanya. Walau begitu, kode etik franchise masih perlu didukung oleh perangkat hukum agar dapat memastikan para pihak dalam industri ini terlindungi.

Pada 1978, Federal Trade Commission (FTC) mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap franchisor yang akan memberikan penawaran peluang waralaba kepada publik untuk memiliki UFOC (Uniform Franchise Offering Circular).

UFOC adalah dokumen yang berisi informasi lengkap mengenai peluang bisnis franchise yang ditawarkan, seperti: sejarah bisnis, pengelola, hal yang berkaitan dengan hukum, prakiraan investasi, deskripsi konsep bisnis, dan salinan dari perjanjian franchise.

Selain itu daftar nama, alamat dan nomor telepon dari pemilik franchise adalah informasi yang diwajibkan. UFOC bertujuan untuk menyampaikan informasi yang cukup mengenai perusahaan untuk membantu calon franchisee dalam mengambil keputusan.

Sedangkan pertumbuhan franchise di Indonesia berawal dari masuknya waralaba asing pada tahun 1980-90an. KFC, McDonalds, Burger King, Wendys adalah sebagian dari jejaring waralaba asing yang masuk ke Indonesia pada awal-awal berkembangnya franchise di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan waralaba lokal pun mulai bertumbuhan pada masa itu, salah satunya adalah yang termasuk pelopor waralaba lokal yaitu Es Teler 77.

Pada 1991 berdiri Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) sebagai wadah yang menaungi pewaralaba dan terwaralaba. Diharapkan dengan berdirinya AFI ini dapat tercipta industri waralaba yang kuat dan dapat menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang berbasiskan usaha kecil dan menengah.

Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima di berbagai belahan dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.

Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba

Di Indonesia, sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekadar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya.

Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang.

BERITA TERKAIT

PRODUKSI TENUN LOKAL SEJARAH KOPERASI

Pekerja menyelesaikan pembuatan kain tenun menggunakan mesin manual produksi tahun 1949 di Pusat Koperasi Tasikmalaya, Jalan Dr M Hatta, Kota…

M Cash Jajaki Kerjasama Franchise di 2018 - Genjot Pertumbuhan 10 Ribu Kios

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar hasil penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), membuat PT M Cash…

Menilik Latar Belakang Sejarah G30S/PKI

  Oleh: Aditya Prananda, Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP-UI Gerakan 30 September PKI atau yang dikenal dengan G30S/PKI merupakan sebuah peristiwa yang…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…